JAKARTA, KOMPAS.com - Ada sejumlah alasan mengapa macan tutul Jawa lebih bisa bertahan dari kepunahan ketimbang harimau Jawa.
Dari aspek perilaku, daya jelajah harimau dapat mencapai 300 kilometer. Berdasarkan kajian Population Viability Analysis (PVA), populasi harimau yang sehat harus berada di kawasan sangat luas atau setidaknya mampu mendukung 30 individu.
Daya jelajah seekor harimau sekitar 100 kilometer, maka untuk 30 individu membutuhkan kawasan konservasi minimal seluas 3.000 kilometer agar populasinya bisa berkelanjutan.
"Saya lama di Sumatera itu, daya jelajahnya satu individu itu bisa sampai 300 kilometer. Ya, saya punya data GPS. Jadi di Jawa, apakah kawasan yang seluas itu?" ujar Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono dalam Melindungi Sang Predator Puncak; Sinergi Pelestarian Macan Tutul Jawa di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Di sisi lain, macan tutul Jawa justru sangat adaptif dengan perubahan lingkungan. Dari segi prey preference, kecenderungan predator untuk memburu mangsa tertentu berdasarkan faktor, seperti ukuran, bentuk, tekstur, atau ketersediaannya memiliki 100-200 variasi jenis satwa.
"Even yang kecil-kecil lho, tikus atau burung, jadi dia bisa survive dengan mangsa yang seperti itu. Kalau harimau enggak bisa, harus satwa yang medium large apa ungulata tadi ya. Rusa, babi hutan dan sebagainya. Kalau macantutul lebih plastis ya," tutur Hariyo.
Dari sisi perilaku, macan tutul tidak suka menampakkan diri atau sangat elusif. "Nah, itu macan tutul alasan kenapa dia masih bisa hidup di Jawa dan jangan lupa ada kearifan tradisional, seperti di (Gunung) Muria, di sana masyarakat masih sangat menghargai, menghormati macan tutul sebagai salah satu peliharaan Sunan Muria” ucapnya.
Kearifan lokal tentang macan tutul sebagai penjaga hutan sudah mulai tergerus di sebagian besar daerah di Jawa. Ia menganggap, kearifan lokal tersebut perlu diperkuat untuk konservasi macan tutul.
Menurut Hariyo, biaya konservasi macan tutul relatif lebih murah ketimbang harimau yang minimum operasionalnya bisa mencapai Rp 500-600 juta per tahun. Namun, biaya konservasi juga dapat diminimalisir melalui berbagai pendekatan, seperti berkolaborasi Non-Governmental Organization (NGO) lokal yang memiliki sumber daya sendiri.
Atau, bekerja sama dengan sektor swasta untuk sumber pendanaan berbagai kegiatan konservasi, terutama penyadaran dan pengembangan kapasitas sebagai katalistasor untuk berbagai pihak yang ada di kawasan konservasi harimau. Ia menganggap, investasi paling efektif untuk konservasi macan tutul atau harimau adalah penyadaran dan pengembangan kapasitas komunitas lokal.
Ilustrasi: Macan tutul Jawa (Panthera pardus melas).Pelestarian macan tutul Jawa sebagai predator puncak berperan penting dalam keseimbangan ekosistem.
Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), Jemmy Chayadi mengatakan, pihaknya terlibat dalam pelestarian macan tutul Jawa sebagai bagian dari aksi keberlanjutan untuk konservasi keanekaragaman hayati.
Program BLDF memandang upaya konservasi sebagai bagian dari menjaga sistem kehidupan di Gunung Muria secara keseluruhan. Jadi, upaya pelestarian di Gunung Muria harus mencakup menjaga kualitas tanah dan air, konektivitas lanskap hutan, kelestarian habitat alam, sampai keberlangsungan satwa liar yang hidup di dalamnya.
"Kami melihatnya semua ini lebih holistik, dengan tujuan menjaga lingkungan hutan di Gunung Muria. Nah, itu semuanya sumber dananya satu, dan kebetulan ada macan tutul Jawa di dalamnnya. Ada juga satwa lain, seperti elang Jawa di sana," ujar Jemmy.
Ia menganggap, pelestarian ekosistem di Gunung Muria sebagai investasi menjaga rumah sendiri dan lingkungan sekitarnya, seperti mencegah dari risiko longsor atau memperbaiki kualitas udaranya.
Program pelestarian ekosistem di Gunung Muria diharapkan dapat diduplikasikan di gunung-gunung lain oleh perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya