JAKARTA, KOMPAS.com - World Oceans Day atau Hari Laut Sedunia diperingati setiap 8 Juni sebagai pengingat masyarakat dunia menjaga lautan dan ekosistemnya.
Tahun ini, PBB mengangkat tema Kawasan Lindung Laut yang Kuat untuk Planet Biru Kita yang akan memandu aksi global selama beberapa tahun memandang.
Mengutip laman resmi World Ocean Day.org, tema tersebut juga melanjutkan kampanye tahun sebelumnya, yaitu memperkuat aksi iklim berbasis laut dan melindungi setidaknya 30 persen daratan, perairan, serta samudra dunia pada 2030 (aturan 30x30).
Para pemimpin dunia berkomitmen pada aturan 30x30, baik di perairan nasional maupun laut lepas.
"Perairan laut ini mengatur iklim, mendukung keanekaragaman hayati yang luar biasa, menopang mata pencaharian, dan menyimpan potensi ilmiah serta medis yang belum dimanfaatkan," tulis World Ocean Day, Senin (8/6/2026).
Baca juga: Sampah Plastik Makanan dan Minuman Dominasi Laut Indonesia
Karenanya, pembentukan Kawasan Lindung Laut atau Marine Protected Area (MPA) dinilai penting untuk menjaga ekosistem laut tetap sehat dan berkelanjutan. Upaya ini membutuhkan kerja sama global, pengawasan yang kuat, serta keterlibatan masyarakat agar target perlindungan laut di 2030 dapat tercapai.
Hari Laut Sedunia 2026 mengajak manusia mengubah cara pandang dan segera merawat lautan. PBB pun meminta masyarakat tidak hanya memanfaatkannya saja, tetapi ikut menjaga ekosistem ini.
PBB mencatat bahwa 70 persen permukaan bumi merupakan lautan, yang menjadi sumber penghidupan bagi manusia hingga organisme lainnya.
Laut menghasilkan 50 persen oksigen, rumah untuk sebagian besar keanekaragaman hayati, dan sumber protein utama bagi lebih dari satu miliar orang di dunia. Sebanyak 40 juta orang diprediksi akan bekerja di industri berbasis kelautan pada 2030.
Baca juga: 13 Spesies Kuda Laut di RI Terancam akibat Perdagangan dan Kerusakan Habitat
"Terlepas dari semua manfaatnya, lautan kini membutuhkan dukungan. Dengan 90 persen populasi ikan besar yang telah berkurang, dan 50 persen terumbu karang yang hancur, kita mengambil lebih banyak dari laut daripada yang dapat dipulihkan. Kita perlu bekerja sama untuk menciptakan keseimbangan baru dengan laut yang tidak lagi mengurangi kekayaannya, tetapi malah memulihkan vitalitasnya dan memberinya kehidupan baru," kata PBB dikutip dari laman resminya.
Terbaru, PBB mengesahkan Perjanjian Keanekaragaman Hayati di Luar Yurisdiksi Nasional atau Biodiversity Beyond National Jurisdiction (BBNJ)(BBNJ), mencakup zona laut yang terletak di luar nasional dan wilayah dasar laut internasional.
Wilayah ini mencakup lebih dari dua pertiga permukaan laut, mewakili lebih dari 90 persen habitat bumi berdasarkan volume.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan perjanjian ini mengisi kesenjangan tata kelola penting untuk mengamankan lautan.
BBNJ dirancang untuk memastikan laut lepas dan dasar laut internasional dikelola secara berkelanjutan untuk kepentingan seluruh umat manusia. Selain itu, menjadi instrumen kelautan pertama yang mengikat secara hukum dengan ketentuan tentang keterlibatan masyarakat adat dan komunitas lokal, serta kesetaraan gender.
Diharapkan, setelah sepenuhnya diimplementasikan perjanjian itu berkontribus dalam mengatasi triple planetary crisis yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.
"Setiap orang harus ingat bahwa sekarang ada pengawasan terhadap aktivitas di laut lepas . Misalnya, ketika Anda mencemari lingkungan, Anda bertanggung jawab atas tindakan itu," jelas Diplomat Tanzania, Mzee Ali Haji.
Perjanjian BBNJ turut memperkuat Konvensi PBB tentang Hukum Laut sejak 1994, menjadi dasar aturan pemanfaatan dan perlindungan laut dunia. Selain itu, perjanjian ini mendukung Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan yang digagas PBB guna mengatasi berbagai tantangan global.
Hari Laut Sedunia pertama kali diusulkan pada Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro pada 1992. Kemudian, pada 2008, PBB secara resmi menetapkan tanggal 8 Juni sebagai Hari Laut Sedunia. Sejak saat itu, setiap tahunnya, peringatan ini diadakan untuk menggalang dukungan dan partisipasi global dalam perlindungan dan konservasi laut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya