Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sangkulirang-Mangkalihat Simpan Cadangan Karbon 275 Gigaton, Selangkah Lagi Jadi Geopark Nasional

Kompas.com, 10 Juli 2026, 15:38 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Bentang alam karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan Timur diproyeksikan menjadi benteng penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus selangkah lagi menyandang status Geopark Nasional.

Berdasarkan hasil penelitian, bentang alam seluas sekitar 1,8 juta hektare itu diperkirakan menyimpan cadangan karbon hingga 275,57 gigaton karbon (Gt-C) yang berasal dari ekosistem hutan dan formasi batu gamping.

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur Sri Wahyuni mengatakan, besarnya cadangan karbon tersebut berpotensi memberikan kontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Baca juga: Tambang Emas Ilegal di Jambi Merambah ke Geopark Merangin, Status Warisan Dunia Terancam Dicabut Unesco

"Dengan cadangan karbon tersebut, emisi Provinsi Kalimantan Timur mampu ditekan hingga 16,04 persen dan emisi nasional sebesar 0,74 persen setiap tahun," ujar Sri Wahyuni dalam keterangan tertulis, Kamis (9/7/2026).

Saat ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah melakukan verifikasi lapangan terhadap usulan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat pada 6–10 Juli 2026.

Tahapan tersebut menjadi proses penting sebelum pemerintah menetapkan kawasan tersebut sebagai Geopark Nasional. Tim verifikasi tidak hanya menilai kekayaan geologi kawasan, tetapi juga aspek pengelolaan, konservasi keanekaragaman hayati, pelibatan masyarakat, hingga pengembangan ekonomi lokal sebagai syarat pengelolaan geopark yang berkelanjutan.

Simpan warisan geologi dan budaya

Sangkulirang-Mangkalihat merupakan bentang alam karst yang membentang di Kabupaten Kutai Timur dan Berau. Kawasan ini dinilai memenuhi tiga pilar utama geopark, yakni geologi, keanekaragaman hayati, dan kebudayaan.

Secara geologi, kawasan tersebut menyimpan batuan berumur Kapur hingga endapan delta purba yang terbentuk sekitar 141 juta hingga 5 juta tahun lalu.

Selain itu, kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat memiliki banyak gua yang menyimpan lukisan cadas prasejarah, yang menjadi bukti kawasan tersebut telah dihuni manusia sejak ribuan tahun silam.

Upaya menjadikan Sangkulirang-Mangkalihat sebagai Geopark Nasional telah dimulai sejak 2019 melalui kerja sama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).

Baca juga: Ini Alasan Kawah Ijen Jadi Geopark Global UNESCO yang Mendunia

Proses tersebut diawali dengan inventarisasi keragaman geologi, yang kemudian menjadi dasar penyusunan dokumen pengusulan geopark.

Pada 2024, Kementerian ESDM menetapkan kawasan tersebut sebagai Situs Warisan Geologi (Geosite), yang mencakup 11 geosite di Kabupaten Kutai Timur dan 15 geosite di Kabupaten Berau.

Selain memperkuat dasar ilmiah dan hukum, proses pengusulan geopark juga dibarengi dengan penguatan kapasitas masyarakat melalui berbagai program berbasis desa, seperti SIGAP (Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan) dan skema Perhutanan Sosial.

Melalui program tersebut, masyarakat didorong menyusun rencana pengelolaan sumber daya alam secara partisipatif, mengembangkan mata pencaharian berkelanjutan, sekaligus menjaga kawasan hutan, bentang alam karst, dan keanekaragaman hayati.

Manajer Senior YKAN Niel Makinuddin mengatakan, keberhasilan sebuah geopark tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alamnya, tetapi juga oleh kemampuan para pemangku kepentingan menjaga dan mengelolanya secara berkelanjutan.

"Di sejumlah kampung, masyarakat kini menjadi garda terdepan dalam menjaga hutan, gua prasejarah, sumber air, hingga destinasi wisata alam yang berada di dalam bentang alam karst Sangkulirang-Mangkalihat. Kami melihat antusiasme dan komitmen masyarakat di kawasan ini sangat besar untuk menjaga warisan alam yang mereka miliki," ujar Niel.

Menurut dia, apabila berhasil memperoleh status Geopark Nasional, Sangkulirang-Mangkalihat juga akan memiliki peluang untuk diusulkan menjadi UNESCO Global Geopark sehingga membuka peluang yang lebih besar bagi upaya konservasi maupun pengembangan ekonomi masyarakat berbasis pariwisata berkelanjutan.

"Kami berharap status Geopark Nasional dapat semakin memperkuat upaya pelestarian kawasan sekaligus membuka manfaat yang lebih besar bagi masyarakat lokal," kata Niel.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
LSM/Figur
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Pemerintah
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
LSM/Figur
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Pemerintah
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau