Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gelombang Panas Bikin Penjualan AC di Inggris Meroket 320 Persen

Kompas.com, 7 Juli 2026, 17:49 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Permintaan pasang AC di rumah-rumah Inggris melonjak sangat tinggi dalam dua minggu terakhir.

Jumlahnya naik lebih dari 300 persen dibanding waktu yang sama tahun lalu karena suhu udara mencapai rekor tertinggi yang paling panas sepanjang sejarah.

Data tersebut didapat dari laporan terbaru MyBuilder, situs pasar daring untuk mencari pekerja bangunan bersama perusahaan-perusahaan mitranya.

Melansir Edie, Senin (6/7/2026) badan cuaca Inggris Met Office menyebut suhu udara di beberapa wilayah sempat mencapai 37,7 derajat Celsius. Angka ini merupakan rekor panas baru paling ekstrem untuk bulan Juni.

Sekarang, Inggris sedang bersiap menghadapi gelombang panas yang ketiga di tahun ini, yang diperkirakan akan membuat suhu udara naik lagi hingga mencapai 34-35 derajat Celsius, sedikit lebih rendah dibanding puncak panas di bulan Juni lalu.

Baca juga: Penggunaan AC Dinilai Jadi Kebutuhan di Eropa, sekaligus Dilema Iklim

Ketidaksiapan hadapi cuaca ekstrem

Kondisi cuaca panas ini telah menunjukkan dengan jelas bahwa fasilitas dan infrastruktur yang ada saat ini masih belum siap menghadapi cuaca ekstrem.

Komite Perubahan Iklim (CCC) telah memperingatkan bahwa untuk membuat Inggris siap menghadapi perubahan iklim, termasuk cuaca panas ekstrem, dibutuhkan dana sekitar 11 miliar poundsterling setiap tahunnya, baik dari uang negara maupun perusahaan swasta.

Namun, jika tindakan ini ditunda-tunda, biaya kerugian yang harus ditanggung negara bisa mencapai 1 persen hingga 5 persen dari total pendapatan ekonomi Inggris (PDB) setiap tahunnya pada pertengahan abad ini.

"Rentetan cuaca sangat panas yang terjadi baru-baru ini menyadarkan banyak orang bahwa mayoritas rumah dan gedung di Inggris memang tidak dirancang atau dilengkapi alat untuk menghadapi suhu tinggi," kata Andy Simms, seorang ahli rumah dari MyBuilder.

"Cuaca panas yang terjadi terus-menerus membuat rumah-rumah berubah menjadi perangkap panas. Rasanya sangat tidak nyaman dan terkadang bahkan berbahaya jika tidak ada tempat untuk berteduh dari rasa gerah tersebut. Jadi, tidak mengherankan jika data kami menunjukkan lonjakan besar pada permintaan pemasangan AC dan alat pendingin rumah lainnya," katanya lagi.

Simms juga mengungkapkan bahwa ia melihat adanya lonjakan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk pemasangan alat pendingin seiring dengan gelombang panas yang terus berlanjut.

Hal ini menunjukkan masyarakat mulai sadar bahwa AC mungkin sudah menjadi kebutuhan pokok karena suhu udara yang terus meningkat.

Gelombang panas di seluruh Eropa

Situasi yang terjadi selama beberapa minggu terakhir juga serupa di negara-negara Eropa lainnya, di mana banyak wilayah mencatat suhu udara di atas 40 derajat Celsius.

Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), benua Eropa memanas jauh lebih cepat dibandingkan dengan benua lainnya di bumi.

Prancis bahkan telah mengeluarkan status peringatan panas tingkat tertinggi di 58 wilayahnya, memperingatkan adanya risiko tinggi kebakaran hutan, dan melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan serta puluhan kasus tenggelam yang fatal akibat cuaca panas tersebut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau