Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil

Kompas.com, 19 Maret 2026, 09:18 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut konflik AS-Israel vs Iran menjadi pelajaran penting betapa rentannya dunia akibat ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Diketahui, perang antar negara tersebut menyebabkan harga minyak dunia naik.

Sekretaris Eksekutif badan PBB untuk perubahan iklim (UNFCCC), Simon Stiell, mencatat Uni Eropa telah merasakan dampaknya melalui lonjakan harga energi global. Harga gas di Eropa melonjak hingga 50 persen selama perang dua pekan itu.

"Ketergantungan pada bahan bakar fosil merampas keamanan dan kedaulatan nasional, dan menggantinya dengan kepatuhan serta naiknya biaya. Eropa lebih bergantung pada impor bahan bakar fosil dibandingkan negara ekonomibesar lainnya," ungkap Stiell dilansir dari Reuters, Senin (13/3/2026).

Baca juga: Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Momentum Indonesia Percepat Penggunaan BBM Bersih

Uni Eropa sendiri mengimpor lebih dari 90 persen minyak dan 80 persen kebutuhan gas. Karenanya, para pemimpin negara Uni Eropa bergegas menyusun langkah darurat guba melindungi konsumen dari lonjakan harga energi.

Selain itu, menghindari terulangnya krisis energi Eropa seperti tahun 2022, ketika Rusia memangkas ekspor gas yang menyebabkan harga naik ke rekor tertinggi.

Komisi Eropa menyatakan, strategi perubahan iklim dalam jangka panjang untuk mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan serta nuklir yang diproduksi secara lokal.

Sehingga, dapat menjamin keamanan energi negara anggota, dan membebaskan mereka dari fluktuasi harga bahan bakar yang tidak menentu.

Stiell berpandangan, peralihan ke sumber energi terbarukan seperti tenaga angin dan surya membantu setiap negara mendapatkan energi yang lebih murah, lapangan kerja di industri teknologi bersih, hingga keamanan pasokan energi bersih.

Baca juga: Sektor Energi Sumbang 75 Persen Emisi Global, Ini Pentingnya Transparansi Data di Indonesia

"Energi terbarukan mengubah keadaan. Sinar matahari tidak lagi bergantung pada selat pelayaran yang sempit dan rawan," ucap dia.

Mengutip laman resmi PBB, energi terbarukan akan melampaui batu bara sebagai sumber listrik utama dunia pada 2025, dengan lebih dari 2 triliun dollar AS (Rp 33,9 kuadriliun) diinvestasikan dalam energi bersih dua kali lipat dari bahan bakar fosil.

Sebagai pemimpin dalam aksi dan ambisi iklim, keputusan Eropa menjalankan Skema Perdagangan Emisi, mendorong investasi dan inovasi, dengan perusahaan-perusahaan di dunia berada di garis depan industri bersih dan pertumbuhan.

“Eropa dapat secara permanen merebut tambang emas investasi multi-triliun euro yang baru saja dimulai dengan merangkul pertumbuhan hijau, memanfaatkan berbagai kekuatan termasuk pendidikan, lembaga yang kuat, regulasi yang cerdas, keadilan sosial dan inovasi serta kekayaan intelektual, dan dengan mendukungnya dengan rencana dan kebijakan," papar Steill.

Harga Minyak Naik 

Diberitakan Kompas.com, harga minyak dunia melonjak pada Minggu (15/3/2026) waktu setempat atau Senin (16/3/2026) pagi, di tengah meningkatnya ketegangan perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang telah memasuki pekan ketiga.

Lonjakan harga minyak terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang infrastruktur ekspor minyak Iran di Pulau Kharg. Harga minyak mentah AS sempat menembus 100 dollar AS (Rp 1,69 juta) per barel sebelum turun tipis dan diperdagangkan di sekitar 98,9 dollar AS (1,67 juta) per barel pada pukul 22.28 waktu setempat.

https://money.kompas.com/read/2026/03/16/112729726/harga-minyak-dunia-naik-usai-trump-ancam-serang-fasilitas-ekspor-iran

Sementara itu, harga minyak Brent crude oil sebagai acuan internasional naik 1,2 persen menjadi 104,2 dollar AS (Rp 1,76 juta) per barel.

https://www.reuters.com/sustainability/cop/iran-war-an-abject-lesson-fossil-fuel-dependence-un-climate-chief-says-2026-03-16/ 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau