Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

65,5 Persen Kepala Keluarga Perempuan Tanpa Bansos Terancam Kenaikan Muka Air Laut

Kompas.com, 14 Juli 2026, 14:00 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan muka air laut berpotensi memperparah kerentanan sosial-ekonomi masyarakat pesisir. Data Sistem Perencanaan Kolaboratif dan Analisis Data Terpadu (SEPAKAT) menunjukkan sebanyak 65,5 persen kepala keluarga perempuan yang terdampak kenaikan muka air laut belum menerima satu pun bantuan sosial (bansos).

Temuan tersebut menjadi perhatian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas karena kelompok rentan yang belum terlindungi berisiko menghadapi dampak ekonomi yang lebih berat akibat krisis iklim.

Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Bappenas, Maliki, mengatakan kelompok masyarakat miskin yang terdampak kenaikan muka air laut juga masih banyak yang belum memperoleh perlindungan jaminan kesehatan.

Baca juga: Melawan Waktu dan Air Laut: Bagaimana Rumah Si Pitung Bertahan di Tengah Penurunan Muka Tanah?

Data SEPAKAT mencatat sekitar 17,88 persen penduduk pada kelompok desil 1 hingga 5, atau kategori sangat miskin sampai rentan miskin, belum terdaftar sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), meski tinggal di wilayah yang terdampak kenaikan muka air laut.

"Mereka tidak mempunyai PBI. Kepemilikan JKN ini juga masih belum didapatkan padahal mereka sudah terdampak. Dan terlihat sektornya, terutama lebih banyak pekerja informal," ujar Maliki di Jakarta, Selasa (15/7/2026).

Pekerja informal dan UMKM ikut terdampak

SEPAKAT juga menunjukkan dampak kenaikan muka air laut terhadap aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Sebanyak 4.787 pekerja informal serta sekitar 14,59 persen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan pesisir diproyeksikan terdampak.

Menurut Maliki, perubahan kondisi pesisir akibat kenaikan muka air laut berpotensi mendorong pergeseran lapangan kerja dari sektor formal ke sektor informal. Karena itu, pemerintah perlu mulai memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir sejak dini.

"Nah, inilah yang memang harus bisa kami rencanakan berdasarkan individu maupun rumah tangga sesuai tingkat kerentanannya. Memang tidak mudah, tetapi dengan data yang semakin valid dan mutakhir kami bisa melakukan pendekatan kepada keluarga-keluarga di desa yang terancam kenaikan muka air laut," katanya.

Maliki menjelaskan, SEPAKAT mengintegrasikan berbagai sumber data, mulai dari data elevasi permukaan tanah (FABDEM), data sosial ekonomi Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek) dan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), hingga data layanan dasar dari Badan Informasi Geospasial (BIG), Dapodik, dan BPJS Kesehatan.

Melalui integrasi tersebut, pemerintah dapat memetakan dampak kenaikan muka air laut hingga tingkat rumah tangga berdasarkan berbagai skenario, mulai dari kenaikan 25 sentimeter hingga 5 meter.

Baca juga: Banjir Jabodetabek Meluas, Pakar Sebut Dipicu Krisis Iklim dan Penurunan Tanah

Selain memetakan wilayah yang berpotensi terdampak, sistem ini juga menganalisis kerentanan sosial, ekonomi, dan layanan dasar untuk membantu pemerintah menentukan wilayah prioritas penanganan.

"Pemetaan dilakukan sampai berbagai skenario kenaikan muka air laut, bahkan sampai satu meter. Karena di-overlay dengan data penduduk, terlihat daerah-daerah yang paling sensitif. Misalnya Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan yang menunjukkan tingkat kerentanan cukup tinggi pada beberapa skenario kenaikan muka air laut," ujar Maliki.

Risiko ekonomi semakin besar

Sebelumnya, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengingatkan krisis iklim berpotensi menimbulkan kerugian sosial ekonomi lebih dari Rp 2.000 triliun pada 2029 apabila tidak diantisipasi.

Menurut Rachmat, sebanyak 319 kabupaten/kota di Indonesia saat ini memiliki tingkat kerentanan iklim yang sangat tinggi.

"Kalau tidak teratasi, ini berarti dua pertiga dari APBN kita bisa habis hanya gara-gara kerentanan iklim," ujar Rachmat, Senin (13/7/2026).

Ia menambahkan, tingginya potensi kerugian tersebut tidak terlepas dari peran strategis kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa yang menyumbang sekitar 27 persen produk domestik bruto (PDB) nasional dan menjadi lokasi sekitar 60 persen industri di Indonesia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau