Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan harga bahan baku plastik di pasar global dan domestik dalam beberapa bulan terakhir mulai berdampak pada berbagai sektor industri, termasuk makanan, minuman, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kenaikan tersebut dipicu oleh tekanan harga minyak, gangguan rantai pasok, serta ketidakpastian geopolitik, yang pada akhirnya mendorong biaya produksi kemasan plastik meningkat.
Di tengah kondisi ini, kemasan guna ulang dinilai menjadi alternatif solusi untuk menekan biaya sekaligus mengurangi timbulan sampah plastik.
Baca juga: Harga Naik, Momentum Ubah Kebiasaan Pakai Plastik Sekali Pakai
Praktisi komunikasi sekaligus dosen Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia), Andre Donas, mengatakan kemasan seperti galon guna ulang atau sistem isi ulang cenderung lebih stabil dari sisi harga.
“Sejumlah pengamatan menunjukkan bahwa konsumen tetap memilih galon guna ulang dalam aktivitas sehari-hari untuk kebutuhan rumah tangga dan tempat kerja,” ujar Andre dalam keterangan tertulis, Selasa (14/4/2026).
Kenaikan harga plastik mulai dirasakan pelaku industri dan UMKM, terutama pada komponen kemasan yang menjadi bagian penting dalam distribusi produk.
Kemasan guna ulang dinilai lebih hemat karena tidak bergantung pada pembelian bahan baku plastik baru secara terus-menerus, sehingga relatif tidak terpengaruh fluktuasi harga.
Selain itu, penggunaan kemasan isi ulang juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai yang harganya semakin mahal.
Di sisi lain, persoalan sampah plastik di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan timbunan sampah plastik terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2019, volume sampah plastik tercatat sekitar 9–10 juta ton, kemudian naik menjadi 10,8 juta ton pada 2020, 11,6 juta ton pada 2022, 12 juta ton pada 2023, dan diperkirakan mencapai 12,4 juta ton pada 2025.
Artinya, dalam lima tahun terakhir terjadi kenaikan sekitar 20–30 persen.
Namun, kemampuan pengelolaan sampah masih terbatas. Dari total 524 tempat pemrosesan akhir (TPA), baru sekitar 25 persen sampah yang terkelola, sementara sisanya belum tertangani secara optimal.
Penggunaan kemasan guna ulang juga dinilai sejalan dengan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu lingkungan.
Peneliti Senior Pusat Riset Konsumen Ganesha (PRKG), Aan Rusdianto, mengatakan tingkat penggunaan galon guna ulang di wilayah Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang mencapai 89,36 persen.
Sementara itu, hanya sekitar 5,32 persen responden yang masih menggunakan galon sekali pakai.
Baca juga: Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
“Umumnya alasan mereka memakai galon guna ulang karena aman, praktis, tidak menimbulkan sampah tambahan, dan tidak ada keluhan selama bertahun-tahun,” ujar Aan.
Selain membantu menekan biaya di tengah kenaikan harga plastik, penggunaan kemasan guna ulang juga dinilai dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam mengurangi sampah plastik.
Dengan kombinasi faktor ekonomi dan lingkungan, kemasan guna ulang berpotensi semakin banyak diadopsi oleh masyarakat maupun pelaku usaha ke depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya