KOMPAS.com - Anak muda saat ini menghadapi berbagai tantangan dalam dunia kerja. Misalnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat seperti kecerdasan buatan (AI) membuat mereka makin sulit menebak keahlian apa yang tetap berguna di tahun-tahun mendatang.
Hal ini memunculkan satu pertanyaan penting: bagaimana cara anak muda bersiap menghadapi kebutuhan pasar kerja yang akan terus berubah sepanjang hidup mereka?
Melansir laman resmi United Nations, Selasa (13/7/2026) Forum Ekonomi Dunia memperkirakan bahwa hampir 40 persen keahlian yang digunakan pekerja saat ini bisa berubah atau tidak berlaku lagi pada tahun 2030.
Hal ini membuat kemampuan beradaptasi dan terus belajar sepanjang hidup menjadi jauh lebih penting dari sebelumnya.
"Menurut saya, anak muda saat ini harus berpikiran lebih terbuka, lebih fleksibel, dan lebih mudah beradaptasi," kata Francesca Fanelli, direktur asosiasi senior untuk pengembangan karier lulusan di Universitas Columbia.
Ia menyebut solusinya bukan dengan mencari pekerjaan yang "aman dari AI."
Baca juga: Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026
Memang ada sebagian pelajar yang mulai melirik pekerjaan bidang keahlian praktis seperti teknisi atau pertukangan karena dinilai sulit digantikan oleh mesin. Namun, Fanelli mengingatkan agar mereka tidak memilih masa depan hanya berdasarkan tebakan tentang bidang apa yang paling tidak akan terpengaruh oleh perkembangan teknologi.
Sebaliknya, ia menyarankan anak muda untuk tetap fokus pada minat dan kelebihan diri sendiri, sambil mengumpulkan berbagai keahlian serbaguna yang bisa digunakan di berbagai jenis pekerjaan sepanjang karier mereka nantinya.
Daripada hanya terpaku pada satu jalur karier saja, Fanelli mengajak para pelajar untuk berani mencoba peluang di berbagai industri berbeda dan tetap terbuka pada perubahan arah seiring dunia kerja yang terus berkembang.
Meskipun masa depan dunia kerja sulit ditebak, Fanelli menilai satu hal sudah sangat jelas yakni tahu cara menggunakan AI dengan efektif kini menjadi keahlian yang sangat berharga di tempat kerja.
"Kemampuan memahami AI sekarang menjadi keahlian yang dicari oleh perusahaan. Mereka ingin memastikan karyawan baru tahu cara menggunakan teknologi tersebut," katanya.
Hal ini termasuk tahu cara mengajukan pertanyaan yang tepat dan menulis perintah (prompt) yang jelas, sekaligus bertanggung jawab untuk memeriksa ulang kebenaran informasi yang dihasilkan AI sebelum menggunakannya.
"Kamu harus menggunakan AI sebagai asisten, bukan sebagai pengambil keputusan. Kamulah yang tetap bertugas menyelesaikan masalah," kata Fanelli.
Bagi para pencari kerja, AI juga bisa sangat berguna selama proses melamar. Fanelli menyarankan penggunaan AI untuk mempelajari syarat pekerjaan, melihat keahlian apa yang dicari perusahaan, menyesuaikan isi surat lamaran, serta berlatih wawancara. Namun, ia mengingatkan bahwa bagus tidaknya hasil AI sangat bergantung pada seberapa jelas perintah yang kamu berikan.
Di saat yang sama, ia menegaskan bahwa setiap lamaran kerja harus tetap menunjukkan pengalaman dan kepribadian asli si pelamar.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya