JAKARTA, KOMPAS.com – Bentang alam karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan Timur diproyeksikan menjadi benteng penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus selangkah lagi menyandang status Geopark Nasional.
Berdasarkan hasil penelitian, bentang alam seluas sekitar 1,8 juta hektare itu diperkirakan menyimpan cadangan karbon hingga 275,57 gigaton karbon (Gt-C) yang berasal dari ekosistem hutan dan formasi batu gamping.
Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur Sri Wahyuni mengatakan, besarnya cadangan karbon tersebut berpotensi memberikan kontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca, baik di tingkat daerah maupun nasional.
"Dengan cadangan karbon tersebut, emisi Provinsi Kalimantan Timur mampu ditekan hingga 16,04 persen dan emisi nasional sebesar 0,74 persen setiap tahun," ujar Sri Wahyuni dalam keterangan tertulis, Kamis (9/7/2026).
Saat ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah melakukan verifikasi lapangan terhadap usulan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat pada 6–10 Juli 2026.
Tahapan tersebut menjadi proses penting sebelum pemerintah menetapkan kawasan tersebut sebagai Geopark Nasional. Tim verifikasi tidak hanya menilai kekayaan geologi kawasan, tetapi juga aspek pengelolaan, konservasi keanekaragaman hayati, pelibatan masyarakat, hingga pengembangan ekonomi lokal sebagai syarat pengelolaan geopark yang berkelanjutan.
Sangkulirang-Mangkalihat merupakan bentang alam karst yang membentang di Kabupaten Kutai Timur dan Berau. Kawasan ini dinilai memenuhi tiga pilar utama geopark, yakni geologi, keanekaragaman hayati, dan kebudayaan.
Secara geologi, kawasan tersebut menyimpan batuan berumur Kapur hingga endapan delta purba yang terbentuk sekitar 141 juta hingga 5 juta tahun lalu.
Selain itu, kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat memiliki banyak gua yang menyimpan lukisan cadas prasejarah, yang menjadi bukti kawasan tersebut telah dihuni manusia sejak ribuan tahun silam.
Upaya menjadikan Sangkulirang-Mangkalihat sebagai Geopark Nasional telah dimulai sejak 2019 melalui kerja sama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).
Baca juga: Ini Alasan Kawah Ijen Jadi Geopark Global UNESCO yang Mendunia
Proses tersebut diawali dengan inventarisasi keragaman geologi, yang kemudian menjadi dasar penyusunan dokumen pengusulan geopark.
Pada 2024, Kementerian ESDM menetapkan kawasan tersebut sebagai Situs Warisan Geologi (Geosite), yang mencakup 11 geosite di Kabupaten Kutai Timur dan 15 geosite di Kabupaten Berau.
Selain memperkuat dasar ilmiah dan hukum, proses pengusulan geopark juga dibarengi dengan penguatan kapasitas masyarakat melalui berbagai program berbasis desa, seperti SIGAP (Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan) dan skema Perhutanan Sosial.
Melalui program tersebut, masyarakat didorong menyusun rencana pengelolaan sumber daya alam secara partisipatif, mengembangkan mata pencaharian berkelanjutan, sekaligus menjaga kawasan hutan, bentang alam karst, dan keanekaragaman hayati.
Manajer Senior YKAN Niel Makinuddin mengatakan, keberhasilan sebuah geopark tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alamnya, tetapi juga oleh kemampuan para pemangku kepentingan menjaga dan mengelolanya secara berkelanjutan.
"Di sejumlah kampung, masyarakat kini menjadi garda terdepan dalam menjaga hutan, gua prasejarah, sumber air, hingga destinasi wisata alam yang berada di dalam bentang alam karst Sangkulirang-Mangkalihat. Kami melihat antusiasme dan komitmen masyarakat di kawasan ini sangat besar untuk menjaga warisan alam yang mereka miliki," ujar Niel.
Menurut dia, apabila berhasil memperoleh status Geopark Nasional, Sangkulirang-Mangkalihat juga akan memiliki peluang untuk diusulkan menjadi UNESCO Global Geopark sehingga membuka peluang yang lebih besar bagi upaya konservasi maupun pengembangan ekonomi masyarakat berbasis pariwisata berkelanjutan.
"Kami berharap status Geopark Nasional dapat semakin memperkuat upaya pelestarian kawasan sekaligus membuka manfaat yang lebih besar bagi masyarakat lokal," kata Niel.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya