Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perang Nuklir Skala Kecil di Wilayah Tropis Berpotensi Rusak Total Lapisan Ozon Bumi

Kompas.com, 11 Juni 2026, 17:13 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Model simulasi iklim menunjukkan bahwa perang nuklir skala kecil di wilayah tropis justru akan merusak lapisan ozon jauh lebih parah daripada perang nuklir skala besar di wilayah utara bumi.

Hal ini juga akan meningkatkan paparan radiasi ultraviolet (UV) yang berbahaya di seluruh dunia.

Melansir New Scientist, Rabu (10/6/2026) model simulasi tersebut menunjukkan perang nuklir yang relatif kecil seperti yang mungkin terjadi antara India dan Pakistan bisa menimbulkan kerusakan pada lapisan ozon yang sama parahnya dengan perang nuklir skala raksasa antara Amerika Serikat dan Rusia.

Hasil model simulasi perang nuklir

Studi-studi terbaru menggunakan model simulasi iklim yang canggih menunjukkan bahwa tingkat kerusakan ozon setelah perang nuklir selama ini telah diremehkan.

Baca juga: Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima

Oleh karena itu, karena cemas dengan banyaknya konflik yang terjadi di seluruh dunia, Zhihong Zhuo dari Universitas Quebec di Montreal dan rekan-rekannya memutuskan untuk melihat dampak yang mungkin terjadi jika salah satu konflik tersebut berubah menjadi perang nuklir.

Berdasarkan perkiraan dari studi-studi sebelumnya, mereka membuat simulasi perang nuklir India-Pakistan yang akan melepaskan 5 juta ton jelaga ke atmosfer dan perang AS-Rusia yang melepaskan 16 juta ton jelaga.

Berbeda dari studi terdahulu, mereka juga memperhitungkan zat polutan lain seperti karbon organik.

Model simulasi iklim mereka menunjukkan bahwa pola perputaran udara di wilayah tropis akan membuat polutan dari perang India-Pakistan terbang lebih tinggi ke atmosfer, bertahan di sana lebih lama, dan menyebar lebih luas ke seluruh dunia.

"Pergerakan polutan ke atas ini jauh lebih kuat pada kasus-kasus di wilayah tropis," kata Zhuo.

Jadi, meskipun jumlah polutan yang dihasilkan lebih sedikit daripada perang AS-Rusia, dampak kerusakannya terhadap lapisan ozon justru sebenarnya jauh lebih besar.

Model simulasi tersebut menunjukkan bahwa kerusakan terparah pada lapisan ozon akan terjadi di wilayah kutub, mirip dengan kondisi bocornya ozon akibat zat kimia berbahaya yang disebut CFC (gas freon).

Namun, tingkat radiasi ultraviolet (UV) yang berbahaya juga bisa melonjak hingga 30 persen bahkan di wilayah tropis, yang akan berdampak sangat buruk bagi kesehatan manusia dan hewan liar.

Picu musim dingin nuklir

Tak hanya itu, perang nuklir akan memicu "musim dingin nuklir" di mana bumi menjadi sangat dingin dan gelap karena tertutup asap.

"Kami ingin menegaskan bahwa perang nuklir skala kecil sekalipun dapat menghasilkan dampak buruk global yang sangat luas, jauh melampaui wilayah konflik tersebut," kata Zhihong Zhuo dari Universitas Quebec di Montreal.

Baca juga: Singapura Pilih Energi Nuklir untuk Lepas dari Ketergantungan LNG?

Perang nuklir akan menghancurkan wilayah tempat bom atau hulu ledak itu meledak, di mana ledakan, panas, dan radiasinya berpotensi membunuh jutaan orang secara langsung.

Ledakan dan kebakaran yang dihasilkan akan sangat besar sehingga asap dalam jumlah raksasa akan terpompa ke atmosfer, menghalangi sinar matahari, dan menyebabkan suhu bumi merosot tajam, sebuah fenomena yang disebut musim dingin nuklir.

"Akan terjadi penurunan suhu permukaan bumi yang sangat ekstrem dalam beberapa tahun pertama," kata Zhuo, yang mempresentasikan hasil temuan timnya dalam pertemuan European Geosciences Union di Wina bulan lalu.

Pemulihan dari musim dingin nuklir akan terhambat oleh kerusakan pada lapisan ozon di stratosfer yang berfungsi menghalangi sinar ultraviolet (UV) yang berbahaya.

Tingkat radiasi UV yang tinggi dapat merusak tanaman maupun hewan, yang berarti hasil panen pertanian akan tetap rendah meskipun suhu bumi nantinya mulai membaik.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
LSM/Figur
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami 'Burnout' pada Tahun 2026
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami "Burnout" pada Tahun 2026
Swasta
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Pemerintah
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh 'Pion'
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh "Pion"
LSM/Figur
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau