Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah

Kompas.com, 15 April 2026, 10:20 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan harga bahan baku plastik di pasar global dan domestik dalam beberapa bulan terakhir mulai berdampak pada berbagai sektor industri, termasuk makanan, minuman, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kenaikan tersebut dipicu oleh tekanan harga minyak, gangguan rantai pasok, serta ketidakpastian geopolitik, yang pada akhirnya mendorong biaya produksi kemasan plastik meningkat.

Di tengah kondisi ini, kemasan guna ulang dinilai menjadi alternatif solusi untuk menekan biaya sekaligus mengurangi timbulan sampah plastik.

Baca juga: Harga Naik, Momentum Ubah Kebiasaan Pakai Plastik Sekali Pakai

Praktisi komunikasi sekaligus dosen Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia), Andre Donas, mengatakan kemasan seperti galon guna ulang atau sistem isi ulang cenderung lebih stabil dari sisi harga.

“Sejumlah pengamatan menunjukkan bahwa konsumen tetap memilih galon guna ulang dalam aktivitas sehari-hari untuk kebutuhan rumah tangga dan tempat kerja,” ujar Andre dalam keterangan tertulis, Selasa (14/4/2026).

Tekan Biaya di Tengah Kenaikan Harga

Kenaikan harga plastik mulai dirasakan pelaku industri dan UMKM, terutama pada komponen kemasan yang menjadi bagian penting dalam distribusi produk.

Kemasan guna ulang dinilai lebih hemat karena tidak bergantung pada pembelian bahan baku plastik baru secara terus-menerus, sehingga relatif tidak terpengaruh fluktuasi harga.

Selain itu, penggunaan kemasan isi ulang juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai yang harganya semakin mahal.

Di sisi lain, persoalan sampah plastik di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan timbunan sampah plastik terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2019, volume sampah plastik tercatat sekitar 9–10 juta ton, kemudian naik menjadi 10,8 juta ton pada 2020, 11,6 juta ton pada 2022, 12 juta ton pada 2023, dan diperkirakan mencapai 12,4 juta ton pada 2025.

Artinya, dalam lima tahun terakhir terjadi kenaikan sekitar 20–30 persen.

Namun, kemampuan pengelolaan sampah masih terbatas. Dari total 524 tempat pemrosesan akhir (TPA), baru sekitar 25 persen sampah yang terkelola, sementara sisanya belum tertangani secara optimal.

Penggunaan kemasan guna ulang juga dinilai sejalan dengan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu lingkungan.

Peneliti Senior Pusat Riset Konsumen Ganesha (PRKG), Aan Rusdianto, mengatakan tingkat penggunaan galon guna ulang di wilayah Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang mencapai 89,36 persen.

Sementara itu, hanya sekitar 5,32 persen responden yang masih menggunakan galon sekali pakai.

Baca juga: Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik

“Umumnya alasan mereka memakai galon guna ulang karena aman, praktis, tidak menimbulkan sampah tambahan, dan tidak ada keluhan selama bertahun-tahun,” ujar Aan.

Solusi Berkelanjutan

Selain membantu menekan biaya di tengah kenaikan harga plastik, penggunaan kemasan guna ulang juga dinilai dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam mengurangi sampah plastik.

Dengan kombinasi faktor ekonomi dan lingkungan, kemasan guna ulang berpotensi semakin banyak diadopsi oleh masyarakat maupun pelaku usaha ke depan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau