Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Literasi ke Aksi, Komunitas Buibu Baca Buku Gerakkan Kepedulian Iklim di 16 Provinsi

Kompas.com, 2 Juni 2026, 21:10 WIB
Sri Noviyanti

Editor


KOMPAS.com – Komunitas perempuan Buibu Baca Buku (BBB) menggelar acara "Buibu Berdaya Bumi: Dari Literasi jadi Aksi" di Galeri Emiria Soenassa, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (30/5/2026).

Acara dibuat sebagai refleksi dari program Climate Literacy for Mothers yang telah dibuat sejak 2024.

Adapun program sengaja diinisiasi untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman para ibu untuk bersuara serta mengambil aksi dalam mitigasi krisis iklim, memastikan bahwa sudut pandang, gagasan, dan keresahan mereka menjadi bagian dari perubahan sistem.

Selama dua tahun pelaksanaannya, BBB mengintegrasikan literasi iklim ke dalam berbagai kegiatan utama komunitas, seperti diskusi buku, membaca nyaring (read aloud), lokakarya, lomba resensi buku, hingga diskusi bersama penulis. Pendekatan ini dilakukan untuk membuka percakapan tentang iklim yang lebih mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan para anggota komunitas.

Baca juga: Bappenas Proyeksikan Kerugian Ekonomi akibat Krisis Iklim Capai Rp 2.005 Triliun

Seiring berjalannya waktu, program ini berkembang menjadi ruang kolaborasi yang lebih luas dengan memberdayakan lebih dari seratus komunitas lokal dan Taman Baca Masyarakat, di 16 provinsi mulai dari Nangroe Aceh Darussalam hingga Papua Selatan.

Selain mengirimkan buku bertema krisis iklim, BBB juga memberikan pembekalan materi dan pelatihan membacakan nyaring bagi puluhan komunitas untuk menjalankan kegiatan di wilayah masing-masing.

“Program ini telah menjangkau hampir 9.000 penerima manfaat di seluruh Indonesia dan bekerja sama dengan lebih dari seratus kolaborator,” ujar Pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Buibu Baca Buku, Puty Puar, dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (2/6/2026).

Selama acara berlangsung, berbagai isu lingkungan dibahas, mulai dari sistem pangan berkelanjutan, transisi energi, kota yang ramah lingkungan dan bebas polusi, hingga pengembangan karakter peduli lingkungan pada anak melalui sekolah dan keluarga.

Baca juga: Pelajar Diajak Lebih Peduli Lingkungan Lewat Industri Populer

Berbagai narasumber berpengalaman yang kerap berkontribusi di bidang lingkungan dan literasi pun turut hadir, antara lain Direktur Iklim dan Transisi Energi Berkeadilan (IESR) Agus P Tampubolon, Kepala Sekretariat Koalisi Sistem Pangan Lestari Gina Karina, Founder Bijak Kertas (Kapten Kepik dan Ibu) Muhammad Gibraltar Elmalik, praktisi home schooling Delih Ratnasari, Founder Reading Bugs dari Komunitas Read Aloud Indonesia Roosie Setiawan, dan Head of Academic Sekolah Murid Merdeka Ranggi Kanya.

Peserta acara Buibu Berdaya Bumi: Dari Literasi jadi Aksi menghadiri acara sebagai aksi kepedulian terhadap iklim.Dok BBB Peserta acara Buibu Berdaya Bumi: Dari Literasi jadi Aksi menghadiri acara sebagai aksi kepedulian terhadap iklim.

Dalam acara ini, BBB juga meluncurkan dua buku terbaru dalam Seri Keluarga Panik, yaitu Dari Mana Listrik Berasal? dan Makan Apa Hari Ini?.

Sesuai judulnya, Dari Mana Listrik Berasal? menjelaskan tentang sumber energi, sementara Makan Apa Hari Ini? membahas perjalanan makanan hingga sampai ke piring keluarga di rumah.

Kedua buku tersebut disajikan dengan cerita dan ilustrasi menarik, serta dilengkapi panduan aktivitas seru untuk orangtua dan anak.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, BBB berharap semakin banyak keluarga dan komunitas yang terlibat dalam membangun masa depan yang lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau