Wilayah Asia masih sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil, terutama dari Timur Tengah, serta terus menjadi pendorong utama permintaan dan investasi batu bara global.
Laporan tersebut mencatat bahwa China mengonsumsi 58 persen batu bara dunia, disusul oleh India dan Asia Tenggara. Lonjakan harga minyak baru-baru ini juga memaksa sejumlah negara seperti Thailand, Filipina, India, dan Bangladesh untuk meningkatkan kembali penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara.
“Krisis energi belakangan ini memperlihatkan betapa rentannya pasokan energi, terutama di Asia,” sebut LSEG. Mereka menambahkan bahwa Asia merupakan rumah bagi hampir 60 persen penduduk bumi dan sebagian besar negaranya masih berada di tahap berkembang.
Tekanan yang saling bertabrakan ini menunjukkan bahwa peralihan ke energi bersih dunia kini tidak hanya ditentukan oleh target pengurangan emisi semata. Masalah keamanan pasokan energi, ketahanan rantai pasok, dan daya saing industri juga makin menentukan arah perubahan tersebut.
Laporan tersebut mencatat bahwa saham-saham bisnis ramah lingkungan di seluruh dunia kembali melonjak kuat, meskipun pasar keuangan sedang tidak menentu dan terjadi gangguan pasokan energi.
Indeks Saham Lingkungan FTSE mencatat kinerja 12,4 persen lebih tinggi dibandingkan pasar saham umum dalam kurun waktu 12 bulan hingga akhir April 2026. Sektor energi terbarukan menjadi bidang hijau dengan pertumbuhan paling kuat.
LSEG menyatakan bahwa sejak tahun 2008, keuntungan bisnis ekonomi hijau telah melampaui saham global hingga 133 persen, dengan kenaikan nilai bisnis rata-rata 18 persen per tahun, jauh di atas pasar saham umum yang hanya tumbuh 12 persen.
Perusahaan-perusahaan di seluruh dunia yang lebih dari separuh pendapatannya berasal dari produk dan layanan ramah lingkungan mencatatkan tingkat keuntungan operasional rata-rata 2 hingga 4 persen lebih tinggi dibandingkan perusahaan di sektor biasa.
Penerbitan obligasi hijau mencetak rekor tertinggi yaitu 605 miliar dolar AS (sekitar Rp10.876,09 triliun) pada tahun 2025, naik 5,7 persen dari tahun sebelumnya. Dua pertiga dari total surat utang ini diterbitkan oleh pihak perusahaan.
Eropa masih menjadi wilayah terbesar yang menerbitkan obligasi hijau perusahaan, tetapi kawasan Asia-Pasifik mencatatkan pertumbuhan tercepat, dengan lonjakan penerbitan mencapai 42 persen dibanding tahun sebelumnya.
LSEG juga mencatat transaksi jual-beli dan penggabungan perusahaan di sektor hijau bernilai total 4,1 triliun dolar AS (sekitar Rp73,71 kuadriliun) selama sepuluh tahun terakhir. Angka ini menyumbang 13,4 persen dari total seluruh nilai transaksi bisnis di dunia pada periode tersebut.
Analisis yang menggabungkan data Pendapatan Hijau LSEG dengan data lebih dari 1,5 juta transaksi menemukan bahwa perusahaan ramah lingkungan terutama melakukan akuisisi agar bisa berkembang lebih cepat. Sementara itu, keterlibatan dari perusahaan konvensional non-hijau masih terbilang terbatas.
Baca juga: Negara Asia-Pasifik Sepakati Peta Jalan Baru Atasi Krisis Iklim
Dalam laporan ini, ekonomi hijau didefinisikan sebagai perusahaan-perusahaan yang menyediakan produk dan layanan yang memberikan manfaat bagi lingkungan, mulai dari energi terbarukan dan air bersih, hingga efisiensi energi dan daur ulang.
Lebih lanjut, meskipun Asia memimpin dalam hal pendapatan bisnis hijau, Amerika Serikat masih menjadi pasar ekonomi hijau terbesar berdasarkan nilai pasar.
Nilai ekonomi hijau AS menyumbang 57 persen dari total dunia, yaitu sebesar 6 triliun dolar AS (sekitar Rp107,86 kuadriliun). Perusahaan-perusahaan AS sendiri menyumbang 27 persen dari total pendapatan hijau dunia.
Sementara itu, ekonomi hijau di Eropa mencapai nilai pasar dan pendapatan masing-masing sebesar 1,2 triliun dolar AS (sekitar Rp21,57 kuadriliun), dengan Jerman, Prancis, dan Inggris sebagai pasar utamanya.
LSEG memperingatkan bahwa maraknya upaya berbagai negara untuk memperkuat rantai pasok dalam negeri, melalui penerapan tarif, pembatasan ekspor, dan pemindahan pabrik teknologi hijau ke dalam negeri dapat memecah belah pasar ekonomi hijau dunia, padahal rantai pasok energi bersih saat ini justru makin saling terhubung.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya