Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ini Daftar Pemenang Proper Emas 2026, Ada Perusahaan Tambang hingga Semen

Kompas.com, 7 April 2026, 19:00 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) resmi mengumumkan perusahaan yang meraih penghargaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (Proper) Emas 2026. Perusahaan pemenang bergerak di sektor minyak, tambang, farmasi, hingga industri semen.

Baca juga: KLH Sanksi 67 Perusahaan yang Terbukti Perparah Banjir di Sumatera

Berikut daftar pemenang Proper Emas 2026:

  1. PT Badak NGL
  2. PT PLN Indonesia Power PLTGU Priok
  3. PT Pertamina Patra Niaga - Integrated Terminal Jakarta
  4. Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Ltd
  5. PT Pertamina Geothermal Energy Area Kamojang
  6. PT PLN Indonesia Power PLTP Kamojang Darajat
  7. PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero)
  8. PT Pertamina Gas - Southern Sumatera Area
  9. PT PLN Indonesia Power PLTP Gunung Salak
  10. PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit VI Balongan
  11. PT Aisin Indonesia
  12. PT PLN Nusantara Power UP Muara Tawar
  13. PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia - Karawang Plant
  14. PT PLN Nusantara Power UP Cirata
  15. PT Bio Farma (Persero)
  16. PT PLN Indonesia Power PLTGU Grati
  17. PT Pertamina Patra Niaga - Integrated Terminal Surabaya
  18. PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit IV Cilacap
  19. PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk
  20. PT Pertamina Patra Niaga - Integrated Terminal Semarang
  21. PT Polytama Propindo
  22. PT PLN Nusantara Power UP Gresik
  23. PT Bridgestone Tire Indonesia - Karawang
  24. PT Pertamina Gas - Area Jawa Bagian Timur
  25. PT PLN Indonesia Power PLTA Mrica
  26. PT Kaltim Methanol Industri
  27. PT Pertamina Gas - Area Kalimantan - SKG Bontang
  28. PT PLN Indonesia Power PLTA Mrica Wonogiri
  29. PT Timah Tbk - Pengolahan dan Peleburan Mentok
  30. PT Pupuk Kaltim
  31. PT PLN Nusantara Power UP Muara Karang
  32. PT Pertamina Geothermal Energy Area Ulubelu
  33. PT Indomakmur Sawit Berjaya
  34. PT PLN Indonesia Power PLTG Borang
  35. PT Perusahaan Gas Negara Tbk. - Stasiun Pagardewa
  36. PT Adaro Indonesia
  37. PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit III Plaju
  38. PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. - Pabrik Citeureup
  39. PT Mitra Stania Prima

Sebanyak 243 perusahaan lainnya mendapatkan Proper Hijau. Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLH, Rasio Ridho Sani menyampaikan Proper adalah program penilaian kinerja yang bertujuan meningkatkan kepatuhan perusahaan.

"Proper juga merupakan instrumen pengawasan dan pembinaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengelolaan Hidup yang menggunakan pendekatan public disclosure. Kami melakukan penilaian kinerja perusahaan, kemudian kami menyampaikan hasil penilaian kinerja ini kepada publik," ungkap Rasio dalam Anugerah Lingkungan Proper 2026, Selasa (7/4/2026).

Tahun ini, Proper memasuki tahun ke-30 sejak dimulai pada 1995 silam. Angka perusahaan yang dinilai meningkat 22 persen dibandingkan 2024 yang sebanyak 4.495 unit.

"Sekarang Proper menjadi 5.476 (perusahaan) yang berasal dari 299 sektor industri," ucap dia.

KLH mencatat, setidaknya ada 72.000 perusahaan yang berdiri di Indonesia. Namun pengawasan kepatuhan melalui Proper bahkan belum mencapai setengah dari total tersebut.

"Kami akan mengembangkan, meningkatkan jumlah perusahaan-perusahaan yang akan kita nilai melalui proper dengan mengembangkan sistem yang kami sedangkan sistem berbasiskan artificial intelligence. Karena jumlahnya kalau sudah mencapai 10.000 tentu sistem kami harus lebih banyak lagi," beber Rasio.

Dari total perusahaan yang dievaluasi, sebanyak 2.437 perusahaan dinyatakan taat terhadap ketentuan lingkungan.

Namun, jumlah perusahaan yang tidak taat mencapai 2.886 unit. Selain itu, terdapat 153 perusahaan yang tercatat tidak beroperasi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau