KOMPAS.com - Sebuah studi baru menemukan, kondisi terumbu karang di Bali terus menurun, meskipun berbagai upaya pemulihan telah dilakukan.
Sanur merupakan tempat awal berkembangnya pariwisata di Bali. Kota pesisir yang menghadap ke Selat Lombok ini mulai ramai dikunjungi seniman dan wisatawan sejak tahun 1920-an.
Hingga kini, perekonomian lokal Sanur masih sangat bergantung pada pendapatan dari wisatawan yang ingin menikmati pantai hangat serta keindahan kehidupan laut tropisnya.
Namun, melansir Eco Business, Jumat (25/9/2026) penelitian terbaru menunjukkan bahwa ekosistem laut Sanur sedang tidak baik-baik saja. Terumbu karangnya terus mengalami kerusakan, meskipun telah dilakukan berbagai upaya pemulihan melalui penanaman bibit karang maupun pembuatan terumbu karang buatan.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Ocean & Coastal Management ini menemukan bahwa proyek pemulihan karang di Sanur sering kali dijalankan tanpa mengatasi penyebab utamanya terlebih dahulu, seperti penumpukan lumpur dan pembuangan limbah air.
Baca juga: Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
"Masyarakat melihat dampak kerusakan langsung pada terumbu karang, sehingga mereka merasa mendesak untuk segera bertindak di lokasi tersebut. Namun pada kenyataannya dan dari segi efisiensi, tentu jauh lebih efektif untuk mengatasi akar masalah utamanya terlebih dahulu," kata Min Chung, penulis utama studi sekaligus mahasiswa magister di Universitas Tokyo.
Melalui analisis data kesehatan karang dan wawancara dengan 18 pemangku kepentingan yang memengaruhi pengelolaan karang di Sanur, Chung dan timnya menemukan adanya benturan kepentingan yang rumit antar-kelompok mulai dari instansi pemerintah, otoritas lokal, organisasi masyarakat, akademisi, nelayan, hingga pelaku industri pariwisata.
"Terdapat sudut pandang yang berbeda tentang cara melestarikan terumbu karang serta peran pariwisata di kawasan tersebut," ujar Chung.
Ia mencatat bahwa para pemangku kepentingan melihat terumbu karang secara berbeda-beda. Ada yang menganggapnya sebagai daya tarik wisata, tempat menangkap ikan, pelindung pantai, hingga penyimpan karbon biru.
Menurut studi tersebut, tumpang-tindih kewenangan ini mengakibatkan koordinasi yang buruk. Akibatnya terjadi pemborosan sumber daya, program kerja yang tumpang-tindih, serta solusi yang sering kali mandek akibat birokrasi yang lambat. Dengan kata lain, potensi kerja sama tim justru berubah menjadi kelumpuhan dalam pengambilan keputusan.
Sementara itu, kondisi terumbu karang di Sanur terus memburuk. Analisis ekologis dari studi tersebut menunjukkan bahwa karang lokal telah berada dalam kondisi rusak sedang hingga parah.
Wilayah yang dulunya dipenuhi terumbu karang bercabang kini telah berubah menjadi hamparan puing-puing yang ditumbuhi lumut. Area menyelam di dekat pantai bahkan mengalami kerusakan lebih parah dibandingkan area luar pantai yang jarang dikunjungi.
Baca juga: Ini Penyebab Terumbu Karang Sulit Pulih Setelah Rusak
Tantangan besar lainnya yang ditemukan dalam studi ini adalah mencari keseimbangan antara industri pariwisata dan upaya pelestarian lingkungan.
Di satu sisi, para narasumber menghubungkan pariwisata dengan dampak kerusakan karang yang nyata seperti perenang yang mematahkan karang, kapal wisata yang melempar jangkar di atas terumbu karang, hingga fasilitas wisata yang membuang limbah cair ke laut pesisir.
Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya di Bali yang menemukan hubungan antara lonjakan pariwisata dan penurunan ekosistem pesisir, di mana tutupan terumbu karang di pusat-pusat wisata merosot hingga 38 persen antara tahun 2010 dan 2023.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya