Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kenaikan Permukaan Laut Lebih Tinggi dari Dugaan, Jutaan Orang Terancam

Kompas.com, 5 Maret 2026, 17:42 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim dapat mengancam puluhan juta orang lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya oleh para ilmuwan dan pemerintah.

Hal ini terjadi karena adanya kekeliruan dalam asumsi penelitian mengenai seberapa tinggi permukaan air laut saat ini, menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Nature.

Melansir Phys, Rabu (4/3/2026) dalam studi tersebut peneliti mempelajari ratusan studi ilmiah dan penilaian risiko. Studi juga menghitung bahwa sekitar 90 persen di antaranya meremehkan ketinggian dasar air pesisir dengan rata-rata 30 sentimeter.

Masalah tersebut lebih sering terjadi di wilayah Global South atau negara berkembang, kawasan Pasifik, dan Asia Tenggara, namun lebih jarang ditemukan di Eropa dan sepanjang pesisir Atlantik.

Baca juga: Pembatasan Emisi Sebelum 2050 Cegah Kenaikan Permukaan Laut 0,6 Meter

Ketidaksesuaian Pengukuran

Philip Minderhoud, seorang profesor hidrologi di Universitas Wageningen & Riset di Belanda mengungkapkan penyebabnya adalah ketidaksesuaian antara cara pengukuran ketinggian laut dan daratan.

Setiap metode mengukur areanya masing-masing dengan benar, ujarnya. Namun, di titik di mana laut bertemu daratan, terdapat banyak faktor yang sering kali tidak diperhitungkan ketika satelit dan model berbasis daratan digunakan.

"Studi yang menghitung dampak kenaikan permukaan laut biasanya tidak melihat ketinggian permukaan laut yang terukur secara aktual, sehingga mereka menggunakan angka nol meter sebagai titik awal," kata penulis utama Katharina Seeger dari Universitas Padua, Italia.

Di beberapa tempat di wilayah Indo-Pasifik, angka itu mendekati 1 meter.

Cara sederhana untuk memahaminya adalah bahwa banyak penelitian mengasumsikan permukaan laut dalam kondisi tenang tanpa ombak atau arus.

Padahal, kenyataannya di tepi pantai, lautan terus bergejolak akibat angin, pasang surut, arus, perubahan suhu, dan fenomena seperti El Niño.

Orang yang Berisiko

Studi ini menunjukkan bahwa jika kita menggunakan hitungan ketinggian laut yang lebih tepat, dampaknya ternyata jauh lebih besar.

Jika air laut naik 1 meter di akhir abad ini, luas daratan yang tenggelam bisa bertambah hingga 37 persen. Akibatnya, ada 77 juta hingga 132 juta orang tambahan yang terancam bahaya.

Baca juga: Permukaan Laut Greenland Turun Saat Emisi Tinggi, Kok Bisa?

Hal ini akan memicu masalah dalam perencanaan dan pembiayaan dampak dari pemanasan global.

Asia Tenggara sendiri di sebut memiliki jumlah orang terbanyak yang terancam oleh kenaikan permukaan laut.

"Kenaikan permukaan laut tidak sekadar mengubah garis pantai kita, tapi mengubah hidup kita sepenuhnya. Kita tidak sedang membicarakan masa depan. Kita sedang membicarakan saat ini juga," kata Thompson Natuoivi, seorang advokat iklim untuk Save the Children Vanuatu.

Di sisi lain peneliti lain menganggap hasil studi ini terlalu membesar-besarkan masalah.

"Saya pikir mereka sedikit melebih-lebihkan implikasinya terhadap studi dampak. Masalah ini sebenarnya sudah dipahami dengan baik, meskipun ditangani dengan cara yang mungkin bisa diperbaiki," kata Gonéri Le Cozannet, seorang ilmuwan di survei geologi Prancis.

Menurutnya, sebagian besar pemerintah mengetahui masalah pesisir mereka dan merencanakan sesuai dengan itu.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau