KOMPAS.com - Model simulasi iklim menunjukkan bahwa perang nuklir skala kecil di wilayah tropis justru akan merusak lapisan ozon jauh lebih parah daripada perang nuklir skala besar di wilayah utara bumi.
Hal ini juga akan meningkatkan paparan radiasi ultraviolet (UV) yang berbahaya di seluruh dunia.
Melansir New Scientist, Rabu (10/6/2026) model simulasi tersebut menunjukkan perang nuklir yang relatif kecil seperti yang mungkin terjadi antara India dan Pakistan bisa menimbulkan kerusakan pada lapisan ozon yang sama parahnya dengan perang nuklir skala raksasa antara Amerika Serikat dan Rusia.
Studi-studi terbaru menggunakan model simulasi iklim yang canggih menunjukkan bahwa tingkat kerusakan ozon setelah perang nuklir selama ini telah diremehkan.
Baca juga: Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
Oleh karena itu, karena cemas dengan banyaknya konflik yang terjadi di seluruh dunia, Zhihong Zhuo dari Universitas Quebec di Montreal dan rekan-rekannya memutuskan untuk melihat dampak yang mungkin terjadi jika salah satu konflik tersebut berubah menjadi perang nuklir.
Berdasarkan perkiraan dari studi-studi sebelumnya, mereka membuat simulasi perang nuklir India-Pakistan yang akan melepaskan 5 juta ton jelaga ke atmosfer dan perang AS-Rusia yang melepaskan 16 juta ton jelaga.
Berbeda dari studi terdahulu, mereka juga memperhitungkan zat polutan lain seperti karbon organik.
Model simulasi iklim mereka menunjukkan bahwa pola perputaran udara di wilayah tropis akan membuat polutan dari perang India-Pakistan terbang lebih tinggi ke atmosfer, bertahan di sana lebih lama, dan menyebar lebih luas ke seluruh dunia.
"Pergerakan polutan ke atas ini jauh lebih kuat pada kasus-kasus di wilayah tropis," kata Zhuo.
Jadi, meskipun jumlah polutan yang dihasilkan lebih sedikit daripada perang AS-Rusia, dampak kerusakannya terhadap lapisan ozon justru sebenarnya jauh lebih besar.
Model simulasi tersebut menunjukkan bahwa kerusakan terparah pada lapisan ozon akan terjadi di wilayah kutub, mirip dengan kondisi bocornya ozon akibat zat kimia berbahaya yang disebut CFC (gas freon).
Namun, tingkat radiasi ultraviolet (UV) yang berbahaya juga bisa melonjak hingga 30 persen bahkan di wilayah tropis, yang akan berdampak sangat buruk bagi kesehatan manusia dan hewan liar.
Tak hanya itu, perang nuklir akan memicu "musim dingin nuklir" di mana bumi menjadi sangat dingin dan gelap karena tertutup asap.
"Kami ingin menegaskan bahwa perang nuklir skala kecil sekalipun dapat menghasilkan dampak buruk global yang sangat luas, jauh melampaui wilayah konflik tersebut," kata Zhihong Zhuo dari Universitas Quebec di Montreal.
Baca juga: Singapura Pilih Energi Nuklir untuk Lepas dari Ketergantungan LNG?
Perang nuklir akan menghancurkan wilayah tempat bom atau hulu ledak itu meledak, di mana ledakan, panas, dan radiasinya berpotensi membunuh jutaan orang secara langsung.
Ledakan dan kebakaran yang dihasilkan akan sangat besar sehingga asap dalam jumlah raksasa akan terpompa ke atmosfer, menghalangi sinar matahari, dan menyebabkan suhu bumi merosot tajam, sebuah fenomena yang disebut musim dingin nuklir.
"Akan terjadi penurunan suhu permukaan bumi yang sangat ekstrem dalam beberapa tahun pertama," kata Zhuo, yang mempresentasikan hasil temuan timnya dalam pertemuan European Geosciences Union di Wina bulan lalu.
Pemulihan dari musim dingin nuklir akan terhambat oleh kerusakan pada lapisan ozon di stratosfer yang berfungsi menghalangi sinar ultraviolet (UV) yang berbahaya.
Tingkat radiasi UV yang tinggi dapat merusak tanaman maupun hewan, yang berarti hasil panen pertanian akan tetap rendah meskipun suhu bumi nantinya mulai membaik.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya