Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?

Kompas.com, 18 Juli 2026, 11:01 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Anak muda saat ini menghadapi berbagai tantangan dalam dunia kerja. Misalnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat seperti kecerdasan buatan (AI) membuat mereka makin sulit menebak keahlian apa yang tetap berguna di tahun-tahun mendatang.

Hal ini memunculkan satu pertanyaan penting: bagaimana cara anak muda bersiap menghadapi kebutuhan pasar kerja yang akan terus berubah sepanjang hidup mereka?

Melansir laman resmi United Nations, Selasa (13/7/2026) Forum Ekonomi Dunia memperkirakan bahwa hampir 40 persen keahlian yang digunakan pekerja saat ini bisa berubah atau tidak berlaku lagi pada tahun 2030.

Hal ini membuat kemampuan beradaptasi dan terus belajar sepanjang hidup menjadi jauh lebih penting dari sebelumnya.

"Menurut saya, anak muda saat ini harus berpikiran lebih terbuka, lebih fleksibel, dan lebih mudah beradaptasi," kata Francesca Fanelli, direktur asosiasi senior untuk pengembangan karier lulusan di Universitas Columbia.

Ia menyebut solusinya bukan dengan mencari pekerjaan yang "aman dari AI."

Baca juga: Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026

Memang ada sebagian pelajar yang mulai melirik pekerjaan bidang keahlian praktis seperti teknisi atau pertukangan karena dinilai sulit digantikan oleh mesin. Namun, Fanelli mengingatkan agar mereka tidak memilih masa depan hanya berdasarkan tebakan tentang bidang apa yang paling tidak akan terpengaruh oleh perkembangan teknologi.

Sebaliknya, ia menyarankan anak muda untuk tetap fokus pada minat dan kelebihan diri sendiri, sambil mengumpulkan berbagai keahlian serbaguna yang bisa digunakan di berbagai jenis pekerjaan sepanjang karier mereka nantinya.

Daripada hanya terpaku pada satu jalur karier saja, Fanelli mengajak para pelajar untuk berani mencoba peluang di berbagai industri berbeda dan tetap terbuka pada perubahan arah seiring dunia kerja yang terus berkembang.

AI jadi keahlian yang berharga

Meskipun masa depan dunia kerja sulit ditebak, Fanelli menilai satu hal sudah sangat jelas yakni tahu cara menggunakan AI dengan efektif kini menjadi keahlian yang sangat berharga di tempat kerja.

"Kemampuan memahami AI sekarang menjadi keahlian yang dicari oleh perusahaan. Mereka ingin memastikan karyawan baru tahu cara menggunakan teknologi tersebut," katanya.

Hal ini termasuk tahu cara mengajukan pertanyaan yang tepat dan menulis perintah (prompt) yang jelas, sekaligus bertanggung jawab untuk memeriksa ulang kebenaran informasi yang dihasilkan AI sebelum menggunakannya.

"Kamu harus menggunakan AI sebagai asisten, bukan sebagai pengambil keputusan. Kamulah yang tetap bertugas menyelesaikan masalah," kata Fanelli.

Bagi para pencari kerja, AI juga bisa sangat berguna selama proses melamar. Fanelli menyarankan penggunaan AI untuk mempelajari syarat pekerjaan, melihat keahlian apa yang dicari perusahaan, menyesuaikan isi surat lamaran, serta berlatih wawancara. Namun, ia mengingatkan bahwa bagus tidaknya hasil AI sangat bergantung pada seberapa jelas perintah yang kamu berikan.

Di saat yang sama, ia menegaskan bahwa setiap lamaran kerja harus tetap menunjukkan pengalaman dan kepribadian asli si pelamar.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
LSM/Figur
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Pemerintah
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
LSM/Figur
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau