KOMPAS.com - Kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim dapat mengancam puluhan juta orang lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya oleh para ilmuwan dan pemerintah.
Hal ini terjadi karena adanya kekeliruan dalam asumsi penelitian mengenai seberapa tinggi permukaan air laut saat ini, menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Nature.
Melansir Phys, Rabu (4/3/2026) dalam studi tersebut peneliti mempelajari ratusan studi ilmiah dan penilaian risiko. Studi juga menghitung bahwa sekitar 90 persen di antaranya meremehkan ketinggian dasar air pesisir dengan rata-rata 30 sentimeter.
Masalah tersebut lebih sering terjadi di wilayah Global South atau negara berkembang, kawasan Pasifik, dan Asia Tenggara, namun lebih jarang ditemukan di Eropa dan sepanjang pesisir Atlantik.
Baca juga: Pembatasan Emisi Sebelum 2050 Cegah Kenaikan Permukaan Laut 0,6 Meter
Philip Minderhoud, seorang profesor hidrologi di Universitas Wageningen & Riset di Belanda mengungkapkan penyebabnya adalah ketidaksesuaian antara cara pengukuran ketinggian laut dan daratan.
Setiap metode mengukur areanya masing-masing dengan benar, ujarnya. Namun, di titik di mana laut bertemu daratan, terdapat banyak faktor yang sering kali tidak diperhitungkan ketika satelit dan model berbasis daratan digunakan.
"Studi yang menghitung dampak kenaikan permukaan laut biasanya tidak melihat ketinggian permukaan laut yang terukur secara aktual, sehingga mereka menggunakan angka nol meter sebagai titik awal," kata penulis utama Katharina Seeger dari Universitas Padua, Italia.
Di beberapa tempat di wilayah Indo-Pasifik, angka itu mendekati 1 meter.
Cara sederhana untuk memahaminya adalah bahwa banyak penelitian mengasumsikan permukaan laut dalam kondisi tenang tanpa ombak atau arus.
Padahal, kenyataannya di tepi pantai, lautan terus bergejolak akibat angin, pasang surut, arus, perubahan suhu, dan fenomena seperti El Niño.
Studi ini menunjukkan bahwa jika kita menggunakan hitungan ketinggian laut yang lebih tepat, dampaknya ternyata jauh lebih besar.
Jika air laut naik 1 meter di akhir abad ini, luas daratan yang tenggelam bisa bertambah hingga 37 persen. Akibatnya, ada 77 juta hingga 132 juta orang tambahan yang terancam bahaya.
Baca juga: Permukaan Laut Greenland Turun Saat Emisi Tinggi, Kok Bisa?
Hal ini akan memicu masalah dalam perencanaan dan pembiayaan dampak dari pemanasan global.
Asia Tenggara sendiri di sebut memiliki jumlah orang terbanyak yang terancam oleh kenaikan permukaan laut.
"Kenaikan permukaan laut tidak sekadar mengubah garis pantai kita, tapi mengubah hidup kita sepenuhnya. Kita tidak sedang membicarakan masa depan. Kita sedang membicarakan saat ini juga," kata Thompson Natuoivi, seorang advokat iklim untuk Save the Children Vanuatu.
Di sisi lain peneliti lain menganggap hasil studi ini terlalu membesar-besarkan masalah.
"Saya pikir mereka sedikit melebih-lebihkan implikasinya terhadap studi dampak. Masalah ini sebenarnya sudah dipahami dengan baik, meskipun ditangani dengan cara yang mungkin bisa diperbaiki," kata Gonéri Le Cozannet, seorang ilmuwan di survei geologi Prancis.
Menurutnya, sebagian besar pemerintah mengetahui masalah pesisir mereka dan merencanakan sesuai dengan itu.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya