Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis

Kompas.com, 7 Maret 2026, 22:08 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com-Hampir setengah satwa liar yang bermigrasi dan yang dipantau dalam perjanjian global Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS) kini terus berkurang populasinya. Selain itu persentase spesies yang menghadapi kepunahan kembali merangkak naik.

Laporan pembaruan State of the World’s Migratory Species sementara pun memperingatkan bahwa tren ini semakin memburuk hanya dalam kurun waktu beberapa tahun, meski ada beberapa keberhasilan pemulihan.

Melansir Earth, Jumat (6/3/2026) hewan migran bukanlah bagian kecil atau sampingan dari keanekaragaman hayati. Mereka ada di mana-mana, dan mereka menjalankan peran yang sangat penting saat mereka berpindah tempat.

Misalnya saja, burung menyerbuki tanaman dan mengendalikan hama. Ikan dan mamalia laut membantu menjaga agar jaring makanan laut tetap berfungsi. Kawanan hewan di darat memindahkan nutrisi dan membentuk bentang alam.

Baca juga: Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia

Secara keseluruhan, hewan-hewan ini mendukung mata pencaharian, budaya, dan ekosistem yang bergantung pada manusia.

Masalah terbesar hewan-hewan ini justru ada pada kebiasaan mereka sendiri, yaitu bermigrasi. Karena berpindah tempat, mereka sangat bergantung pada banyak lokasi yang menyambung seperti mata rantai, mulai dari rawa, muara sungai, pegunungan, hingga lautan luas.

Jika satu tempat saja rusak, seluruh rute perjalanan mereka bisa hancur. Itulah sebabnya melindungi mereka sangat sulit.

Satu negara bisa saja sudah menjaga alamnya dengan sangat baik, tapi tetap akan kehilangan hewan-hewan ini jika wilayah lain di rute perjalanan mereka sudah rusak atau berbahaya.

Penurunan populasi hewan migran

Pembaruan laporan sementara menyebutkan bahwa 49 persen populasi spesies migran yang dilindungi dalam perjanjian Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS) kini terus berkurang. Angka ini lima persen lebih buruk dibandingkan data dasar dari dua tahun lalu.

Laporan itu juga menyatakan bahwa 24 persen spesies kini menghadapi ancaman kepunahan, alami kenaikan sebesar dua persen.

Salah satu contohnya adalah burung pantai. Laporan terbaru ini mencatat bahwa 26 spesies yang terdaftar dalam perjanjian telah naik ke kategori risiko kepunahan yang lebih tinggi, termasuk di antaranya 18 spesies burung pantai migran.

Laporan ini juga mengidentifikasi 9.372 Area Kunci Keanekaragaman Hayati (KBA) yang sangat penting bagi spesies migran dalam perjanjian tersebut.

Namun, 47 persen dari total wilayah KBA ini ternyata tidak termasuk dalam area yang dilindungi atau dilestarikan.

Hal tersebut menggambarkan bahwa kita semakin pintar dalam mengetahui ke mana hewan-hewan itu pergi, tetapi kita belum konsisten mengubah pengetahuan tersebut menjadi tindakan perlindungan nyata.

Penyebab penurunan populasi

Sekretaris Eksekutif Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS) Amy Fraenkel mengungkapkan ada dua pendorong terbesar dalam penurunan populasi hewan migran yakni eksploitasi berlebihan, serta hilangnya dan fragmentasi habitat.

Baca juga: Kontaminasi Bahan Kimia dari Plastik Bikin Perilaku Hewan Laut Berubah

Beberapa spesies memang mulai menunjukkan respons positif terhadap aksi konservasi yang terpadu, namun masih terlalu banyak spesies yang terus menghadapi tekanan yang kian meningkat di sepanjang rute migrasi mereka. Kita pun harus menanggapi bukti-bukti ini dengan aksi internasional yang terkoordinasi dan efektif.

Laporan tersebut menyatakan bahwa tindakan nyata diperlukan untuk semua spesies migran. Namun mereka menandai spesies dalam Appendix I sebagai yang paling mendesak untuk ditangani.

Ini adalah spesies-spesies yang dianggap terancam punah di seluruh atau sebagian besar wilayah jelajahnya. Ada 188 spesies di dalamnya, termasuk mamalia darat, mamalia air, burung, reptil, hingga ikan.

Negara-negara yang menjadi wilayah jelajah bagi spesies dalam Appendix I diwajibkan untuk memberikan perlindungan ketat.

Hal ini mencakup pelarangan segala bentuk pengambilan satwa, seperti perburuan atau penangkapan, perlindungan dan pemulihan habitat penting, serta penghapusan hambatan yang menghalangi jalur migrasi.

“Dengan memperkuat tata kelola, pemantauan, legislasi, dan keterlibatan masyarakat di hulu, kita dapat mengurangi tekanan pada hewan-hewan luar biasa ini dan menempatkan mereka pada jalur pemulihan yang berkelanjutan,” tambah Fraenkel.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Pemerintah
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Swasta
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau