Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Fitria Tiara Fina Choit Besan
Wiraswasta

Mahasiswa Magister Hukum Universitas Indonesia

Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi

Kompas.com, 19 Juni 2026, 13:50 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KERJA sama antara Indonesia dan Singapura dalam mengembangkan ekonomi sirkular menunjukkan semakin besarnya perhatian terhadap model pembangunan yang fokus pada keberlanjutan.

Di tengah tekanan yang meningkat terhadap sumber daya alam, bertambahnya jumlah sampah, dan kebutuhan untuk beralih ke ekonomi hijau, ekonomi sirkular kini dilihat bukan hanya sebagai konsep untuk pelestarian lingkungan, tetapi juga sebagai pendekatan pembangunan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan tata kelola.

Bagi Indonesia, kolaborasi ini menjadi tanda positif bahwa pengelolaan sumber daya tidak lagi dilihat dari sudut pandang tradisional yang hanya mengutamakan produksi dan konsumsi.

Namun, di balik semangat positif itu, terdapat pertanyaan penting yang perlu dijawab: Apakah Indonesia benar-benar siap untuk mengubah sampah dan limbah menjadi sumber daya ekonomi yang bernilai?

Baca juga: Mandat Palsu, Data Curian: Bedah Kebohongan BEM Bersatu

Pertanyaan ini menjadi semakin penting karena tantangan dalam ekonomi sirkular tidak hanya berkaitan dengan teknologi atau investasi, melainkan juga melibatkan kemampuan kelembagaan, regulasi, pendanaan, dan praktik tata kelola yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor bisnis, serta masyarakat.

Ekonomi Sirkular: Lebih dari Sekadar Pengelolaan Sampah

Dalam metode pembangunan tradisional, kegiatan ekonomi biasanya mengikuti pola linier.

Sumber daya alam diambil, diproses menjadi barang, digunakan, dan akhirnya dibuang sebagai limbah.

Model ini telah menjadi dasar bagi pertumbuhan ekonomi selama bertahun-tahun, tetapi di sisi lain juga menimbulkan dampak yang semakin negatif terhadap lingkungan.

Ekonomi sirkular memberikan pendekatan yang lain. Alih-alih melihat limbah sebagai akhir dari suatu proses, ekonomi sirkular berusaha untuk menjaga nilai produk, materi, dan sumber daya selama mungkin dengan mengurangi penggunaan bahan baku, menggunakan kembali, mendaur ulang, hingga memanfaatkan kembali sebagai sumber energi.

Dalam konteks ini, sampah tidak lagi dianggap sebagai beban yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan kembali dalam siklus ekonomi. Perubahan cara pandang ini adalah inti dari ekonomi sirkular.

Salah satu pandangan yang sering muncul dalam banyak diskusi publik adalah bahwa masalah lingkungan di Indonesia disebabkan oleh kekurangan regulasi.

Namun, dalam kerangka ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah, Indonesia sebenarnya telah memiliki berbagai kebijakan yang cukup memadai.

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 mengenai Pengelolaan Sampah telah mengubah cara pandang pengelolaan limbah dari metode pengumpulan dan pembuangan menjadi strategi yang lebih terpadu dalam pengurangan dan penanganan sampah.

Selanjutnya, pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 mengenai Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis Sampah Rumah Tangga, yang memiliki tujuan untuk mengurangi dan menangani sampah di tingkat nasional.

Pada tingkatan yang lebih strategis, ekonomi sirkular kini menjadi fokus dalam agenda pembangunan nasional melalui RPJPN 2025–2045 dan RPJMN 2025–2029.

Beberapa kementerian dan lembaga juga telah menyusun rencana yang mendorong pemanfaatan sumber daya dengan cara yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Oleh karena itu, tantangan utama yang dihadapi Indonesia saat ini bukan terletak pada adanya regulasi, tetapi lebih kepada kemampuan untuk mengimplementasikan berbagai kebijakan ini ke dalam praktik yang efektif.

Ketika Tantangan Sesungguhnya Berada di Tingkat Daerah

Keberhasilan ekonomi sirkular pada akhirnya sangat bergantung pada kapasitas pemerintah daerah.

Di tingkat inilah persoalan sampah sehari-hari dihadapi, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, pemilahan, hingga pengolahan akhir.

Banyak daerah masih menghadapi keterbatasan infrastruktur pengelolaan sampah. Tempat pemrosesan akhir (TPA) di berbagai wilayah telah mengalami kelebihan kapasitas.

Fasilitas daur ulang masih terbatas, sementara sistem pemilahan sampah dari sumbernya belum berjalan secara optimal.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga harus menghadapi berbagai prioritas pembangunan lain yang tidak kalah mendesak, seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur dasar, dan pelayanan publik.

Dalam kondisi fiskal yang terbatas, investasi pada sektor pengelolaan sampah sering kali belum menjadi prioritas utama.

Padahal, ekonomi sirkular tidak dapat berjalan tanpa dukungan infrastruktur dan kelembagaan yang memadai.

Oleh karena itu, keberhasilan berbagai kebijakan nasional pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh kesiapan daerah sebagai pelaksana utama.

Transformasi menjadi ekonomi sirkular memerlukan investasi yang cukup besar.

Baca juga: Mencari Budiman Sudjatmiko

Pembangunan fasilitas pengolahan sampah yang modern, teknologi pemanfaatan limbah menjadi energi, pusat untuk daur ulang, dan sistem manajemen limbah industri memerlukan dukungan dana yang berkelanjutan.

Dalam hal ini, kolaborasi antara Indonesia dan Singapura memiliki nilai strategis.

Selain menciptakan peluang untuk investasi, kerjasama ini juga bisa menjadi alat untuk mentransfer teknologi dan memperkuat kapasitas lembaga.

Pengalaman Singapura dalam menangani keterbatasan sumber daya dan memaksimalkan penggunaan limbah dapat menjadi acuan penting bagi Indonesia yang menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.

Namun, investasi dan teknologi tidak akan mencapai hasil maksimal tanpa adanya tata kelola yang baik.

Kepastian dalam regulasi, koordinasi antar lembaga, serta dukungan dari pemerintah daerah juga merupakan faktor yang sama pentingnya dengan aspek keuangan.

Mengubah Cara Pandang terhadap Sampah

Salah satu rintangan utama dalam ekonomi sirkular sebenarnya bukan terletak pada aspek teknis, melainkan pada transformasi cara berpikir.

Selama bertahun-tahun, sampah hanya dilihat sebagai masalah kebersihan. Akibatnya, kebijakan lebih banyak terfokus pada pengangkutan dan pembuangan.

Namun, dari sudut pandang ekonomi sirkular, sampah diakui sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

Baca juga: Fenomena Frugal Living dan Kelas Menengah Tertekan

Plastik bisa didaur ulang menjadi bahan baku untuk industri, limbah organik dapat diubah menjadi kompos atau energi, sementara berbagai jenis material lainnya bisa kembali dimanfaatkan dalam proses produksi.

Perubahan cara pandang ini memerlukan partisipasi dari semua pihak, mulai dari pemerintah, pelaku bisnis, hingga masyarakat.

Tanpa adanya perubahan dalam perilaku dan pola konsumsi, pengembangan ekonomi sirkular akan menghadapi kesulitan untuk mencapai potensi maksimalnya.

Kerja sama Indonesia dan Singapura di bidang ekonomi sirkular menunjukkan bahwa isu keberlanjutan semakin menjadi bagian penting dari agenda pembangunan masa depan.

Namun keberhasilan ekonomi sirkular tidak ditentukan oleh banyaknya kesepakatan kerja sama yang ditandatangani ataupun jumlah regulasi yang diterbitkan.

Keberhasilan sesungguhnya terletak pada kemampuan mengubah sampah menjadi sumber daya yang bernilai melalui tata kelola yang efektif, dukungan pembiayaan yang memadai, serta partisipasi aktif masyarakat.

Ketika limbah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari sebuah proses ekonomi, melainkan sebagai awal dari siklus ekonomi baru, saat itulah ekonomi sirkular benar-benar dapat menjadi fondasi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Pemerintah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
Pemerintah
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Pemerintah
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
Pemerintah
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Pemerintah
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Swasta
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Pemerintah
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Pemerintah
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
Pemerintah
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Swasta
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
BrandzView
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
LSM/Figur
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
Pemerintah
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
LSM/Figur
MagnaMinds Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perkuat Pendidikan Inklusif di Sulawesi Utara
MagnaMinds Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perkuat Pendidikan Inklusif di Sulawesi Utara
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau