Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perang Timur Tengah: Warganet Soroti Kebijakan WFH hingga Kenaikan Harga Plastik

Kompas.com, 21 April 2026, 17:36 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Survei terbaru mengungkapkan 69 persen warganet masih mengobservasi kebijakan Work from Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap Jumat, seiring dengan krisis energi global.

Menggunakan big data analytics, Binokular Media Utama (Binokular) menemukan sebagian besar warganet juga tengah menggali informasi, mengajukan pertanyaan, dan menimbang dampak kebijakan itu.

Manajer Social Media Data Analytics (Socindex) Binokular, Danu Setio Wihananto menyampaikan isu seputar kebijakan transformasi budaya kerja dan efisiensi energi melonjak pada 1 April 2026 sehari setelah pengumuman resmi pemerintah pada 31 Maret 2026.

Baca juga: Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM

"Lonjakan ini merupakan reaksi langsung warganet terhadap berbagai poin kebijakan, terutama yang berkaitan dengan penghematan energi," ungkap Danu dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).

"Sebelumnya, pada akhir Maret, jagat media sosial sudah diramaikan oleh kecemasan publik terhadap kemungkinan kenaikan harga BBM menyusul ketegangan di Timur Tengah,” imbuh dia.

Sementara itu, sentimen negatif terhadap kebijakan WFH ASN mencapai 17 persen dan positif 14 persen. Warganet yang kontra menilai bahwa WFH bagi ASN berpotensi dimanfaatkan untuk berlibur, bukan bekerja produktif dari rumah.

"Kekhawatiran yang lebih mendasar adalah turunnya kualitas pelayanan publik, mengingat banyak masyarakat yang masih memerlukan layanan administratif dan teknis pada hari Jumat,” terang Danu.

Baca juga: Jumat Hari yang Pendek, DPR Sebut Efektif untuk WFH bagi ASN

Ia memambahkan, selama periode 31 Maret hingga 12 April 2026 dashboard social media listening Socindex menjaring 137.672 percakapan warganet di platform X/Twitter, Facebook, Instagram, Youtube, dan Tiktok dengan total engagement mencapai 7.360.469 pengguna.

Ditemukan, isu program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipotong dari enam hari menjadi lima hari dalam sepekan masih diperbincangkan warganet.

Menurut mereka, anggaran MBG yang sangat besar seharusnya dapat diefisiensikan lebih lanjut, mengingat insiden dan polemik yang sempat terjadi di lapangan.

Pemangkasan jumlah hari pemberian MBG dianggap belum cukup memberikan dampak efisiensi yang signifikan.

Sentimen negatif terhadap kebijakan ini lebih dominan dibandingkan sentimen positif. Banyak warganet yang mempertanyakan mengapa tidak dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme distribusi dan menu, daripada sekadar mengurangi frekuensi.

Apresiasi Pemerintah Tak Naikkan Harga BBM

Berbeda dengan isu WFH yang kontroversial, keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM mendapatkan apresiasi. Manajer News Data Analytics Binokular (Newstensity), Nicko Mardiansyah mengungkapkan isu ini menyebabkan kepanikan dan antrean panjang di sejumlah SPBU.

"Namun, usai pemerintah secara resmi mengumumkan bahwa harga BBM subsidi dan non-subsidi tertentu ditahan, warganet menyatakan lega dan berterima kasih,” ucap Nicko.

Sentimen positif terhadap kebijakan ini tercatat sebagai salah satu yang tertinggi dalam periode monitoring, meskipun secara keseluruhan hanya mencapai 14 persen. Beberapa dari mereka masih menyisakan rasa waswas, terutama terhadap kemungkinan kenaikan harga BBM non subsidi dalam beberapa waktu ke depan.

Selain tiga isu utama di atas, warganet juga menyoroti dampak ekonomi tidak langsung dari kebijakan efisiensi energi. Dua isu turunan yang mencuat adalah kenaikan harga plastik dan kenaikan harga avtur yang berimbas pada tarif tiket pesawat.

Kenaikan harga plastik dirasakan langsung oleh pelaku UMKM, yang sebagian besar menggunakan plastik sebagai kemasan makanan dan minuman. Gangguan impor bahan baku nafta akibat krisis global disebut sebagai penyebab utama, dan warganet dari kalangan UMKM menyatakan keberatan karena biaya operasional mereka ikut membengkak.

Sementara itu, kenaikan harga avtur memaksa pemerintah menyesuaikan tarif tiket pesawat di kisaran 9 hingga 13 persen. Sentimen negatif pun bermunculan, terutama dari warganet yang sering menggunakan pesawat.

Pemerintah memberikan insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP), penyesuaian fuel surcharge, serta pembebasan bea masuk suku cadang pesawat. Langkah-langkah ini berhasil meredam sebagian sentimen negatif dan bahkan memunculkan apresiasi dari warganet yang memahami upaya pemerintah menjaga stabilitas sektor penerbangan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau