Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Australia Pangkas 50 Persen Pajak BBM di Tengah Lonjakan Harga Minyak

Kompas.com, 30 Maret 2026, 20:36 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah Australia memutuskan untuk memangkas 50 persen pajak bahan bakar minyak (BBM) di tengah krisis energi yang terjadi imbas konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Harga minyak mentah kini melampaui 116 dollar AS (Rp 1.798.000) per barel.

Dalam konferensi pers di Canberra, Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyebut bahwa pajak bahan bakar akan dipotong setengah mulai 1 April hingga 30 Juni sebagai bentuk respons terhadap tekanan finansial akibat kenaikan harga energi.

Artinya, harga bensin di Australia turun 26,3 sen Australia (Rp 2.700) per liter sehingga pengendara bisa menghemat hampir 19 dollar (Rp 294.500) untuk tangki berkapasitas 65 liter.

Baca juga: Bahan Bakar Nabati di Indonesia Terhambat Lahan, Ini Solusi Lain Kurangi Impor BBM

“Kami memahami tekanan biaya yang dirasakan masyarakat sangat nyata, karena dampak perang di belahan dunia lain terasa hingga ke sini. Kami bertindak sekarang agar lebih siap menghadapi situasi," ungkap Albanese dilansir dari Al Jazeera, Senin (30/3/2026).

Dalam sepekan terakhir, harga rata-rata solar serta bensin di lima kota terbesar Australia masing-masing naik 10 persen dan 8 persen. Kendati Australia merupakan eksportir besar batu bara dan gas alam, negara ini masih mengimpor sekitar 80 persen kebutuhan bahan bakar olahannya dari luar negeri.

Pemerintah Australia juga bakal menangguhkan biaya untuk kendaraan berat selama tiga bulan.

Di sisi lain, Juru Bicara National Roads and Motorists’ Association, Peter Khoury, menilai kebijakan pemotongan pajak kemungkinan tidak akan banyak berdampak. Sebab, harga bensin telah naik sekitar 33 sen (Rp 10.000) per liter hanya dalam dua pekan.

Baca juga: Indonesia Bisa Andalkan EV untuk Ganti BBM, Apa Industrinya Sudah Siap?

“Bukan pajaknya yang membuat harga naik, tetapi harga minyak dunia. Ekonomi Australia bergantung pada solar, sebagian besar makanan dan layanan didistribusikan oleh kendaraan berat, dan semuanya menggunakan solar," jelas Khoury.

Ia menambahkan, pemotongan pajak serupa setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 hampir tidak terasa oleh pengendara kala itu.

“Saya rasa masyarakat sangat menginginkan perubahan, tetapi yang terjadi sebelumnya, dampaknya hampir tidak terasa di pom bensin,” imbuh dia.

Australia sejauh ini belum menerapkan kebijakan penghematan energi wajib seperti pembatasan bahan bakar atau kerja dari rumah. Pemerintahnya mengimbau masyarakat untuk menghindari konsumsi bahan bakar berlebihan.

Menteri Energi Australia, Chris Bowen sempat menyatakan bahwa lebih dari 500 SPBU sempat kehabisan setidaknya satu jenis bahan bakar akibat aksi panic buying di seluruh negeri.

Bowen menegaskan, pasokan energi Australia tetap aman dengan semua pengiriman bahan bakar berjalan sesuai jadwal.

Negara tersebut memiliki cadangan darurat sekitar 39 hari untuk bensin, serta masing-masing sekitar 30 hari untuk solar dan bahan bakar pesawat.

Sinyal Perang Berakhir? 

Diberitakan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengklaim Iran telah menyetujui sebagian besar tuntutan Washington untuk mengakhiri perang, meski belum jelas apakah kedua pihak benar-benar sedang bernegosiasi. Trump menyebut, dari 15 poin tuntutan yang diajukan kepada Teheran, sebagian besar telah dipenuhi.

“Mereka memberikan sebagian besar poin kepada kami. Kenapa tidak?” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One, Minggu (30/3/2026) dikutip dari Bloomberg.

Dia menuturkan, AS masih akan mengajukan beberapa tuntutan tambahan, tetapi tidak merinci konsesi apa saja yang telah diberikan Iran.

Berkebalikan dengan klaim Trump, Iran secara terbuka menolak daftar 15 syarat gencatan senjata yang disampaikan AS melalui perantara di Pakistan. Teheran justru mengajukan lima syarat balasan, termasuk mempertahankan kedaulatan atas Selat Hormuz.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau