Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Persoalan sampah di sekolah umumnya diselesaikan di dalam lingkungan sekolah itu sendiri. Namun, bagi tim Smart-Go dari SMKN 3 Mandau, Provinsi Riau, tantangan justru muncul ketika sistem pengelolaan sampah di sekolah telah berjalan baik, sementara lingkungan di sekitarnya masih bergelut dengan persoalan sampah.
Berangkat dari kondisi tersebut, lima siswa SMKN 3 Mandau, yakni Alfi Sunny, Nabila Olivia, Ridho Ady, Siti Nur Amalia, dan Yovie Fauzulia, mengembangkan Smart-Go, sebuah platform bank sampah digital yang menghubungkan masyarakat dengan bank sampah sekolah.
Melalui platform ini, warga dapat memilah sampah dari rumah, mengajukan penjemputan melalui mitra ojek, hingga memperoleh poin yang tercatat secara digital.
Baca juga: Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Inovasi tersebut mengantarkan Smart-Go meraih Runner-up kategori Waste Management Project dalam ASRI Awards 2025.
ASRI Awards merupakan ajang apresiasi yang diselenggarakan Kompas Gramedia bersama Unilever Indonesia bagi siswa yang menghadirkan solusi nyata untuk mendukung gaya hidup berkelanjutan.
Program ini juga didukung oleh materi pembelajaran mengenai keberlanjutan melalui platform Lestari Academy, yang dapat diakses secara gratis oleh siswa dari berbagai sekolah di Indonesia.
Di SMKN 3 Mandau, budaya mengelola sampah sebenarnya telah terbentuk dengan baik. Siswa terbiasa memilah sampah dan mengolah limbah. Ketiadaan kantin di sekolah juga membuat sebagian besar siswa membawa bekal dari rumah dan membawa pulang kembali wadah makan mereka, sehingga volume sampah relatif kecil.
Namun, kondisi itu justru memunculkan pertanyaan baru.
Jika lingkungan sekolah sudah bersih, sementara kawasan di luar sekolah masih dipenuhi sampah dan bahkan belum memiliki tempat pembuangan akhir, apakah bank sampah cukup berhenti sebagai program internal sekolah?
Pertanyaan tersebut menjadi titik balik lahirnya Smart-Go. Tim menyadari bahwa tantangan sesungguhnya bukan lagi mengelola sampah di sekolah, melainkan membangun sistem yang mampu menjangkau masyarakat sekitar.
Smart-Go kemudian dikembangkan sebagai platform digital yang mempertemukan warga dengan bank sampah sekolah.
Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat memilah sampah dari rumah, kemudian menjadwalkan penjemputan oleh mitra ojek. Seluruh transaksi tercatat dalam sistem digital yang dilengkapi mekanisme poin sebagai bentuk apresiasi bagi pengguna.
Baca juga: Singapura Evaluasi Rencana Induk Daur Ulang Sampah Demi Perpanjang Usia TPA Semakau
Dengan pendekatan itu, sampah yang sebelumnya tidak terkelola mulai memiliki jalur pengumpulan yang lebih teratur. Di sisi lain, bank sampah sekolah memperoleh pasokan material yang lebih beragam untuk diolah.
Manfaat Smart-Go tidak berhenti pada pengurangan sampah.
Program ini juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, termasuk orang tua siswa yang terlibat dalam proses penjemputan maupun pengolahan sampah. Sekolah pun berkembang menjadi ruang belajar yang terbuka, tempat praktik pengelolaan sampah dapat dipelajari dan diterapkan bersama masyarakat.
Meski demikian, perjalanan Smart-Go tidak selalu berjalan mulus. Mengubah kebiasaan masyarakat membutuhkan proses yang panjang.
Tim memilih membangun perubahan secara bertahap, dimulai dari penyusunan aturan yang jelas, membangun komitmen bersama, hingga terus melakukan edukasi agar kebiasaan memilah sampah tumbuh secara perlahan.
Bagi tim Smart-Go, keberhasilan program ini bukan hanya diukur dari penghargaan yang diraih.
Baca juga: Malaysia Andalkan Waste-to-Energy untuk Kurangi Sampah dan Hasilkan Listrik
Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika hasil pengelolaan sampah mampu membantu orang tua siswa membayar sebagian biaya seragam sekolah.
Dukungan dari Camat Bathin Solapan serta sejumlah pelaku industri di daerah tersebut semakin memperkuat keyakinan mereka bahwa inisiatif sederhana dapat memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.
Pada akhirnya, Smart-Go bukan sekadar aplikasi bank sampah digital. Lebih dari itu, program ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyangkut sistem, kolaborasi, dan partisipasi masyarakat.
Pengalaman SMKN 3 Mandau membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Ketika sebuah sekolah mampu membangun solusi yang melibatkan masyarakat di sekitarnya, manfaatnya pun melampaui pagar sekolah dan menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya