Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah

Kompas.com, 21 Juli 2026, 11:05 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Limbah tandan kosong kelapa sawit berpotensi diolah menjadi plafon bangunan yang lebih kuat sekaligus lebih murah dibandingkan sejumlah material konvensional, seperti gipsum, tripleks, hingga PVC.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui riset yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dengan memanfaatkan serat tandan kosong kelapa sawit sebagai penguat biokomposit.

Presenter hibah riset BPDP, Ahmad, mengatakan penelitian tersebut berangkat dari melimpahnya limbah tandan kosong kelapa sawit yang belum dimanfaatkan secara optimal, terutama di Sulawesi Selatan.

"Riset ini didasari banyaknya limbah yang dihasilkan pabrik kelapa sawit di Luwu, Luwu Timur, dan Luwu Utara. Sebagian memang dimanfaatkan sebagai kompos, tetapi jumlah yang tersisa masih sangat besar," ujar Ahmad dalam Pekan Riset Sawit Indonesia 2026, Senin (20/7/2026).

Baca juga: Kehadiran DSI Disebut Bisa Permudah Implementasi EUDR untuk Produk Sawit

Menurut dia, selama ini limbah tandan kosong sawit umumnya hanya dimanfaatkan sebagai pupuk kompos sehingga nilai tambah yang dihasilkan masih relatif rendah.

Dalam penelitian tersebut, serat tandan kosong kelapa sawit dipadukan dengan serat kaca (glass fiber) dan resin poliester untuk membentuk material biokomposit.

Penambahan serat kaca dilakukan karena serat tandan kosong sawit memiliki kelemahan berupa kemampuan menyerap air yang cukup tinggi.

Sebelum diproses menjadi material komposit, serat tandan kosong sawit terlebih dahulu dibersihkan melalui perlakuan kimia menggunakan larutan natrium hidroksida (NaOH) untuk menghilangkan minyak dan kotoran yang menempel.

Selanjutnya, material diproses menggunakan metode press molding, yang dinilai menghasilkan kualitas lebih baik dibandingkan metode vacuum assisted resin infusion (VARI).

Ahmad mengatakan plafon komposit tersebut kemudian diuji melalui serangkaian pengujian, mulai dari uji tarik, uji lentur, uji impak, hingga analisis struktur menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dan Energy Dispersive Spectroscopy (EDS).

Performa lebih baik

Hasil pengujian menunjukkan plafon berbahan tandan kosong kelapa sawit memiliki kekuatan tarik, kekuatan lentur, dan ketahanan terhadap benturan yang lebih baik dibandingkan plafon berbahan asbes, gipsum, tripleks, maupun PVC.

Sementara itu, hasil analisis SEM dan EDS memperlihatkan material komposit memiliki ikatan yang homogen antara serat dan resin sehingga menghasilkan struktur yang lebih stabil.

Selain memiliki performa mekanik yang baik, material tersebut juga dinilai berpotensi bersaing secara ekonomi.

Berdasarkan perhitungan biaya produksi skala industri, harga pokok produksi plafon berbahan tandan kosong kelapa sawit diperkirakan berkisar Rp9.500 hingga Rp17.000 per lembar.

Sementara itu, harga jualnya diproyeksikan berada pada kisaran Rp20.000 hingga Rp30.000 per lembar, lebih rendah dibandingkan sejumlah plafon konvensional di pasaran.

Baca juga: IESR: Bensin dari Minyak Sawit Lebih Mahal

Ahmad mengatakan biaya produksi yang relatif murah didukung oleh melimpahnya pasokan tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku.

"Kalau pabrik plafon dibangun di wilayah yang dekat dengan pabrik kelapa sawit, biaya produksinya bisa lebih murah lagi karena bahan bakunya sangat melimpah," ujarnya.

Menurut dia, selain lebih ekonomis, plafon berbasis limbah sawit juga memiliki sejumlah keunggulan lain, seperti bobot yang ringan, lebih ramah lingkungan, dan tahan terhadap serangan rayap.

Dengan memanfaatkan limbah perkebunan sebagai bahan baku, inovasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah tandan kosong kelapa sawit sekaligus membuka peluang pengembangan material bangunan yang lebih berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
Pemerintah
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Swasta
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Pemerintah
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Pemerintah
UNU Yogyakarta Buka Beasiswa Kuliah terkait Pembangunan Berkelanjutan
UNU Yogyakarta Buka Beasiswa Kuliah terkait Pembangunan Berkelanjutan
LSM/Figur
Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global
Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global
Pemerintah
Peneliti Khawatir Suhu Daun Tanaman Naik Lebih Cepat akibat Perubahan Iklim
Peneliti Khawatir Suhu Daun Tanaman Naik Lebih Cepat akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah
Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah
LSM/Figur
Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim
Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit
Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit
BUMN
 Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
Pemerintah
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pemerintah
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau