Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan

Kompas.com, 24 Juli 2026, 10:39 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com-Studi baru mengungkapkan pengetahuan pangan tradisional dan kearifan masyarakat adat bisa membantu menciptakan sistem pangan yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Hal tersebut disimpulkan setelah peneliti dari University of East Anglia (UEA) mengkaji 39 penelitian resmi dari berbagai belah dunia.

Melansir Down to Earth, Rabu (22/7/2026) para ilmuwan menemukan bahwa meskipun pengetahuan pangan tradisional ini makin diakui sebagai solusi untuk mengatasi berbagai krisis seperti perubahan iklim, punahnya keanekaragaman hayati, hingga masalah gizi buruk, pendidikan dan praktik kesehatan saat ini masih terlalu didominasi oleh pendekatan medis yang sifatnya kaku dan serba dari pemerintah.

Literasi sistem pangan yang terabaikan

Dalam studinya, peneliti mempelajari bagaimana literasi sistem pangan bisa ditingkatkan untuk mendukung hasil yang lebih sehat, adil, dan ramah lingkungan. Literasi sistem pangan ini sendiri merupakan yaitu pengetahuan, keterampilan, dan cara berkomunikasi yang membantu orang memahami urusan pangan.

Mereka menyebut literasi ini sebagai bagian penting yang sering terabaikan dalam menjaga ketahanan pangan. Hal ini mencakup pemahaman mendalam tentang berbagai tahap sistem pangan, mulai dari cara menanam atau memproduksi makanan, mengolahnya, hingga mengonsumsinya.

Baca juga: Laporan PBB: Panas Ekstrem Kini Jadi Ancaman Besar bagi Pangan Dunia

Studi yang diterbitkan pada 21 Juli di jurnal Nature Food ini juga melihat bagaimana perbedaan sudut pandang dan cara memahami pengetahuan dapat memengaruhi program kesehatan dan gizi yang ditujukan bagi masyarakat adat.

Studi menemukan bahwa pendekatan berbasis budaya dan keterlibatan warga secara langsung sangat penting untuk meningkatkan pemahaman tentang pangan. Cara ini juga membantu masyarakat untuk menjaga dan menghidupkan kembali tradisi pangan lokal mereka.

“Sistem pangan yang ada saat ini gagal mengatasi kelaparan dan gizi buruk dunia secara tuntas, di mana lebih dari 600 juta orang diperkirakan akan menghadapi krisis pangan pada tahun 2030," ungkap Nitya Rao, penulis utama studi dari School of Global Development.

“Dengan memetakan masalah sekaligus contoh-contoh keberhasilan, kajian kami memberikan masukan penting bagi pembuat kebijakan, pendidik, tenaga kesehatan, dan organisasi masyarakat yang ingin menciptakan pendidikan gizi yang lebih merangkul semua pihak,” paparnya lagi.

Pentingnya beragam jenis pengetahuan

Di saat pemerintah dan berbagai organisasi sibuk mencari jalan keluar untuk krisis iklim, kepunahan hayati, dan masalah kesehatan masyarakat, temuan ini menunjukkan bahwa memberi perhatian lebih pada pengetahuan masyarakat adat bisa membantu menciptakan sistem pangan yang lebih ramah lingkungan, tangguh, adil, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Dengan mengambil contoh kasus dari masyarakat adat di berbagai belah dunia, kajian ini menekankan pentingnya mengakui beragam jenis pengetahuan. Riset ini juga mendorong keterlibatan nyata warga lokal dalam merancang hingga menjalankan program kesehatan dan gizi.

Selain itu, penggunaan bahasa daerah dan bahasa adat juga terbukti memperbaiki cara berkomunikasi, membuat program terasa lebih dekat dengan budaya warga, serta merangkul semua pihak dalam penelitian maupun promosi kesehatan.

Para peneliti memberikan contoh nyata, seperti memasukkan sudut pandang suku adat Maya K’iche’ ke dalam Pedoman Pangan Guatemala, serta merancang aplikasi kesehatan bersama mitra suku M?ori dan Pasifika yang menggunakan bahasa, cerita, dan tampilan visual sesuai budaya mereka.

Sebaliknya, kajian ini mencatat bahwa program kesehatan dan gizi yang ada selama ini terlalu fokus pada teori teknis dan medis modern. Cara ini sering mengabaikan budaya setempat dan menyia-nyiakan keahlian masyarakat adat, sehingga warga jadi enggan terlibat dan programnya pun kurang berhasil.

Baca juga: Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi

Meskipun perbedaan bahasa dan ketiadaan istilah medis modern bisa menjadi hambatan, penggunaan jasa penerjemah dan kegiatan kesehatan yang dipimpin langsung oleh warga bisa membantu menjembatani perbedaan tersebut. Penelitian ini menekankan pentingnya menyatukan pandangan kesehatan tradisional dan medis modern melalui kerja sama yang erat.

Metode komunikasi seperti bercerita, diskusi melingkar, lokakarya, peragaan memasak, belajar bersama teman sebaya, film pendek, dan aplikasi ponsel terbukti mampu meningkatkan keterlibatan warga serta mendukung keberhasilan program kesehatan dan gizi.

"Menghargai dan menggunakan kembali pengetahuan, nilai, serta tradisi masyarakat adat untuk mengurusi kesehatan dan gizi berarti harus melibatkan hubungan antar generasi dan masyarakat luas. Ini artinya, semua orang mulai dari tetua adat, penyembuh tradisional, pendidik, petani, hingga penyedia layanan, pembuat kebijakan, dan akademisi harus duduk bersama untuk membahas masalah dan menemukan solusinya," tambah Rao.

Para penulis menyimpulkan bahwa memperkuat pemahaman tentang pangan melalui kerja sama, pendekatan yang sesuai budaya, serta dipimpin langsung oleh masyarakat, memberikan peluang besar untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan, sekaligus mendukung tujuan lingkungan dan sosial yang lebih luas. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 2 dari 13 Produsen Batu Bara Indonesia yang Serius Diversifikasi Bisnis
Hanya 2 dari 13 Produsen Batu Bara Indonesia yang Serius Diversifikasi Bisnis
LSM/Figur
Koneksi Politisi Bikin Perusahaan yang Lakukan Greenwashing Lolos Sorotan
Koneksi Politisi Bikin Perusahaan yang Lakukan Greenwashing Lolos Sorotan
Pemerintah
Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Pemerintah
Musim Mas Raih Mahayuga Award 2026 sebagai Pelopor Industri Hijau
Musim Mas Raih Mahayuga Award 2026 sebagai Pelopor Industri Hijau
BrandzView
Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara
Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara
Pemerintah
Pemanfaatan Biokokas dari Cangkang Sawit Berpotensi Jadi Pengurang Emisi Industri Nikel
Pemanfaatan Biokokas dari Cangkang Sawit Berpotensi Jadi Pengurang Emisi Industri Nikel
LSM/Figur
Waspada Panas Ekstrem,  Lebih Berbahaya Bagi Warga Usia 60 Tahun ke Atas
Waspada Panas Ekstrem, Lebih Berbahaya Bagi Warga Usia 60 Tahun ke Atas
Pemerintah
Kementerian Kebudayaan Jadi Wali Data Masyarakat Adat, Cari Keseimbangan Ekonomi dan Lingkungan
Kementerian Kebudayaan Jadi Wali Data Masyarakat Adat, Cari Keseimbangan Ekonomi dan Lingkungan
Pemerintah
Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis
Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis
Pemerintah
Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030
Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030
Pemerintah
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Pemerintah
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Pemerintah
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Pemerintah
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
LSM/Figur
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau