KOMPAS.com - Alih fungsi lahan di seluruh Asia Tenggara selama 15 tahun terakhir memperburuk kualitas udara dan berkontribusi pada ribuan kematian tambahan setiap tahunnya.
Studi terbaru memperkirakan alih fungsi lahan di Asia Tenggara erat kaitannya dengan sekitar 13.000 kematian tambahan pada tahun 2018 saja dan disertai kerugian ekonomi mencapai 7,8 miliar dolar AS atau Rp 138 triliun akibat dampak kesehatan dari memburuknya polusi udara.
"Perubahan penggunaan lahan sering dibahas dalam konteks iklim atau pembangunan ekonomi, tetapi dampaknya terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat kurang dipahami," ujar peneliti utama studi dari Sekolah Lingkungan Asia (ASE) Universitas Teknologi Nanyang (NTU) dan Sekolah Kedokteran Lee Kong Chian (LKCMedicine), Steve Yim, dilansir dari Phys, Selasa (26/5/2026).
Baca juga: 65 Persen Garis Pantai Pesisir Pantura Erosi akibat Alih Fungsi Lahan
Temuan dari studi ini menyoroti bagaimana keputusan pengembangan lahan, termasuk penggundulan hutan, perluasan pertanian, dan pertumbuhan perkotaan, yang memiliki konsekuensi luas terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, serta produktivitas ekonomi di seluruh Asia Tenggara.
Tim peneliti menelusuri bagaimana alih fungsi lahan memengaruhi kadar dua polutan udara utama. Yaitu, partikel halus (PM 2.5 ) dan ozon permukaan tanah (O3) yang terkait dengan penyakit kardiovaskular dan pernapasan.
Dengan menggunakan model komputer, tim peneliti menganalisis alih fungsi lahan di seluruh Asia Tenggara selama periode tahun 2001-2018. Itu termasuk degradasi dan penggundulan hutan, perluasan lahan pertanian, reboisasi, serta pembangunan perkotaan.
Dampak kesehatan yang terkait dengan alih fungsi lahan juga menimbulkan biaya ekonomi sebesar Rp 138 triliun di seluruh Asia Tenggara.
Temuan tersebut diperoleh menggunakan metode Nilai Kehidupan Statistik (Value of Statistical Life/VSL) dan Biaya Penyakit (Cost-of-Illness/COI), yang merupakan pendekatan untuk memperkirakan dampak ekonomi dari kematian terkait polusi.
Baca juga: Kisah Arif di Padang: Sarjana Seni Rupa Lawan Alih Fungsi Lahan, Raup Peluang dari Urban Farming
Ini setara dengan sekitar 0,1 persen dari PDB kawasan tersebut, termasuk kerugian produktivitas sebesar 1,07 miliar dolar AS atau Rp 19 triliun dan biaya perawatan kesehatan sebesar 34 juta dolar AS atau Rp 604 miliar.
Hutan menjadi salah satu penyaring udara alami yang paling efektif. Ketika hutan ditebang atau mengalami degradasi, atmosfer kehilangan penyerap alami penting yang membantu menghilangkan polutan, sehingga PM 2.5 dan O3 dapat menumpuk lebih mudah.
Temuan dari studi ini menyebut, Indonesia dan Thailand mengalami beban ekonomi terbesar ketimbang negara-negara Asia Tenggara.
Tim peneliti juga menemukan bahwa peningkatan terbesar dalam angka kematian berlebih terjadi di Indonesia, Vietnam, dan Thailand, yang mencerminkan alih fungsi lahan yang luas dan dampaknya terhadap polusi udara.
Dampak kesehatan utama terkonsentrasi di wilayah padat penduduk, seperti Jawa, Delta Sungai Mekong, dan Delta Sungai Merah.
Temuan dari studi ini juga mengungkapkan, bahwa lebih dari 60 persen kerusakan disebabkan oleh efek biogeofisika, yang berarti bahwa alih fungsi lahan mengubah iklim lokal dengan cara yang membuat polusi udara lebih berbahaya bagi kesehatan manusia.
Baca juga: Burung Rusia dan China Migrasi ke Jawa Timur, Alih Fungsi Lahan Basah Ancam Habitatnya
Tim peneliti menyoroti perlunya mempertimbangkan kualitas udara dan dampak kesehatan masyarakat ketika merencanakan kebijakan penggunaan lahan serta strategi pembangunan di seluruh Asia Tenggara.
Temuan dari studi ini juga menunjukkan bahwa konservasi hutan dan pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan bisa memberikan berbagai manfaat. Itu termasuk peningkatan kualitas udara, hasil kesehatan masyarakat semakin membaik, dan ketahanan ekonomi yang lebih kuat.
"Temuan kami menunjukkan bahwa pengelolaan lahan yang lebih baik dapat memberikan manfaat tambahan yang penting. Melindungi hutan dan merencanakan pengembangan lahan dengan cermat dapat membantu meningkatkan kualitas udara, menjaga kesehatan masyarakat, dan mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan di seluruh wilayah," tutur Yim.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya