KOMPAS.com - Bekas wadah mi instan yang dulunya tidak bisa didaur ulang, kini menjadi bahan berharga bagi industri petrokimia di Korea Selatan (Korsel). Padahal, wadah polistirena kosong bernoda kaldu itu telah menjadi gangguan lingkungan yang sulit diatasi selama beberapa dekade.
Jutaan wadah bekas mi instan ditakdirkan untuk dibakar atau dibuang ke tempat pembuangan sampah. Sebagai produk sampingan dari budaya makanan siap saji Korsel, penanganan bekas wadah mi instan dengan proses daur ulang mekanis tradisional sangat sulit karena terlalu terkontaminasi oleh minyak pedas.
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Korsel memperluas inisiatif daur ulang kimia nasional untuk mengubah limbah plastik tersebut menjadi bahan baku berharga bagi industri petrokimia.
Baca juga: ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme
Pemanfaatan bekas wadah mi instan dilakukan menggunakan teknologi dekomposisi termal canggih untuk menguraikan kertas polistirena — yang biasa dikenal sebagai PSP — dan mengubahnya menjadi nafta, bahan dasar untuk pembuatan plastik baru.
"Perluasan ini mengatasi keterbatasan teknis yang telah lama ada dalam daur ulang polistirena yang terkontaminasi. Ini akan membantu mengubah limbah bernilai rendah menjadi sumber daya kimia bernilai tinggi dan mempercepat transisi menuju sirkular ekonomi," ujar direktur divisi sirkulasi sumber daya KLH Korsel, Kim Go-eung, dilansir dari Korea Times, Senin (8/6/2026).
Perluasan insiatif tersebut menandai perubahan signifikan dari daur ulang mekanis, yang hanya melelehkan dan membentuk kembali plastik, seringkali menurunkan kualitasnya serta membatasi penggunaan kembali pada barang-barang bernilai rendah.
Kertas polistirena telah lama menjadi kendala bagi jaringan daur ulang karena mudah terkontaminasi oleh makanan, sulit dipisahkan dari plastik lain dalam aliran sampah kota, dan diproduksi dalam berbagai warna yang membingungkan.
Dalam program luasnya inisiatif daur ulang ini, limbah PSP yang dikumpulkan akan dipanaskan pada suhu tinggi tanpa adanya oksigen. Dalam proses pirolisis, plastik padat diubah menjadi minyak pirolisis cair, yang kemudian dimurnikan menjadi nafta. Dalam uji coba regional pada tahun 2025, program perluasan inisiatif daur ulang ini berhasil memproses sekitar 15,8 ton limbah PSP.
Untuk mendorong sektor swasta meningkatkan skala operasi, KLH Korsel memanfaatkan skema tanggung jawab produsen yang tidak berguna (EPR). Melalui skema EPR, KLH Korsel mewajibkan produsen dan importir untuk mengelola siklus hidup kemasan mereka.
Baca juga: ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme
Perusahaan logistik dan kimia yang berpartisipasi akan menerima subsidi pemerintah Korsel pada tahap pengumpulan awal maupun tahap dekomposisi termal akhir.
Berdasarkan Buku Tahunan Statistik Sampah Korea-Jepang terbaru yang terbit pada Juni 2026, tingkat daur ulang sampah rumah tangga di Korsel 3,5 kali lebih tinggi daripada di Jepang. Buku Tahunan Statistik Sampah Korea-Jepang merupakan hasil penelitian bersama yang dilakukan berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani oleh kedua negara pada Maret 2024.
Sebelumnya, perbandingan langsung statistik limbah antara Korsel dan Jepang sulit dilakukan karena perbedaan sistem investigasi dan definisi. Buku tahunan ini menyusun statistik sesuai dengan standar yang seragam, sehingga memungkinkan komprehensif mengenai status produksi, pengelolaan, dan daur ulang limbah.
Buku tahunan ini mencakup definisi dan metode klasifikasi untuk jenis-jenis limbah utama seperti limbah rumah tangga, limbah konstruksi, limbah tertentu, dan limbah medis, serta informasi tentang status pendapatan dan pengelolaan, daur ulang, dan metode pemulihan sumber daya.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2023, jumlah sampah rumah tangga yang dihasilkan di Korsel sekitar 22 juta ton, lebih sedikit dari Jepang atau 39 juta ton. Namun, tingkat daur ulang Korea sekitar 70 persen, yang 3,5 kali lebih tinggi daripada tingkat daur ulang Jepang atau sekitar 20 persen.
Baca juga: Sebut Pulau Sampah di Muara Angke Jakut Sudah Bersih, Pramono: Saya Minta Rutin Dibersihkan
Jumlah sampah rumah tangga yang dihasilkan di Korsel meningkat dari sekitar 18 juta ton pada tahun 2014, menjadi sekitar 22 juta ton pada tahun 2023. Pada tahun yang sama, terdapat 404 fasilitas pembakaran sampah yang beroperasi di seluruh negeri, dengan total kapasitas pengolahan 41.000 ton per hari.
Direktur Divisi Penelitian Sumber Daya Lingkungan di Institut Penelitian Lingkungan Nasional Korsel, Park Jeongmin mengatakan, buku tahunan ini merupakan sumber daya dasar yang penting untuk membandingkan status pengelolaan limbah kedua negara. “Kami akan memperluas kerja sama data internasional lebih lanjut untuk pengembangan ekonomi sirkular,” ucapnya, dilansir dari Asia Business Daily.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya