Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Di Jawa, Mengapa Macan Tutul Lebih Bisa Bertahan ketimbang Harimau?

Kompas.com, 4 Mei 2026, 10:00 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Ada sejumlah alasan mengapa macan tutul Jawa lebih bisa bertahan dari kepunahan ketimbang harimau Jawa.
‎
‎Dari aspek perilaku, daya jelajah harimau dapat mencapai 300 kilometer. Berdasarkan kajian Population Viability Analysis (PVA), populasi harimau yang sehat harus berada di kawasan sangat luas atau setidaknya mampu mendukung 30 individu.

Daya jelajah seekor harimau sekitar 100 kilometer, maka untuk 30 individu membutuhkan kawasan konservasi minimal seluas 3.000 kilometer agar populasinya bisa berkelanjutan.
‎
‎"Saya lama di Sumatera itu, daya jelajahnya satu individu itu bisa sampai 300 kilometer. Ya, saya punya data GPS. Jadi di Jawa, apakah kawasan yang seluas itu?" ujar Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono dalam Melindungi Sang Predator Puncak; Sinergi Pelestarian Macan Tutul Jawa di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
‎
‎Di sisi lain, macan tutul Jawa justru sangat adaptif dengan perubahan lingkungan. Dari segi prey preference, kecenderungan predator untuk memburu mangsa tertentu berdasarkan faktor, seperti ukuran, bentuk, tekstur, atau ketersediaannya memiliki 100-200 variasi jenis satwa.
‎
‎"Even yang kecil-kecil lho, tikus atau burung, jadi dia bisa survive dengan mangsa yang seperti itu. Kalau harimau enggak bisa, harus satwa yang ‎medium large apa ungulata tadi ya. Rusa, babi hutan dan sebagainya. Kalau macan‎tutul lebih plastis ya," tutur Hariyo.

‎Dari sisi perilaku, macan tutul tidak suka menampakkan diri atau sangat elusif. "Nah, itu macan tutul alasan kenapa dia masih ‎bisa hidup di Jawa dan jangan lupa ada kearifan tradisional, seperti di (Gunung) Muria, di sana masyarakat masih sangat menghargai, menghormati macan tutul sebagai salah satu peliharaan Sunan Muria” ucapnya.

Biaya konservasi

Kearifan lokal tentang macan tutul sebagai penjaga hutan sudah mulai tergerus di sebagian besar daerah di Jawa. Ia menganggap, kearifan lokal tersebut perlu diperkuat untuk konservasi macan tutul.

Menurut Hariyo, biaya konservasi macan tutul relatif lebih murah ketimbang harimau yang minimum operasionalnya bisa mencapai Rp 500-600 juta per tahun. Namun, biaya konservasi juga dapat diminimalisir melalui berbagai pendekatan, seperti berkolaborasi Non-Governmental Organization (NGO) lokal yang memiliki sumber daya sendiri.

Atau, bekerja sama dengan sektor swasta untuk sumber pendanaan berbagai kegiatan konservasi, terutama penyadaran dan pengembangan kapasitas sebagai katalistasor untuk berbagai pihak yang ada di kawasan konservasi harimau. Ia menganggap, investasi paling efektif untuk konservasi macan tutul atau harimau adalah penyadaran dan pengembangan kapasitas komunitas lokal.

Ilustrasi: Macan tutul Jawa (Panthera pardus melas).Wikimedia Commons/Vachovec1 Ilustrasi: Macan tutul Jawa (Panthera pardus melas).

Pelestarian macan tutul Jawa sebagai predator puncak berperan penting dalam keseimbangan ekosistem.

 Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), Jemmy Chayadi mengatakan, pihaknya terlibat dalam pelestarian macan tutul Jawa sebagai bagian dari aksi keberlanjutan untuk konservasi keanekaragaman hayati.

Program BLDF memandang upaya konservasi sebagai bagian dari menjaga sistem kehidupan di Gunung Muria secara keseluruhan. Jadi, upaya pelestarian di Gunung Muria harus mencakup menjaga kualitas tanah dan air, konektivitas lanskap hutan, kelestarian habitat alam, sampai keberlangsungan satwa liar yang hidup di dalamnya.

"Kami melihatnya semua ini lebih holistik, dengan tujuan menjaga lingkungan hutan di Gunung Muria. Nah, itu semuanya sumber dananya satu, dan kebetulan ada macan tutul Jawa di dalamnnya. Ada juga satwa lain, seperti elang Jawa di sana," ujar Jemmy.

‎Ia menganggap, pelestarian ekosistem di Gunung Muria sebagai investasi menjaga rumah sendiri dan lingkungan sekitarnya, seperti mencegah dari risiko longsor atau memperbaiki kualitas udaranya.

Program pelestarian ekosistem di Gunung Muria diharapkan dapat diduplikasikan di gunung-gunung lain oleh perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau