KOMPAS.com - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ketika polusi berkurang, tanaman mengalami kerusakan lebih sedikit dan bisa menghasilkan lebih banyak makanan.
Efek ini membantu meringankan beban krisis pangan dan mengurangi risiko kelaparan bagi jutaan orang di seluruh dunia.
Ini merupakan hasil studi yang dilakukan para peneliti National Institute for Environmental Studies (NIES).
Lalu mengapa bisa demikian?
Melansir Earth, Rabu (18/3/2026) energi yang lebih bersih serta pengurangan asap kendaraan dan cerobong pabrik juga mengurangi gas yang memicu terbentuknya ozon di permukaan tanah.
Saat paparan ozon pada daun tanaman berkurang, kerusakan daun pun ikut berkurang, sehingga tanaman bisa tumbuh lebih maksimal dan menghasilkan lebih banyak makanan.
Baca juga: Tanaman Bisa Berhenti Tumbuh Sementara agar Tetap Hidup Saat Cuaca Ekstrem
Peningkatan hasil panen berkat udara bersih ini berhasil menurunkan harga pangan dan menambah ketersediaan makanan, terutama untuk tanaman yang sangat peka terhadap polusi ozon.
Pada tahun 2050, 'bonus' dari udara bersih ini diperkirakan mampu mencegah sekitar 8,4 juta kasus kelaparan baru, atau setara dengan pengurangan sekitar 15 persen.
Hasil tersebut disimpulkan setelah peneliti melakukan analisis terhadap enam model pertanian dan perdagangan global, serta kenaikan biaya pangan.
Meski udara bersih membantu tanaman, namun masih tetap ada tantangan lain yang harus dihadapi.
Sistem pangan masih harus menghadapi biaya produksi yang lebih mahal dan persaingan ketat dalam penggunaan lahan yang terus memicu kenaikan harga pangan.
Misalnya saja, aturan baru seperti pajak emisi membuat biaya pertanian menjadi lebih mahal. Di sisi lain lahan pertanian harus berebutan dengan penanaman pohon dan tanaman energi.
Gabungan kedua hal ini membuat biaya produksi naik dan stok makanan jadi makin sedikit.
Penelitian sebelumnya sudah memperingatkan bahwa tekanan pada lahan seperti ini bisa memicu kenaikan harga dan risiko kelaparan, dan penelitian terbaru ini membenarkan hal tersebut.
Baca juga: Agroforestri: Jembatan Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan
Pemerintah bisa membantu meringankan beban ini dengan meningkatkan hasil tani, mengurangi pemborosan makanan, dan menjaga agar lahan pertanian tidak habis dipakai untuk kepentingan lain.
Aturan yang mengurangi polusi dari energi dan kendaraan juga bisa memberikan keuntungan ganda yakni menekan pemanasan global sekaligus mengurangi kerusakan tanaman akibat ozon.
Dengan sudut pandang ini, urusan pangan bukan lagi masalah sampingan. Ketahanan pangan justru menjadi kunci utama penentu apakah upaya penyelamatan iklim benar-benar berhasil atau tidak.
Pada akhirnya, penelitian ini mengubah cara kita melihat aturan iklim sebagai tiga tantangan sekaligus yaitu menyeimbangkan suhu bumi, penggunaan lahan, dan polusi udara, bukan cuma fokus pada angka karbon saja.
Strategi ke depan akan jauh lebih berhasil jika udara bersih dianggap sebagai keuntungan nyata, dan risiko kelaparan dijadikan batasan utama dalam membuat aturan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya