KOMPAS.com - Sticky floor atau lantai lengket menggambarkan bagaimana perempuan dan minoritas sulit naik jabatan di dunia kerja, meski memiliki potensi besar. Mereka terjebak di posisi tingkat pemula, administratif, atau pendukung saja.
Istilah ini digunakan untuk menjelaskan situasi ketika pekerja sebenarnya ingin berkembang dan naik ke posisi yang lebih tinggi, tetapi berbagai hambatan membuat mereka tetap berada di tingkat bawah dalam struktur organisasi.
“Menurut penelitian, pria cenderung memiliki kemajuan karier yang stabil dibandingkan wanita yang bergerak lebih lambat dan kemudian cenderung turun kembali ke posisi semula. Dengan cara ini, wanita cenderung tetap berada atau kembali ke peran pekerjaan terendah," ujar Manajer Operasi Senior AWS, Roshana Cole dilansir dari Cio Afrika, Kamis (19/3/2026).
Baca juga: Hukum Kesetaraan Kerja Perempuan Baru Diterapkan Separuhnya
Efek tersebut berbanding terbalik dengan istilah Springboard, dengan pria pria terus maju ke posisi yang lebih baik, menggunakan peran tingkat awal mereka untuk melesat dalam karier.
Dalam penelitiannya, Cole menemukan bagi perempuan di bidang teknologi terutama di Afrika, hambatan terbesar bukan hanya di puncak melainkan pada tahap awal.
Cole menceritakan, ketika pertama kali bekerja di bidang jaringan dia menjadi satu-satunya perempuan dalam tim. Dia juga pernah ditugaskan memberi label kabel di bawah lantai karena dianggap lebih mudah masuk ke ruang sempit tersebut.
Menurutnya, pengalaman itu mencerminkan sticky floor yakni hambatan yang sering tidak terlihat tetapi menyebabkan perempuan sulit berkembang. Bahkan setelah mendapatkan promosi, Cole masih diremehkan.
"(Mereka menyebut) 'Dia hanya karyawan yang dipekerjakan karena keberagaman', begitulah yang sering terdengar," tutur Cole.
Baca juga: Pekerja Lebih Prioritaskan Remote Working Dibanding Gaji dan Tunjangan
Alhasil, Cole harus membuktikan dirinya sampai harus menunda kehamilan kala itu.
Data Survei Nilai Dunia UNDP yang mencakup sekitar 81 persen populasi dunia menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat di banyak negara masih memiliki pandangan yang bias terhadap kepemimpinan perempuan.
Sebanyak 50 persen responden percaya laki-laki lebih cocok menjadi pemimpin politik dibandingkan perempuan. Sementara, lebih dari 40 persen di antaranya menilai laki-laki lebih pantas menjadi eksekutif bisnis.
Penelitian lainnya menunjukkan, banyak pekerja di posisi awal tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk terlibat dalam proyek penting, program pengembangan kepemimpinan, atau jaringan profesional yang bisa membantu kemajuan karier.
Di samping itu, faktor ekonomi bisa menghambat lantaran sebagian pekerja tidak mampu mengikuti pelatihan tambahan, konferensi industri, hingga program magang yang bisa membuka peluang karier lebih baik.
Cole mencatat, pembagian tugas yang kaku sering kali membuat pekerja di posisi pendukung sulit berpindah ke bidang lain atau menunjukkan kemampuan mereka di luar peran awal. Oleh karenanya, perusahaan dinilai perlu membuat sistem promosi yang lebih transparan dan adil.
“Perempuan tidak harus memimpin seperti laki-laki untuk memimpin di bidang teknologi. Anda tidak harus bersikap keras untuk diterima, lantainya mungkin lengket, tetapi Anda tidak terjebak," sebut Cole.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya