Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat

Kompas.com, 20 Juli 2026, 15:09 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

‎JAKARTA, KOMPAS.com - Penerbangan domestik di Indonesia, khususnya rute wisata populer seperti Jakarta-Bali, diproyeksikan bakal segera menggunakan bahan bakar pesawat ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).

‎Pertamina mengusulkan skema pencampuran (blending) sebesar 1 persen sebagai langkah awal.

‎Pilihan rute Jakarta-Bali bukan tanpa alasan. Deputy President Director in Pertamina Group (Persero), Oki Muraza menganggap, rute wisata memiliki segmentasi pasar yang lebih fleksibel terhadap penyesuaian harga demi menjaga keberlanjutan lingkungan.

Baca juga: Pengembangan SAF dari Limbah Pertanian Terkendala Teknologi dan Keekonomian

‎"Usulan kami adalah memulai dengan 1 persen untuk rute yang affordability (keterjangkauan)-nya tidak menjadi masalah. Sebagai contoh, Jakarta-Bali. Ketika orang ke Bali untuk berlibur, bisa dimulai dari trayek-trayek itu. Harapannya harga tidak berubah signifikan," ujar Oki dalam Pekan Riset Sawit Indonesia Tahun 2026, Senin (20/7/2026).

‎Langkah ini diambil setelah mempertimbangkan struktur biaya maskapai, di mana komponen bahan bakar menyumbang sekitar 30 persen dari total biaya operasional. Dengan pencampuran 1 persen, konsekuensi terhadap kenaikan harga tiket diharapkan tetap minim, meski berdampak besar bagi pengurangan emisi emisi gas rumah kaca (GRK).

‎Di sisi lain, Pertamina memproduksi SAF melalui pemanfaatan bahan baku limbah, seperti used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah. Perseroan ingin dekarbonisasi industri penerbangan di Indonesia dilakukan beriringan dengan menggerakkan ekonomi sirkular.

‎Pertamina saat ini mengeksplorasi penggunaan minyak jelantah untuk diproses di kilang-kilang mereka melalui metode co-processing. Namun, yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR)-nya adalah pengumpulan minyak jelantah dalam jumlah besar dan dengan harga terjangkau.

‎Dalam memproduksi SAF, Pertamina tidak perlu membangun kilang baru khusus dari nol, melainkan memanfaatkan unit Fluid Catalytic Cracking (FCC) atau RFCC yang sudah ada, kemudian memodifikasi prosesnya menggunakan teknologi co-processing.

‎Selain minyak jelantah, Pertamina juga sedang mengejar uji coba penggunaan oli bekas dan mengajak para akademisi mengeksplorasi bahan baku lainnya untuk memproduksi SAF.

‎Pertamina sudah menyiapkan tiga kilang untuk co-processing. Pertama, TDHT RU IV Cilacap. Kedua, LCO Treater RU VI Balongan. Ketiga, HCU RU II Dumai.

‎Pertamina juga menyiapkan satu kilang hijau (green refinery). Yaitu, biorefinery Cilacap (dedicated unit). Untuk produksi SAF, biorefinery nantinya akan menyerap bahan baku sekitar 300.000 ton per tahun.

Baca juga: Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?

‎"SAF ini kami sudah banyak bekerja sama dan kita sudah uji terbang beberapa kali. Mudah-mudahan juga kami bisa dorong. SAF ini juga kami siap secara teknologi baik co-processing maupun nanti khusus di kilang nabati. HVO atau hidrobiodiesel yang juga bisa kami produksi bersamaan dengan SAF," ucapnya.

‎Dalam kesiapan memproduksi SAF, Pertamina bekerja sama dengan Teknik Kimia ITB selama lebih dari 20 tahun dalam pengembangan katalis. Kini, Indonesia sudah bisa memproduksi katalis di dalam negeri melalui PT Katalis Sinergi Indonesia (PT KSI).

‎Kalau mempunyai pasokan minyak jelantah dalam jumlah besar, Pertamina akan memproduksi Used Cooking Oil Methyl Ester (UCOME), dengan cara yang sama kita memproduksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME).

‎"Ini juga ada pasarnya di sebagai blending untuk marine fuel oil," ujar Oki.

Tak kompetitif

Sebelumnya, Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Dimas H. Pamungkas mengatakan, harga per liter SAF dari limbah tersebut harus bisa diakomodasi oleh maskapai jika ingin diekspor maupun dipakai di dalam negeri.

‎Penerapan SAF untuk campuran avtur dalam strategi berbagai negara tidak ditampilkan secara transparan, karena harganya tergolong mahal. Peningkatan persentase campuran SAF ke avtur yang terlalu tinggi dapat menyebabkan maskapai penerbangan di suatu negara menjadi tidak kompetitif.

Oleh karena itu, menurut Oki, pengambil kebijakan perlu meninjau persentase penerapan SAF untuk campuran avtur, sehingga memperlambat kemajuan peningkatan baurannya.

Baca juga: Avtur Berkelanjutan Diprediksi Melonjak, Pertumbuhan SAF Global Capai 64 Persen per Tahun

‎Kendati demikian, pengembangan SAF di Indonesia potensial ke depannya karena Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyebut, produksi bioavtur ini secara global masih jauh di bawah jumlah yang dibutuhkan untuk membawa industri penerbangan menuju jalur bebas emisi GRK. 

‎Diketahui, IATA memperkirakan produksi SAF hanya akan sekitar 2,4 juta ton pada 2026 atau 0,8 persen dari total seluruh penggunaan bahan bakar pesawat di dunia.

"Kenaikan harga tiket ini juga tidak kompetitif bagi persaingan internasional. Tapi, ini (SAF) berpotensi ke depan. Sekarang memang mahalnya harga SAF ini karena memang masih tahap awal. Biodiesel juga pada tahap awal itu juga mahal," tutur Dimas dalam media briefing di Bogor, Rabu (10/6/2026).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Pemerintah
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Swasta
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau