KOMPAS.com - Laporan global terbaru yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 8 Juli 2026 mengungkapkan kasus kanker tahunan akan melonjak sebesar 66,7 persen hingga mencapai 35 juta kasus pada 2050.
Lonjakan ini didorong oleh pertumbuhan jumlah penduduk, bertambahnya jumlah orang lanjut usia, dan meningkatnya paparan faktor risiko penyakit. Namun, peningkatan ini tidak akan menimpa semua negara secara merata.
Melansir Down to Earth, Kamis (9/7/2026) negara-negara kaya saat ini mencatat jumlah kasus kanker yang lebih tinggi, salah satunya karena kanker di sana bisa dideteksi lebih awal dan penduduknya berumur lebih panjang.
Negara-negara ini juga mencatat angka kesembuhan yang lebih baik karena pasien memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan tepat waktu.
Baca juga: Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara
Sebaliknya, masyarakat di negara-negara miskin dan berkembang terus mengalami angka kematian yang sangat tinggi. Hal ini terjadi karena akses ke fasilitas penting seperti pemeriksaan laboratorium (patologi), pemindaian (Rontgen/CT scan), operasi, terapi radiasi, serta obat-obatan masih sangat terbatas.
Untuk pertama kalinya, WHO membuat perkiraan yang membandingkan angka kelangsungan hidup 5 tahun pada penderita kanker payudara dan kanker anak antar-negara.
Hasilnya menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok. Lebih dari 85 persen wanita yang didiagnosis kanker payudara bisa bertahan hidup setidaknya selama 5 tahun di negara-negara kaya, dibandingkan dengan kurang dari 45 persen di negara-negara miskin.
Kesenjangan ini bahkan jauh lebih lebar pada kasus kanker anak. Anak-anak yang didiagnosis terkena kanker darah (leukemia limfoid) memiliki tingkat kelangsungan hidup sekitar 93 persen di Eropa, tetapi hanya 19 persen di beberapa wilayah di Afrika.
Laporan tersebut menemukan bahwa ketimpangan akses untuk melakukan pemeriksaan menjadi salah satu penyebab utama perbedaan ini. Hampir 47 persen penduduk dunia memiliki akses yang sangat sedikit atau bahkan tidak punya akses sama sekali ke fasilitas pemeriksaan dasar, termasuk laboratorium dan pemindaian tubuh.
Baca juga: Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting
Di wilayah sub-Sahara Afrika, hanya ada sekitar satu dokter ahli laboratorium kanker untuk setiap satu juta orang. Jumlah ini sekitar 50 kali lebih sedikit dibandingkan dengan negara-negara kaya.
Akses terhadap pengobatan kanker juga sangat tidak merata. Sebagai contoh, operasi kanker paru-paru ditanggung oleh jaminan kesehatan pemerintah di 96 persen negara kaya, sedangkan di negara miskin hanya 19 persen yang menanggungnya.
Laporan ini memperingatkan bahwa ketimpangan tersebut kemungkinan akan semakin melebar karena beban penyakit kanker bergeser ke negara-negara yang paling tidak siap menghadapinya.
Saat kasus kanker di seluruh dunia diperkirakan melonjak hampir 67 persen pada tahun 2050, negara-negara miskin diproyeksikan akan menghadapi lonjakan kasus baru yang luar biasa hingga 133 persen. Hal ini akan memberikan tekanan yang jauh lebih berat pada sistem kesehatan mereka yang sudah rapuh.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya