Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konservasi Indonesia Ajak Artis Luncurkan Program Kawan Konservasi

Kompas.com, 30 Juni 2026, 11:02 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Konservasi Indonesia (KI) resmi meluncurkan program 'Kawan Konservasi', sebuah inisiatif penggalangan dukungan pelestarian alam berbasis masyarakat pada Minggu (28/6/2026).

Program ini membuka ruang luas bagi individu maupun korporasi untuk berkontribusi secara nyata dalam keberlanjutan alam Indonesia.

Vice President Program KI, Fitri Hasibuan mengatakan, kemitraan strategis ini dirancang sebagai wadah penggalangan dana yang menyajikan fleksibilitas bagi perorangan maupun organisasi untuk berkontribusi langsung dalam menjaga kelestarian alam.

Baca juga: Belajar Menjaga Laut dari Konservasi Penyu di Batuhiu Pangandaran

Program Kawan Konservasi ini menjadi medium sosialisasi bagi serangkaian aksi nyata yang tengah dan akan dilakukan oleh KI di tingkat tapak. Di sektor darat, dukungan publik akan disalurkan untuk memperkuat program penanaman pohon di Sukabumi, Jawa Barat.

Di wilayah timur Indonesia, dana yang digalang salah satunya ditujukan untuk mendukung pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dan perlindungan Hutan Adat (HA) Konda di Sorong Selatan, Papua Barat Daya.

"Perlindungan ini menjadi krusial mengingat wilayah adat di Semenanjung Konda, berdasar pemetaan, secara ekologis didominasi oleh hutan seluas 15.232 hektare, ekosistem mangrove seluas 12.501 hektare, serta dusun sagu seluas 2.508 hektare yang menjadi pilar utama ketahanan pangan lokal,” ujar Fitri dalam keterangan tertulis, Senin (29/6/2026).

Hingga saat ini, KI terus melakukan pendampingan terhadap Masyarakat Hukum Adat (MHA) dari sub-suku Nakna, Gemna, Afsya, dan Yaben, dengan total luasan usulan perlindungan mencapai 41.111,81 hektare.

Berdasarkan surat keputusan Kementerian Kehutanan (Kemenhut), potensi luasan yang saat ini berproses untuk disahkan baru mencapai sekitar 19.000 hektare atau setara 48,25 persen dari total usulan tersebut.

KI bersama MHA Konda sudah melakukan pemantauan intensif terhadap keanekaragaman hayati menggunakan teknologi kamera penjebak (camera trap), sensor akustik, survei transek, hingga patroli rutin berbasis masyarakat selama periode tahun 2022-2025.

Proses pelestarian serupa juga telah diukir di bagian barat Indonesia, di mana KI berupaya menjaga kawasan penyangga hulu.

Baca juga: RI dan Inggris Perkuat Kerja Sama Pembiayaan Konservasi Kawasan Lindung

KI telah mendampingi masyarakat Sukabumi, Jawa Barat, selama lebih dari dua dekade dalam upaya pemulihan lanskap Gedepahala sebagai penyedia jasa lingkungan yang vital.

Konservasi lautan

Transformasi sosial dan ekologis ini tidak berhenti di wilayah daratan, namun juga merambah sampai ke wilayah perairan nusantara. Salah satunya di kawasan Nusa Tenggara Barat, yang mana pendekatan berbasis masyarakat mampu mengubah cara pandang nelayan dan masyarakat di Teluk Saleh terhadap keberadaan satwa karismatik hiu paus.

'Kawan Konservasi' juga berkontribusi untuk pengelolaan kawasan laut berkelanjutan, termasuk pengelolaan kawasan bentang laut atau LSMPA (Lesser Sunda Marine Protected Area).

Bersama pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku, KI sedang menyusun perencanaan penetapan kawasan perlindungan laut (Marine Protected Area/MPA) baru di Kabupaten Belu, NTT, dengan target luasan mencapai 12.000 hektare.

"Langkah ini menjadi bagian penting dari peran strategis KI sebagai bagian dari Tim Percepatan Pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan di Provinsi NTT dan Maluku,” ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau