JAKARTA, KOMPAS.com - Konservasi Indonesia (KI) resmi meluncurkan program 'Kawan Konservasi', sebuah inisiatif penggalangan dukungan pelestarian alam berbasis masyarakat pada Minggu (28/6/2026).
Program ini membuka ruang luas bagi individu maupun korporasi untuk berkontribusi secara nyata dalam keberlanjutan alam Indonesia.
Vice President Program KI, Fitri Hasibuan mengatakan, kemitraan strategis ini dirancang sebagai wadah penggalangan dana yang menyajikan fleksibilitas bagi perorangan maupun organisasi untuk berkontribusi langsung dalam menjaga kelestarian alam.
Baca juga: Belajar Menjaga Laut dari Konservasi Penyu di Batuhiu Pangandaran
Program Kawan Konservasi ini menjadi medium sosialisasi bagi serangkaian aksi nyata yang tengah dan akan dilakukan oleh KI di tingkat tapak. Di sektor darat, dukungan publik akan disalurkan untuk memperkuat program penanaman pohon di Sukabumi, Jawa Barat.
Di wilayah timur Indonesia, dana yang digalang salah satunya ditujukan untuk mendukung pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dan perlindungan Hutan Adat (HA) Konda di Sorong Selatan, Papua Barat Daya.
"Perlindungan ini menjadi krusial mengingat wilayah adat di Semenanjung Konda, berdasar pemetaan, secara ekologis didominasi oleh hutan seluas 15.232 hektare, ekosistem mangrove seluas 12.501 hektare, serta dusun sagu seluas 2.508 hektare yang menjadi pilar utama ketahanan pangan lokal,” ujar Fitri dalam keterangan tertulis, Senin (29/6/2026).
Hingga saat ini, KI terus melakukan pendampingan terhadap Masyarakat Hukum Adat (MHA) dari sub-suku Nakna, Gemna, Afsya, dan Yaben, dengan total luasan usulan perlindungan mencapai 41.111,81 hektare.
Berdasarkan surat keputusan Kementerian Kehutanan (Kemenhut), potensi luasan yang saat ini berproses untuk disahkan baru mencapai sekitar 19.000 hektare atau setara 48,25 persen dari total usulan tersebut.
KI bersama MHA Konda sudah melakukan pemantauan intensif terhadap keanekaragaman hayati menggunakan teknologi kamera penjebak (camera trap), sensor akustik, survei transek, hingga patroli rutin berbasis masyarakat selama periode tahun 2022-2025.
Proses pelestarian serupa juga telah diukir di bagian barat Indonesia, di mana KI berupaya menjaga kawasan penyangga hulu.
Baca juga: RI dan Inggris Perkuat Kerja Sama Pembiayaan Konservasi Kawasan Lindung
KI telah mendampingi masyarakat Sukabumi, Jawa Barat, selama lebih dari dua dekade dalam upaya pemulihan lanskap Gedepahala sebagai penyedia jasa lingkungan yang vital.
Transformasi sosial dan ekologis ini tidak berhenti di wilayah daratan, namun juga merambah sampai ke wilayah perairan nusantara. Salah satunya di kawasan Nusa Tenggara Barat, yang mana pendekatan berbasis masyarakat mampu mengubah cara pandang nelayan dan masyarakat di Teluk Saleh terhadap keberadaan satwa karismatik hiu paus.
'Kawan Konservasi' juga berkontribusi untuk pengelolaan kawasan laut berkelanjutan, termasuk pengelolaan kawasan bentang laut atau LSMPA (Lesser Sunda Marine Protected Area).
Bersama pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku, KI sedang menyusun perencanaan penetapan kawasan perlindungan laut (Marine Protected Area/MPA) baru di Kabupaten Belu, NTT, dengan target luasan mencapai 12.000 hektare.
"Langkah ini menjadi bagian penting dari peran strategis KI sebagai bagian dari Tim Percepatan Pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan di Provinsi NTT dan Maluku,” ucapnya.
Aktor sekaligus pegiat lingkungan, Ramon Tungka menyebut, tidak ada istilah kontribusi yang tidak berharga atau sia-sia dalam urusan penyelamatan lingkungan hidup,karena setiap elemen sekecil apa pun memiliki dampak berantai.
"Tidak ada kontribusi yang sia-sia dalam menjaga alam, sekecil apa pun nominal atau aksi yang kita berikan, melalui Kawan Konservasi," tutur Ramon,
Ia mengingatkan, setiap orang punya peran masing-masing, di mana masyarakat perkotaan bisa mendukung dengan menyalurkan dana agar orang-orang di tapak yang menjaga hutan dan laut secara langsung.
Baca juga: Dorong Konservasi dan Ekonomi, Masyarakat Kampung Salafen Uji Coba Wisata Buka Sasi
"Banyak orang merasa kontribusinya terlalu kecil untuk membuat perubahan di bumi ini, padahal perubahan besar selalu dimulai dari banyak langkah kecil yang dikumpulkan bersama," ujar Ramon, memberikan dorongan moral bagi para pengunjung CFD yang masih ragu untuk memulai langkah nyata mereka.
Senada, aktris dan pegiat lingkungan hidup serta satwa, Manohara Odelia, menggarisbawahi pentingnya membangun kesadaran kolektif untuk mendukung komunitas lokal yang hidup berdampingan secara langsung dengan ekosistem sensitif.
Sebagai garda terdepan perlindungan lingkungan, masyarakat adat menjadi pihak paling dekat sekaligus merasakan dampak langsungnya jika alam rusak.
"Kesadaran kolektif dari kita yang tinggal di perkotaan untuk mendukung mereka akan menciptakan perubahan yang masif, karena semakin banyak orang yang terlibat dalam program Kawan Konservasi ini, maka akan semakin besar pula dampak nyata yang bisa kita hadirkan untuk bumi Indonesia," tuturnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya