Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas

Kompas.com, 18 Juli 2026, 09:52 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Halaman depan rumah yang diaspal untuk diubah menjadi jalan masuk kendaraan merupakan faktor yang berkontribusi memperparah kenaikan suhu akibat krisis iklim.

Tren pengaspalan halaman depan sejak satu dekade lalu memperburuk pemanasan di siang hari dan pendinginan pada malamnya.

‎Secara individual, alih fungsi kebun di halaman depan rumah menjadi jalan aspal untuk kendaraan kemungkinan tampak kecil.

Namun, seiring semakin banyaknya taman di rumah menghilang akibat peningkatan jumlah jalan masuk beraspal, muncul masalah kenaikan suhu yang menyita perhatian secara mendadak karena mereka kesulitan tidur.

Baca juga: Gelombang Panas Picu Risiko Ekonomi Struktural di Eropa, Produktivitas Anjlok dan Jam Kerja Diubah

‎Berdasarkan laporan Royal Horticultural Society (RHS) Inggris pada 2025, sebesar 42 persen lahan taman rumah telah diaspal, dengan 55 persen bagian depan dan 36 persen belakang.

Hanya sekitar 8 persen halaman depan rumah di Inggris yang sepenuhnya diaspal pada 2005. Angka tersebut meningkat tiga kali lipat menjadi sekitar 24 persen pada 2015.

‎RHS memperkirakan ada 20,6 juta kebun rumah (depan dan belakang) di Inggris pada 2025, yang mencakup sekitar 502.757 hektar. Kebun-kebun rumah di Inggris secara keseluruhan mencakup area sekitar tiga kali lebih besar ketimbang gabungan semua cagar alam nasional.

Oleh karena itu, kebun rumah memiliki potensi yang sangat besar untuk mendukung kehidupan satwa liar.

‎Menurut Research Fellow at the Sustainability Research Institute, University of East London, Karina Corada-Pérez, mengganti vegetasi dengan permukaan keras mengurangi habitat bagi tumbuhan dan satwa liar sekaligus meningkatkan limpasan permukaan dan risiko banjir.

‎"Keinginan akan lebih banyak tempat parkir di luar jalan mungkin telah berkontribusi pada tren ini. Pergeseran ke kendaraan listrik mungkin telah menciptakan insentif lain untuk mengaspal halaman depan, karena hibah pemerintah membantu rumah tangga membiayai titik pengisian daya di rumah," ujar Corada-Pérez, dilansir dari The Conversation, Jumat (17/7/2026).

Suhu permukaan tanah

‎Permukaan kedap air, termasuk aspal yang digunakan untuk banyak jalan masuk, menyerap panas, sehingga meningkatkan suhu tanah dan udara.

Permukaan ini menyerap hingga 95 persen radiasi matahari yang masuk selama siang hari, mencapai suhu permukaan 50–55°C (122–131°F), dibandingkan dengan 27–32°C (81–90°F) untuk area yang ditutupi rumput atau pepohonan .

‎Pada siang hari, panas ini tersimpan dan dilepaskan secara perlahan setelah matahari terbenam atau disebut fenomena efek pulau panas perkotaan (urban heat island). Suhu udara malam hari menjadi lebih hangat , terutama selama gelombang panas.

Tidak seperti vegetasi, material keras ini mempunyai sedikit kemampuan untuk mendinginkan diri melalui penguapan dan membuat kota menjadi lebih panas.

‎Urban heat island ini bisa meningkatkan suhu kota sebesar 1–3 derajat Celcius dibandingkan dengan daerah pedesaan sekitarnya. "Itulah mengapa selalu terasa lebih panas di kota pada malam hari di musim panas," ucapnya.

Baca juga: Dosen IPB Jelaskan Penyebab Gelombang Panas Ekstrem di Eropa dan Dampaknya ke Indonesia

‎Selain itu, kenaikan suhu tersebut juga dapat menyebabkan masalah kesehatan. Gelombang panas musim panas 2018 menyebabkan sekitar 399 (dari 785) kematian terkait panas di wilayah Greater London yang disebabkan oleh efek malam hari ini.

‎Ia menganggap, halaman depan yang diaspal menghilangkan pendinginan evaporatif, proses di mana tumbuhan melepaskan uap air, yang menurunkan suhu udara. Tumbuhan dan pohon memberikan pendinginan melalui naungan dan evapotranspirasi.

Di lingkungan perkotaan, ruang hijau melepaskan kelembapan ke udara, yang melembabkan atmosfer dan secara signifikan mengurangi suhu udara. Mekanisme tersebut sama sekali tidak ada di area yang diaspal.

‎Mengganti halaman depan yang beraspal dengan rumput dapat mengurangi suhu permukaan siang hari sebesar 1,5–2,0 derajat Celcius dan suhu malam hari sebesar 0,3–0,5 derajat Celcius.

Dengan menambahkan pepohonan, kata dia, akan menggandakan manfaatnya, di mana pendinginan siang hari sebesar 2,0–3,0 derajat Celcius dan pengurangan suhu malam hari sebesar 0,5–1,0 derajat Celcius. Jadi, meningkatkan ruang hijau perkotaan sebesar 10 persen —terutama dengan menanam pohon— bisa menurunkan suhu udara rata-rata sekitar 0,5 derajat Celcius..

‎"Halaman depan rumah yang ditanami tanaman, alih-alih jalan masuk kendaraan, juga dapat mengurangi risiko banjir dengan menyerap air hujan, menyaring polutan udara, mendukung keanekaragaman hayati , dan meningkatkan kesejahteraan mental," tutur Corada-Pérez.

‎Sebelumnya, sebanyak empat dari lima rumah dan gedung perkantoran di 25 kota besar Eropa tidak memiliki tutupan pohon yang memadai untuk membantu menurunkan suhu di sekitarnya. Kondisi ini memperbesar risiko paparan gelombang panas di kawasan perkotaan yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

‎Temuan tersebut merupakan hasil penelitian yang dipimpin oleh peneliti Universitas RMIT Australia, Thami Croeser. Tim peneliti memetakan tutupan kanopi pohon dalam radius 60 meter dari sekitar 5,5 juta bangunan di Prancis, Spanyol, Italia, Jerman, Portugal, Yunani, dan Inggris.

‎Hasilnya, sebanyak 84 persen bangunan berada di bawah ambang batas tutupan kanopi pohon yang dinilai mampu memberikan efek pendinginan secara signifikan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
LSM/Figur
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Pemerintah
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
Pemerintah
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
Pemerintah
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Pemerintah
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk  Menyusui
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk Menyusui
Pemerintah
 Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
LSM/Figur
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Pemerintah
 Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
LSM/Figur
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
LSM/Figur
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Pemerintah
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
LSM/Figur
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau