Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan

Kompas.com, 20 Juli 2026, 17:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Asia semakin memperkuat posisinya sebagai raja ekonomi hijau dunia pada tahun 2025. Wilayah ini menyumbang hampir separuh dari seluruh pendapatan bisnis ramah lingkungan di dunia karena investasi energi bersih dan pabrik-pabriknya terus berkembang pesat, meskipun Asia sendiri masih sangat bergantung pada batu bara dan minyak impor.

Melansir Eco Business, Rabu (15/7/2026) Grup Bursa Efek London (LSEG) dalam laporan terbarunya menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan di Asia menyumbang 47 persen dari total pendapatan hijau global tahun lalu, porsi terbesar dibandingkan wilayah mana pun di dunia.

Kemajuan ini dipimpin oleh China, Jepang, Hong Kong, dan Korea Selatan.

Bisnis hijau Asia terus tumbuh

Penelitian tahunan tersebut menemukan bahwa pendapatan bisnis hijau di Asia tumbuh rata-rata 12 persen per tahun selama lima tahun terakhir, melampaui laju pertumbuhan dunia yang berada di angka 10 persen.

Laporan tersebut menambahkan bahwa sejak tahun 2016, perusahaan-perusahaan Asia selalu menjadi penyumbang pendapatan terbesar di dunia dari bisnis ramah lingkungan. Saat ini, mereka memegang peranan sangat penting di berbagai bidang, mulai dari pembuatan peralatan energi dan kendaraan, hingga pengolahan sampah dan pengendalian polusi.

Baca juga: Studi: Mayoritas Karhutla Besar di Asia Tenggara Berasal dari Banyak Titik Api

Menurut LSEG, China sendiri bahkan menghasilkan lebih dari separuh total keuntungan dunia di sektor baterai kendaraan listrik dan pembangunan jalur kereta api ramah lingkungan.

Temuan ini keluar bersamaan dengan nilai total pasar ekonomi hijau dunia yang berhasil menembus angka 10 triliun dolar AS (sekitar Rp179,77 kuadriliun) untuk pertama kalinya. Lonjakan ini didorong oleh pulihnya saham-saham bisnis hijau serta tingginya permintaan pasar akan tenaga listrik, efisiensi energi, dan transportasi bersih.

Menurut laporan LSEG, jika ekonomi hijau dianggap sebagai satu industri tersendiri, nilainya akan menjadi sektor terbesar ketiga di dunia. Posisinya berada di atas sektor kesehatan dan hanya kalah dari sektor teknologi serta industri berat.

Pendapatan bisnis ramah lingkungan di seluruh dunia naik 5,3 persen pada tahun 2025. Hal tersebut berdasarkan pendataan terhadap lebih dari 21.000 perusahaan publik. Keuntungan dilaporkan meningkat di tiga perempat dari total 133 bidang bisnis hijau yang dipantau.

Mobil listrik dan baterai canggih menjadi bidang dengan pertumbuhan paling kuat, dengan menyumbang tambahan pendapatan sebesar 62 miliar dolar AS (sekitar Rp1.114,57 triliun) sepanjang tahun tersebut.

Dilema keamanan energi di Asia

Laporan LSEG menyebutkan bahwa Asia kini telah menjadi tujuan investasi energi bersih terbesar di dunia. Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah, perencanaan industri yang matang, serta makin banyaknya penggunaan teknologi ramah lingkungan.

China sendiri menginvestasikan 625 miliar dolar AS (sekitar Rp11.235,62 triliun) untuk energi terbarukan, penyimpanan energi, tenaga nuklir, dan efisiensi energi. Angka ini menyumbang lebih dari 30 persen dari total investasi energi bersih di seluruh dunia.

India menyusul di urutan berikutnya dengan investasi energi bersih sekitar 100 miliar dolar AS (sekitar Rp1.797,70 triliun). Nilai ini setara dengan 83 persen dari seluruh anggaran modal yang mereka alokasikan untuk sektor ketenagakerjaan dan kelistrikan.

Sementara itu, Jepang sedang menjalankan strategi Transformasi Hijau (GX) dengan target investasi sebesar 1 triliun dolar AS (sekitar Rp17.977 triliun). Program ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbon di sektor kelistrikan melalui energi terbarukan dan nuklir, sekaligus menekan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.

Baca juga: Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air

Namun, LSEG menyebut bahwa Asia menghadapi tantangan ganda. Asia harus mempercepat perluasan energi bersih, tetapi di sisi lain tetap harus menjaga pasokan energi yang stabil dan terjangkau.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Keterampilan Menjadi Peluang, Begini Cara Bakti BCA Memberdayakan Talenta dan Komunitas
Dari Keterampilan Menjadi Peluang, Begini Cara Bakti BCA Memberdayakan Talenta dan Komunitas
BrandzView
Nusa Pulih 2026, Dukung Pemulihan Kesehatan Pascagempa Flores
Nusa Pulih 2026, Dukung Pemulihan Kesehatan Pascagempa Flores
Swasta
Satwa Liar Terjepit Erupsi Gunung, Ancaman Kepunahan dan Risiko Berkonflik dengan Manusia
Satwa Liar Terjepit Erupsi Gunung, Ancaman Kepunahan dan Risiko Berkonflik dengan Manusia
LSM/Figur
Air Hujan Pasca Erupsi Gunung Berapi, Pakar IPB Ingatkan Jernih Belum Tentu Aman
Air Hujan Pasca Erupsi Gunung Berapi, Pakar IPB Ingatkan Jernih Belum Tentu Aman
LSM/Figur
Peta Global Ungkap Dari Mana Asal Emisi Petrokimia Terbesar Dunia
Peta Global Ungkap Dari Mana Asal Emisi Petrokimia Terbesar Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Menyumbang 35 Persen Emisi Karbon UE pada 2023
Perdagangan Global Menyumbang 35 Persen Emisi Karbon UE pada 2023
Pemerintah
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Swasta
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Swasta
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau