JAKARTA, KOMPAS.com – Guru Besar ke-248 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Hosta Ardhyananta, mengembangkan material komposit polimer hibrida berbahan limbah tandan kosong kelapa sawit yang memiliki karakter ringan sekaligus berkekuatan mekanik tinggi.
Material tersebut dikembangkan dengan mengombinasikan dua atau lebih komponen pengisi (filler), yakni partikel mikro berbentuk sferis dan serat mikro.
Kombinasi itu menghasilkan material baru dengan densitas rendah, tetapi memiliki kekuatan tarik dan kekuatan lentur yang lebih baik.
Baca juga: Produksi Sawit pada Kuartal III 2026 Diproyeksi Turun akibat Tekanan Cuaca
Keunikan material ini terletak pada penggunaan serat selulosa yang berasal dari limbah tandan kosong kelapa sawit dan bahan alami lainnya. Menurut Hosta, ketersediaan bahan baku tersebut sangat melimpah di Indonesia, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.
"Padahal, filler limbah serat alam bernilai tinggi karena ikatan yang kuat pada matriks epoksi," ujar Hosta, dikutip dari laman resmi ITS, Kamis (16/7/2026).
Ia menjelaskan, material komposit polimer hibrida dikembangkan dengan memadukan sumber daya alam Indonesia dan material sintetis.
Material ini tersusun atas matriks polimer yang diperkuat oleh filler, sementara matriksnya dapat berasal dari minyak bumi, tumbuhan, maupun hewan.
Selain serat selulosa, berbagai material berbasis biomassa, serat alami, dan serat mikro juga dinilai memiliki potensi sebagai bahan penguat karena mampu meningkatkan performa material komposit.
Hosta mengatakan, kebutuhan terhadap material komposit yang ringan, berkinerja tinggi, dan berkelanjutan terus meningkat untuk mendukung berbagai sektor strategis, mulai dari transportasi, dirgantara, energi, konstruksi, kesehatan, hingga pertahanan.
Berdasarkan hasil pengujian, material komposit yang dikembangkan menunjukkan peningkatan signifikan pada karakteristik mekaniknya. Kekuatan tarik dan kekuatan lentur meningkat tanpa menambah densitas material secara berarti.
"Serat selulosa berperan sebagai jembatan yang memperkuat interaksi antarkomponen, sehingga transfer beban tegangan menjadi lebih baik," kata alumnus program doktor Toyohashi University of Technology, Jepang, tersebut.
Menurut Hosta, pemanfaatan sumber daya lokal tidak hanya mendukung pengembangan material komposit, tetapi juga dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap material impor yang selama ini masih menjadi tantangan dalam mewujudkan kemandirian teknologi nasional.
Ia menambahkan, limbah tandan kosong kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku material komposit ringan, sedangkan minyak sawit berpotensi diolah menjadi biogasoline.
Baca juga: BBM dari Sawit Dinilai Tak Layak Secara Keekonomian
"Perkembangan teknologi material menjadi salah satu faktor yang mendorong kemajuan peradaban manusia," ujarnya.
Karena itu, Hosta berharap sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah dapat terus diperkuat untuk mempercepat pengembangan sekaligus hilirisasi material komposit hibrida di Indonesia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya