Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan

Kompas.com, 20 Juli 2026, 17:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Wilayah Asia masih sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil, terutama dari Timur Tengah, serta terus menjadi pendorong utama permintaan dan investasi batu bara global.

Laporan tersebut mencatat bahwa China mengonsumsi 58 persen batu bara dunia, disusul oleh India dan Asia Tenggara. Lonjakan harga minyak baru-baru ini juga memaksa sejumlah negara seperti Thailand, Filipina, India, dan Bangladesh untuk meningkatkan kembali penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara.

“Krisis energi belakangan ini memperlihatkan betapa rentannya pasokan energi, terutama di Asia,” sebut LSEG. Mereka menambahkan bahwa Asia merupakan rumah bagi hampir 60 persen penduduk bumi dan sebagian besar negaranya masih berada di tahap berkembang.

Tekanan yang saling bertabrakan ini menunjukkan bahwa peralihan ke energi bersih dunia kini tidak hanya ditentukan oleh target pengurangan emisi semata. Masalah keamanan pasokan energi, ketahanan rantai pasok, dan daya saing industri juga makin menentukan arah perubahan tersebut.

Investasi hijau kembali bergairah

Laporan tersebut mencatat bahwa saham-saham bisnis ramah lingkungan di seluruh dunia kembali melonjak kuat, meskipun pasar keuangan sedang tidak menentu dan terjadi gangguan pasokan energi.

Indeks Saham Lingkungan FTSE mencatat kinerja 12,4 persen lebih tinggi dibandingkan pasar saham umum dalam kurun waktu 12 bulan hingga akhir April 2026. Sektor energi terbarukan menjadi bidang hijau dengan pertumbuhan paling kuat.

LSEG menyatakan bahwa sejak tahun 2008, keuntungan bisnis ekonomi hijau telah melampaui saham global hingga 133 persen, dengan kenaikan nilai bisnis rata-rata 18 persen per tahun, jauh di atas pasar saham umum yang hanya tumbuh 12 persen.

Perusahaan-perusahaan di seluruh dunia yang lebih dari separuh pendapatannya berasal dari produk dan layanan ramah lingkungan mencatatkan tingkat keuntungan operasional rata-rata 2 hingga 4 persen lebih tinggi dibandingkan perusahaan di sektor biasa.

Penerbitan obligasi hijau mencetak rekor tertinggi yaitu 605 miliar dolar AS (sekitar Rp10.876,09 triliun) pada tahun 2025, naik 5,7 persen dari tahun sebelumnya. Dua pertiga dari total surat utang ini diterbitkan oleh pihak perusahaan.

Eropa masih menjadi wilayah terbesar yang menerbitkan obligasi hijau perusahaan, tetapi kawasan Asia-Pasifik mencatatkan pertumbuhan tercepat, dengan lonjakan penerbitan mencapai 42 persen dibanding tahun sebelumnya.

LSEG juga mencatat transaksi jual-beli dan penggabungan perusahaan di sektor hijau bernilai total 4,1 triliun dolar AS (sekitar Rp73,71 kuadriliun) selama sepuluh tahun terakhir. Angka ini menyumbang 13,4 persen dari total seluruh nilai transaksi bisnis di dunia pada periode tersebut.

Analisis yang menggabungkan data Pendapatan Hijau LSEG dengan data lebih dari 1,5 juta transaksi menemukan bahwa perusahaan ramah lingkungan terutama melakukan akuisisi agar bisa berkembang lebih cepat. Sementara itu, keterlibatan dari perusahaan konvensional non-hijau masih terbilang terbatas.

Baca juga: Negara Asia-Pasifik Sepakati Peta Jalan Baru Atasi Krisis Iklim

Dalam laporan ini, ekonomi hijau didefinisikan sebagai perusahaan-perusahaan yang menyediakan produk dan layanan yang memberikan manfaat bagi lingkungan, mulai dari energi terbarukan dan air bersih, hingga efisiensi energi dan daur ulang.

Lebih lanjut, meskipun Asia memimpin dalam hal pendapatan bisnis hijau, Amerika Serikat masih menjadi pasar ekonomi hijau terbesar berdasarkan nilai pasar.

Nilai ekonomi hijau AS menyumbang 57 persen dari total dunia, yaitu sebesar 6 triliun dolar AS (sekitar Rp107,86 kuadriliun). Perusahaan-perusahaan AS sendiri menyumbang 27 persen dari total pendapatan hijau dunia.

Sementara itu, ekonomi hijau di Eropa mencapai nilai pasar dan pendapatan masing-masing sebesar 1,2 triliun dolar AS (sekitar Rp21,57 kuadriliun), dengan Jerman, Prancis, dan Inggris sebagai pasar utamanya.

LSEG memperingatkan bahwa maraknya upaya berbagai negara untuk memperkuat rantai pasok dalam negeri, melalui penerapan tarif, pembatasan ekspor, dan pemindahan pabrik teknologi hijau ke dalam negeri dapat memecah belah pasar ekonomi hijau dunia, padahal rantai pasok energi bersih saat ini justru makin saling terhubung.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Nusa Pulih 2026, Dukung Pemulihan Kesehatan Pascagempa Flores
Nusa Pulih 2026, Dukung Pemulihan Kesehatan Pascagempa Flores
Swasta
Satwa Liar Terjepit Erupsi Gunung, Ancaman Kepunahan dan Risiko Berkonflik dengan Manusia
Satwa Liar Terjepit Erupsi Gunung, Ancaman Kepunahan dan Risiko Berkonflik dengan Manusia
LSM/Figur
Air Hujan Pasca Erupsi Gunung Berapi, Pakar IPB Ingatkan Jernih Belum Tentu Aman
Air Hujan Pasca Erupsi Gunung Berapi, Pakar IPB Ingatkan Jernih Belum Tentu Aman
LSM/Figur
Peta Global Ungkap Dari Mana Asal Emisi Petrokimia Terbesar Dunia
Peta Global Ungkap Dari Mana Asal Emisi Petrokimia Terbesar Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Menyumbang 35 Persen Emisi Karbon UE pada 2023
Perdagangan Global Menyumbang 35 Persen Emisi Karbon UE pada 2023
Pemerintah
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Swasta
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Swasta
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau