Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Masih Minim Mitigasi Ledakan Alga, Ancaman Kematian Massal Ikan Mengintai

Kompas.com, 9 Juni 2026, 20:02 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Pusat Riset Laut Dalam BRIN, A’an Johan Wahyudi menilai, Indonesia masih minim dalam mengantisipasi ancaman ledakan alga (blooming algae). Padahal, hal itu sering terjadi dan bersifat periodik.

"Periode-periode seperti El Niño ini salah satu dampak negatifnya nanti meningkatkan frekuensi blooming algae," ujar A'an kepada Kompas.com usai acara Memperingati Hari Laut 2026; Sustainable Marine Resource for Our Blue Planet di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Ledakan alga yang ekstrem akan mengurangi kadar oksigen di laut. Berkurangnya kadar oksigen bisa menyebabkan kematian massal ikan, yang pada akhirnya mempengaruhi produktivitas perikanan di Indonesia.

Baca juga: Polusi Plastik Percepat Pertumbuhan Alga Beracun

Ledakan alga dipicu respons biologis yang sangat kompleks, terutama dipengaruhi kelebihan nutrisi dan kenaikan suhu permukaan laut akibat pemanasan global.

"Kalau ada input dari daratan juga akan mengubah salinitas. Nah, ada pula penyebab dari faktor kimiawi di air laut berupa nutrien, yang dibawa dari daratan oleh sungai, oleh run-off air hujan dan sebagainya itu meningkat, itu juga akan menyebabkan penyuburan perairan yang cukup ekstrem. Kalau sangat subur nih, tiba-tiba langsung, plankton-plankton itu bereproduksi sangat cepat, dalam 2-3 hari blooming alganya," tutur A'an.

Ledakan alga menyedot oksigen terlarut dalam air laut untuk menyokong pertumbuhanya. Jika kekurangan oksigen sampai batas ekstrem atau di bawah 65 mikromol per meter kubik, maka akan terjadi hipoksia atau enggak ada kadar oksigen terlarut dalam air, yang menyebabkan banyak ikan dan hewan laut lainnya mati.

"Oksigennya disedot alga untuk bernapas ketika malam hari. Kalau alganya banyak, oksigennya akan habis, yang akhirnya membunuh ikan-ikan lainnya," ucapnya.

Kadar asam di laut meningkat

Selain ledakan alga, Indonesia juga masih minim mitigasi untuk kematian massal ikan dan pengasaman laut.

Menurut A'an, Indonesia masih beriorientasi terestrial atau daratan, yang pada gilirannya menciptakan gap cukup besar dalam pendanaan untuk memahami laut. Itu tercermin dari sistem pemantauan masih berorientasi terestrial dan belum beranjak ke arah kelautan.

Misalnya, data dasar laut era kolonial Belanda yang diserahkan ke Indonesia pada 1980-an, sampai sekarang masih 30 persen yang sudah divalidasi ulang agar lebih presisi.

"Ya, masih banyak spot-spot yang belum dilihat, data kasarnya ada di daerah itu, tetapi untuk melihat apakah valid enggak, apakah benar kedalamannya disebutkan 1000 meter, benar enggak 1000 meter nih, itu perlu dilihat ulang?" ujar A'an.

Baca juga: Deteksi Ledakan Alga Beracun, NASA Kembangkan AI

Ia menganggap, sistem pemantauan pesisir dan laut sangat krusial bagi Indonesia. Ini mengingat potensi risiko bahaya dari lautan yang besar. Misalnya, gelombang pasang, pengasaman laut, dan banjir rob yang erat kaitannya dengan krisis iklim. Ada pula potensi risiko bahaya dari lautan lainnya yang terkait El Nino dan gelombang panas.

Indonesia, kata dia, perlu melakukan persiapan melalui mitigasi bencana yang bersumber dari lautan. Itu termasuk mengurangi faktor kerentanan terhadap risiko bencana dari lautan dengan meningkatkan kapasitas dan kemampuan secara nasional dalam aspek pendataan maupun prediksi.

Ia menilai, kemampuan Indonesia dalam memprediksi dan melakukan mitigasi bencana yang berasal dari lautan menjadi rendah karena minimnya data.

"Ocean hazard menjadi ancaman yang selalu ada. Tetapi, menjadi kerentanan karena kita tidak memiliki kemampuan untuk memprediksi tadi. Nah, ketidakmampuan kita memprediksi itu disebabkan karena kita tidak memiliki data dan kita belum memiliki sistem monitoring atau sistem observasi laut itu," ucapnya.

Untuk data gelombang pasang, serta suhu dan arus laut, Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) sudah 100 persen menjangkaunya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau