KOMPAS.com - Sebuah penelitian baru yang diterbitkan di jurnal npj Climate Action membantah ide yang muncul sebelumnya di jurnal Nature Climate Change, menyebut bahwa ekowisata bisa menjadi cara utama untuk menghapus jejak karbon di industri pariwisata.
Melansir Phys, Rabu (1/4/2026) peneliti studi baru berpendapat ekowisata dapat memang memberikan manfaat berharga bagi pelestarian alam dan pengelolaan pengunjung.
Akan tetapi pada dasarnya itu tidak mampu mengimbangi atau mengurangi secara signifikan emisi karbon yang dihasilkan oleh industri pariwisata dalam skala besar, terutama dari sektor penerbangan dan operasional hotel-hotel besar.
Baca juga: Tumpahan Minyak Kapal Cemari Pantai di Phuket Thailand, Pariwisata Terancam
Profesor Emeritus Ralf Buckley dari Griffith University di Australia pun mengungkapkan klaim dalam penelitian mengenai dekarbonisasi yang didorong oleh ekowisata berisiko "dimanfaatkan secara politik" oleh sektor pariwisata dan penerbangan.
Berdasarkan bukti-bukti global dan studi kasus terperinci di Cagar Alam Hutan Jiuzhaigou, China, para peneliti menyatakan bahwa manfaat iklim dari ekowisata sangatlah kecil jika dibandingkan dengan emisi yang dihasilkan oleh perjalanan wisata jarak jauh.
Meski ekowisata dapat membuahkan hasil pelestarian yang penting dalam konteks tertentu, hal itu tidak dapat merestrukturisasi atau menghilangkan karbon dari sektor pariwisata.
Sektor ini tetap terjebak dalam sistem emisi tinggi dan sulit menerima reformasi kebijakan, seperti penghapusan subsidi bahan bakar penerbangan atau pengurangan
permintaan perjalanan udara.
Baca juga: Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
"Klaim yang menyatakan ekowisata dapat mengurangi emisi tidaklah akurat secara ilmiah dan hanya alasan politik belaka untuk mendorong lebih banyak aktivitas wisata masuk ke area taman nasional," papar ujar Profesor Buckley.
"Dekarbonisasi di seluruh industri membutuhkan perubahan kelembagaan, misalnya terkait pemberian subsidi dan pembebasan pajak bahan bakar. Ekowisata terkadang dapat memberikan manfaat secara lokal, namun skalanya jauh terlalu kecil untuk menghilangkan jejak karbon di sektor pariwisata global," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya