Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Korsel Ubah Bekas Wadah Bekas Mi Instan jadi Bahan Baku Petrokimia

Kompas.com, 8 Juni 2026, 14:54 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bekas wadah mi instan yang dulunya tidak bisa didaur ulang, kini menjadi bahan berharga bagi industri petrokimia di Korea Selatan (Korsel). Padahal, wadah polistirena kosong bernoda kaldu itu telah menjadi gangguan lingkungan yang sulit diatasi selama beberapa dekade.

Jutaan wadah bekas mi instan ditakdirkan untuk dibakar atau dibuang ke tempat pembuangan sampah. Sebagai produk sampingan dari budaya makanan siap saji Korsel, penanganan bekas wadah mi instan dengan proses daur ulang mekanis tradisional sangat sulit karena terlalu terkontaminasi oleh minyak pedas.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Korsel memperluas inisiatif daur ulang kimia nasional untuk mengubah limbah plastik tersebut menjadi bahan baku berharga bagi industri petrokimia.

Baca juga: ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme

Pemanfaatan bekas wadah mi instan dilakukan menggunakan teknologi dekomposisi termal canggih untuk menguraikan kertas polistirena — yang biasa dikenal sebagai PSP — dan mengubahnya menjadi nafta, bahan dasar untuk pembuatan plastik baru.

"Perluasan ini mengatasi keterbatasan teknis yang telah lama ada dalam daur ulang polistirena yang terkontaminasi. Ini akan membantu mengubah limbah bernilai rendah menjadi sumber daya kimia bernilai tinggi dan mempercepat transisi menuju sirkular ekonomi," ujar direktur divisi sirkulasi sumber daya KLH Korsel, Kim Go-eung, dilansir dari Korea Times, Senin (8/6/2026).

Perluasan insiatif tersebut menandai perubahan signifikan dari daur ulang mekanis, yang hanya melelehkan dan membentuk kembali plastik, seringkali menurunkan kualitasnya serta membatasi penggunaan kembali pada barang-barang bernilai rendah.

Kendala daur ulang 

Kertas polistirena telah lama menjadi kendala bagi jaringan daur ulang karena mudah terkontaminasi oleh makanan, sulit dipisahkan dari plastik lain dalam aliran sampah kota, dan diproduksi dalam berbagai warna yang membingungkan.

Dalam program luasnya inisiatif daur ulang ini, limbah PSP yang dikumpulkan akan dipanaskan pada suhu tinggi tanpa adanya oksigen. Dalam proses pirolisis, plastik padat diubah menjadi minyak pirolisis cair, yang kemudian dimurnikan menjadi nafta. Dalam uji coba regional pada tahun 2025, program perluasan inisiatif daur ulang ini berhasil memproses sekitar 15,8 ton limbah PSP.

Untuk mendorong sektor swasta meningkatkan skala operasi, KLH Korsel memanfaatkan skema tanggung jawab produsen yang tidak berguna (EPR). Melalui skema EPR, KLH Korsel mewajibkan produsen dan importir untuk mengelola siklus hidup kemasan mereka.

Baca juga: ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme

Perusahaan logistik dan kimia yang berpartisipasi akan menerima subsidi pemerintah Korsel pada tahap pengumpulan awal maupun tahap dekomposisi termal akhir.

Daur ulang Korsel meningkat

Berdasarkan Buku Tahunan Statistik Sampah Korea-Jepang terbaru yang terbit pada Juni 2026, tingkat daur ulang sampah rumah tangga di Korsel 3,5 kali lebih tinggi daripada di Jepang. Buku Tahunan Statistik Sampah Korea-Jepang merupakan hasil penelitian bersama yang dilakukan berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani oleh kedua negara pada Maret 2024.

Sebelumnya, perbandingan langsung statistik limbah antara Korsel dan Jepang sulit dilakukan karena perbedaan sistem investigasi dan definisi. Buku tahunan ini menyusun statistik sesuai dengan standar yang seragam, sehingga memungkinkan komprehensif mengenai status produksi, pengelolaan, dan daur ulang limbah.

Buku tahunan ini mencakup definisi dan metode klasifikasi untuk jenis-jenis limbah utama seperti limbah rumah tangga, limbah konstruksi, limbah tertentu, dan limbah medis, serta informasi tentang status pendapatan dan pengelolaan, daur ulang, dan metode pemulihan sumber daya.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2023, jumlah sampah rumah tangga yang dihasilkan di Korsel sekitar 22 juta ton, lebih sedikit dari Jepang atau 39 juta ton. Namun, tingkat daur ulang Korea sekitar 70 persen, yang 3,5 kali lebih tinggi daripada tingkat daur ulang Jepang atau sekitar 20 persen.

Baca juga: Sebut Pulau Sampah di Muara Angke Jakut Sudah Bersih, Pramono: Saya Minta Rutin Dibersihkan

Jumlah sampah rumah tangga yang dihasilkan di Korsel meningkat dari sekitar 18 juta ton pada tahun 2014, menjadi sekitar 22 juta ton pada tahun 2023. Pada tahun yang sama, terdapat 404 fasilitas pembakaran sampah yang beroperasi di seluruh negeri, dengan total kapasitas pengolahan 41.000 ton per hari.

Direktur Divisi Penelitian Sumber Daya Lingkungan di Institut Penelitian Lingkungan Nasional Korsel, Park Jeongmin mengatakan, buku tahunan ini merupakan sumber daya dasar yang penting untuk membandingkan status pengelolaan limbah kedua negara. “Kami akan memperluas kerja sama data internasional lebih lanjut untuk pengembangan ekonomi sirkular,” ucapnya, dilansir dari Asia Business Daily.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau