JAKARTA, KOMPAS.com – Upaya penanganan stunting di Indonesia dinilai tidak cukup hanya berfokus pada pemenuhan asupan gizi. Akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak juga menjadi faktor penting agar nutrisi yang dikonsumsi anak dapat terserap dengan optimal.
National Director Wahana Visi Indonesia (WVI) Angelina Theodora mengatakan buruknya sanitasi meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui air, seperti diare, yang dapat menghambat penyerapan gizi dan memicu malnutrisi pada anak.
"Kalau untuk stunting, salah satu faktor utamanya adalah akses terhadap air bersih dan sanitasi. Percuma kalau kita memberikan asupan gizi yang baik, tetapi kondisi sanitasi di tingkat keluarga tidak baik karena anak-anak tetap berisiko mengalami gizi buruk akibat diare dan penyakit lainnya," ujar Angelina di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Baca juga: El Nino Bukan Vonis Kekeringan
Menurut dia, karena alasan tersebut WVI menempatkan penyediaan akses air bersih sebagai salah satu intervensi dasar dalam pencegahan stunting dan gizi buruk.
Di sejumlah wilayah dampingan, organisasi tersebut memfasilitasi pembangunan infrastruktur air bersih hingga ke tingkat rumah tangga melalui pembangunan jaringan perpipaan dari sumber air menuju permukiman.
"Kadang di desa ada sumber air, tetapi letaknya jauh dari rumah. Kami membantu membangun sambungan pipa hingga ke rumah tangga jika memungkinkan," katanya.
Selain penyediaan air bersih, WVI juga mendampingi masyarakat membangun jamban untuk mendukung tercapainya desa bebas buang air besar sembarangan.
Angelina mengatakan keberlanjutan infrastruktur menjadi tantangan yang tidak kalah penting. Karena itu, sebelum program dimulai, WVI membentuk Komite Air di tingkat desa yang bertugas mengelola dan merawat fasilitas air bersih.
Di sejumlah daerah, seperti Bengkulu, komite tersebut mengumpulkan iuran warga untuk membiayai perawatan jaringan perpipaan sehingga kerusakan dapat segera diperbaiki tanpa harus menunggu anggaran pemerintah desa.
"Kalau ada pipa yang rusak, mereka bisa langsung memperbaikinya dari dana iuran. Di beberapa tempat bahkan menjadi salah satu sumber pendapatan desa," ujarnya.
WVI juga menilai penyediaan air bersih akan menghadapi tantangan yang semakin besar seiring meningkatnya risiko kekeringan akibat fenomena El Niño.
Angelina mengatakan organisasinya telah memetakan wilayah-wilayah yang rentan mengalami krisis air serta menyiapkan berbagai langkah antisipasi, termasuk pembangunan bak penampungan air sebagai cadangan saat musim kemarau.
Namun, menurut dia, pembangunan infrastruktur saja tidak cukup sehingga diperlukan koordinasi dengan pemerintah melalui Satuan Tugas Antisipasi El Niño agar langkah mitigasi dapat diterapkan hingga tingkat kecamatan dan desa.
Baca juga: PBB Wanti-Wanti El Nino Tahun Ini Bakal Lebih Kuat dan Berbahaya
"Kami sedang melakukan pemetaan karena dampak El Niño di setiap daerah berbeda. Di Nusa Tenggara Timur tantangannya berbeda dengan Kalimantan Barat yang juga menghadapi risiko kebakaran hutan," katanya.
Sebelumnya, Angelina mengatakan dampak perubahan iklim telah dirasakan langsung oleh anak-anak di sejumlah daerah, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air seperti Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, dan Asmat, Papua Selatan.
Ia mengatakan musim kemarau yang semakin panjang membuat sebagian anak harus membantu keluarga mencari air bersih ke lokasi yang lebih jauh. Kondisi tersebut mengurangi waktu mereka untuk belajar maupun bermain.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya