Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena "Sticky Floor", Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja

Kompas.com, 19 Maret 2026, 15:27 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sticky floor atau lantai lengket menggambarkan bagaimana perempuan dan minoritas sulit naik jabatan di dunia kerja, meski memiliki potensi besar. Mereka terjebak di posisi tingkat pemula, administratif, atau pendukung saja.

Istilah ini digunakan untuk menjelaskan situasi ketika pekerja sebenarnya ingin berkembang dan naik ke posisi yang lebih tinggi, tetapi berbagai hambatan membuat mereka tetap berada di tingkat bawah dalam struktur organisasi.

“Menurut penelitian, pria cenderung memiliki kemajuan karier yang stabil dibandingkan wanita yang bergerak lebih lambat dan kemudian cenderung turun kembali ke posisi semula. Dengan cara ini, wanita cenderung tetap berada atau kembali ke peran pekerjaan terendah," ujar Manajer Operasi Senior AWS, Roshana Cole dilansir dari Cio Afrika, Kamis (19/3/2026).

Baca juga: Hukum Kesetaraan Kerja Perempuan Baru Diterapkan Separuhnya

Efek tersebut berbanding terbalik dengan istilah Springboard, dengan pria pria terus maju ke posisi yang lebih baik, menggunakan peran tingkat awal mereka untuk melesat dalam karier.

Dalam penelitiannya, Cole menemukan bagi perempuan di bidang teknologi terutama di Afrika, hambatan terbesar bukan hanya di puncak melainkan pada tahap awal.

Cole menceritakan, ketika pertama kali bekerja di bidang jaringan dia menjadi satu-satunya perempuan dalam tim. Dia juga pernah ditugaskan memberi label kabel di bawah lantai karena dianggap lebih mudah masuk ke ruang sempit tersebut.

Menurutnya, pengalaman itu mencerminkan sticky floor yakni hambatan yang sering tidak terlihat tetapi menyebabkan perempuan sulit berkembang. Bahkan setelah mendapatkan promosi, Cole masih diremehkan.

"(Mereka menyebut) 'Dia hanya karyawan yang dipekerjakan karena keberagaman', begitulah yang sering terdengar," tutur Cole.

Baca juga: Pekerja Lebih Prioritaskan Remote Working Dibanding Gaji dan Tunjangan

Alhasil, Cole harus membuktikan dirinya sampai harus menunda kehamilan kala itu.

Data Survei Nilai Dunia UNDP yang mencakup sekitar 81 persen populasi dunia menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat di banyak negara masih memiliki pandangan yang bias terhadap kepemimpinan perempuan.

Sebanyak 50 persen responden percaya laki-laki lebih cocok menjadi pemimpin politik dibandingkan perempuan. Sementara, lebih dari 40 persen di antaranya menilai laki-laki lebih pantas menjadi eksekutif bisnis.

Penelitian lainnya menunjukkan, banyak pekerja di posisi awal tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk terlibat dalam proyek penting, program pengembangan kepemimpinan, atau jaringan profesional yang bisa membantu kemajuan karier.

Di samping itu, faktor ekonomi bisa menghambat lantaran sebagian pekerja tidak mampu mengikuti pelatihan tambahan, konferensi industri, hingga program magang yang bisa membuka peluang karier lebih baik.

Cole mencatat, pembagian tugas yang kaku sering kali membuat pekerja di posisi pendukung sulit berpindah ke bidang lain atau menunjukkan kemampuan mereka di luar peran awal. Oleh karenanya, perusahaan dinilai perlu membuat sistem promosi yang lebih transparan dan adil.

“Perempuan tidak harus memimpin seperti laki-laki untuk memimpin di bidang teknologi. Anda tidak harus bersikap keras untuk diterima, lantainya mungkin lengket, tetapi Anda tidak terjebak," sebut Cole.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau