Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pekerja Lebih Prioritaskan Remote Working Dibanding Gaji dan Tunjangan

Kompas.com, 15 Maret 2026, 20:26 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber FlexJobs

KOMPAS.com - Pekerja disebut lebih memprioritaskan bekerja jarak jauh (remote working) daripada gaji dan tunjangan, menurut laporan State of the Workplace 2026 dari FlexJobs, perusahaan penyedia pekerjaan jarak jauh.

Temuan dari laporan itu diperoleh dari survei terhadap lebih dari 4.000 profesional Amerika Serikat (AS) selama pada Februari 2025, tepatnya dari Minggu (2/2/2025) sampai Minggu (16/2/2025).

Baca juga:

Pekerja prioritaskan remote working dibanding gaji

Jadi faktor penting saat memilih pekerjaan baru

Sebesar 35 persen responden survei menyatakan, kerja jarak jauh atau fleksibel menjadi faktor penentu terpenting saat mempertimbangkan pekerjaan baru, dilansir dari laman resmi FlexJobs, Sabtu (14/3/2026).

Persentase tersebut disusul dengan sekitar 33 persen responden menyebut gaji dan tujuangan hidup, lalu 17 persen menyebut keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan (work-life balance), serta lima persen menyebutkan budaya dan nilai perusahaan.

Selanjutnya, ada lima persen responden menyebutkan keamanan kerja, empat persen menyebutkan peluang pengembangan karir, serta kurang dari satu persen menyebutkan  membangun keterampilan yang tahan terhadap AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan).

Padahal, selama bertahun-tahun, gaji disebut menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan pekerjaan dan karier.

Kerja jarak jauh menjadi tren saat pandemi Covid-19 memicu keadaan darurat nasional. Ancaman penularan virus menyebabkan banyak karyawan dipulangkan, bekerja jarak jauh, dipaksa cuti sementara, atau bahkan diberhentikan sepenuhnya.

Meski pandemi Covid-19 telah berlalu, dampak jangka panjang dari pembatasan sosial (lockdown) telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan pada angkatan kerja global.

Baca juga:

Pekerja disebut lebih memprioritaskan bekerja jarak jauh (remote working) daripada gaji dan tunjangan.SHUTTERSTOCK/ZEPHYR_P Pekerja disebut lebih memprioritaskan bekerja jarak jauh (remote working) daripada gaji dan tunjangan.

Untuk pertama kalinya, para profesional merasakan seperti apa sebenarnya 'keseimbangan kerja-hidup' dan fleksibilitas itu. Gagasan kerja jarak jauh, yang dianggap hampir mustahil sebelum tahun 2020, kini telah menjadi topik hangat dekade ini dan hanya dikalahkan oleh booming AI.

Dilansir dari Forbes, temuan laporan tersebut memperingatkan para pemimpin dan manajer perusahaan untuk beradaptasi dengan cara kerja baru. Jika tidak mampu beradaptasi, maka para pemimpin dan manajer perusahaan harus bersiap melepaskan talenta-talenta mereka.

Siap pindah kantor

Temuan lain dari laporan tersebut adalah mayoritas pekerja siap untuk pindah "kantor" jika kesempatan yang tepat muncul.

Pindah "kantor" tetap menjadi tren utama tahun 2026. Sekitar 79 persen responden mengaku lebih cenderung menerima pekerjaan baru dibandingkan setahun yang lalu.

Sementara itu, sekitar 66 persen responden telah mengubah atau mempertimbangkan untuk mengubah bidang karir dalam setahun terakhir.

Lalu, 41 persen reseponden melaporkan baru-baru ini mengundurkan diri atau sedang mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan mereka.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau