Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi

Kompas.com, 20 Juli 2026, 14:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan tahunan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF menunjukkan bahwa 90 persen bayi di seluruh dunia sudah menerima setidaknya satu dosis vaksin difteri, tetanus, dan batuk rejan (DTP) pada tahun lalu. Sementara itu, 85 persen bayi berhasil menyelesaikan tiga dosis vaksin secara lengkap.

Meskipun kedua angka tersebut naik satu persen dibandingkan tahun 2024, tingkat cakupan vaksinasi dunia secara keseluruhan masih belum pulih seperti sebelum adanya pandemi.

Melansir laman resmi United Nations, Rabu (15/7/2026) diperkirakan ada 13,5 juta anak yang tidak mendapatkan vaksin sama sekali pada tahun pertama hidup mereka di tahun 2025.

Walaupun angka anak tanpa vaksin (zero-dose) ini sudah berkurang sekitar 750.000 anak dibanding tahun sebelumnya, masih ada jutaan anak lainnya yang belum bisa terjangkau oleh layanan kesehatan.

Baca juga: WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan

Di saat yang sama, semakin banyak anak yang mulai disuntik vaksin tetapi tidak melanjutkannya sampai tuntas. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya ledakan wabah penyakit.

“Pemerintah dan para petugas kesehatan telah membantu mengembalikan tingkat vaksinasi dunia setelah sempat turun drastis selama pandemi COVID-19,” kata Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell.

“Namun, jutaan anak yang rentan masih belum terlindungi akibat perang, mengungsi dari rumah mereka, dan kemiskinan. Kita harus menjangkau setiap anak, dan kita harus membangun kembali rasa percaya masyarakat yang mulai luntur,” paparnya lagi.

Hambatan pemberian vaksinasi

Lebih dari separuh anak yang belum pernah divaksinasi hidup di negara yang tidak stabil atau dilanda perang. Di wilayah tersebut, program imunisasi sering kali terganggu oleh kondisi yang tidak aman, politik yang tidak stabil, serta kekurangan dana.

Misalnya, Suriah mengalami penurunan drastis pada tingkat vaksinasi sepanjang tahun 2025. Sebaliknya, Sudan mencatat salah satu kemajuan terbesar di dunia. Hal ini membuktikan bahwa angka imunisasi bisa kembali naik bahkan di daerah konflik, asalkan akses ke layanan kesehatan diperluas.

WHO juga memperingatkan bahwa tingkat vaksinasi mulai menurun di beberapa negara berpenghasilan menengah dan tinggi meskipun stok vaksin sangat mudah didapat. Hal ini disebabkan oleh rasa ragu masyarakat terhadap vaksin, menurunnya komitmen pemerintah, serta kendala fasilitas lainnya.

Direktur Jenderal WHO, Tedros, menyebut vaksin sebagai salah satu cara paling ampuh dan adil untuk melindungi kesehatan masyarakat.

“Setiap anak, baik yang lahir di keluarga kaya maupun miskin, di daerah damai maupun konflik, berhak mendapatkan perlindungan penyelamat jiwa yang diberikan oleh vaksin,” ujarnya.

PBB juga memperingatkan bahwa pemotongan dana kesehatan internasional baru-baru ini bisa merusak kemajuan yang sudah dicapai.

Lebih sedikit negara yang melakukan pendataan imunisasi pada tahun 2025. Hal ini membuat petugas makin sulit menemukan anak-anak yang belum divaksin dan lambat dalam menangani wabah yang baru muncul.

Baca juga: Kasus Kanker Naik 66 Persen pada 2050, Perbesar Kesenjangan Kesehatan Dunia

WHO dan UNICEF meminta pemerintah serta lembaga internasional untuk memperkuat program vaksinasi di daerah rawan konflik, melawan berita bohong, menambah bantuan dana, serta meningkatkan sistem pemantauan penyakit agar masalah ini tidak semakin parah.

Wabah campak masih terus terjadi

Laporan ini juga menyoroti kekhawatiran yang makin besar terhadap campak, salah satu penyakit paling menular di dunia.

Secara global, 84 persen anak menerima dosis pertama vaksin campak pada tahun 2025 dan 77 persen menerima dosis kedua. Angka ini masih jauh di bawah target 95 persen yang dibutuhkan untuk mencegah terjadinya wabah.

Akibatnya, sebanyak 57 negara melaporkan terjadinya wabah campak tingkat besar atau yang mengganggu kehidupan masyarakat pada tahun lalu.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 2 dari 13 Produsen Batu Bara Indonesia yang Serius Diversifikasi Bisnis
Hanya 2 dari 13 Produsen Batu Bara Indonesia yang Serius Diversifikasi Bisnis
LSM/Figur
Koneksi Politisi Bikin Perusahaan yang Lakukan Greenwashing Lolos Sorotan
Koneksi Politisi Bikin Perusahaan yang Lakukan Greenwashing Lolos Sorotan
Pemerintah
Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Pemerintah
Musim Mas Raih Mahayuga Award 2026 sebagai Pelopor Industri Hijau
Musim Mas Raih Mahayuga Award 2026 sebagai Pelopor Industri Hijau
BrandzView
Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara
Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara
Pemerintah
Pemanfaatan Biokokas dari Cangkang Sawit Berpotensi Jadi Pengurang Emisi Industri Nikel
Pemanfaatan Biokokas dari Cangkang Sawit Berpotensi Jadi Pengurang Emisi Industri Nikel
LSM/Figur
Waspada Panas Ekstrem,  Lebih Berbahaya Bagi Warga Usia 60 Tahun ke Atas
Waspada Panas Ekstrem, Lebih Berbahaya Bagi Warga Usia 60 Tahun ke Atas
Pemerintah
Kementerian Kebudayaan Jadi Wali Data Masyarakat Adat, Cari Keseimbangan Ekonomi dan Lingkungan
Kementerian Kebudayaan Jadi Wali Data Masyarakat Adat, Cari Keseimbangan Ekonomi dan Lingkungan
Pemerintah
Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis
Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis
Pemerintah
Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030
Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030
Pemerintah
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Pemerintah
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Pemerintah
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Pemerintah
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
LSM/Figur
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau