KOMPAS.com-Studi baru mengungkapkan pengetahuan pangan tradisional dan kearifan masyarakat adat bisa membantu menciptakan sistem pangan yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Hal tersebut disimpulkan setelah peneliti dari University of East Anglia (UEA) mengkaji 39 penelitian resmi dari berbagai belah dunia.
Melansir Down to Earth, Rabu (22/7/2026) para ilmuwan menemukan bahwa meskipun pengetahuan pangan tradisional ini makin diakui sebagai solusi untuk mengatasi berbagai krisis seperti perubahan iklim, punahnya keanekaragaman hayati, hingga masalah gizi buruk, pendidikan dan praktik kesehatan saat ini masih terlalu didominasi oleh pendekatan medis yang sifatnya kaku dan serba dari pemerintah.
Dalam studinya, peneliti mempelajari bagaimana literasi sistem pangan bisa ditingkatkan untuk mendukung hasil yang lebih sehat, adil, dan ramah lingkungan. Literasi sistem pangan ini sendiri merupakan yaitu pengetahuan, keterampilan, dan cara berkomunikasi yang membantu orang memahami urusan pangan.
Mereka menyebut literasi ini sebagai bagian penting yang sering terabaikan dalam menjaga ketahanan pangan. Hal ini mencakup pemahaman mendalam tentang berbagai tahap sistem pangan, mulai dari cara menanam atau memproduksi makanan, mengolahnya, hingga mengonsumsinya.
Baca juga: Laporan PBB: Panas Ekstrem Kini Jadi Ancaman Besar bagi Pangan Dunia
Studi yang diterbitkan pada 21 Juli di jurnal Nature Food ini juga melihat bagaimana perbedaan sudut pandang dan cara memahami pengetahuan dapat memengaruhi program kesehatan dan gizi yang ditujukan bagi masyarakat adat.
Studi menemukan bahwa pendekatan berbasis budaya dan keterlibatan warga secara langsung sangat penting untuk meningkatkan pemahaman tentang pangan. Cara ini juga membantu masyarakat untuk menjaga dan menghidupkan kembali tradisi pangan lokal mereka.
“Sistem pangan yang ada saat ini gagal mengatasi kelaparan dan gizi buruk dunia secara tuntas, di mana lebih dari 600 juta orang diperkirakan akan menghadapi krisis pangan pada tahun 2030," ungkap Nitya Rao, penulis utama studi dari School of Global Development.
“Dengan memetakan masalah sekaligus contoh-contoh keberhasilan, kajian kami memberikan masukan penting bagi pembuat kebijakan, pendidik, tenaga kesehatan, dan organisasi masyarakat yang ingin menciptakan pendidikan gizi yang lebih merangkul semua pihak,” paparnya lagi.
Di saat pemerintah dan berbagai organisasi sibuk mencari jalan keluar untuk krisis iklim, kepunahan hayati, dan masalah kesehatan masyarakat, temuan ini menunjukkan bahwa memberi perhatian lebih pada pengetahuan masyarakat adat bisa membantu menciptakan sistem pangan yang lebih ramah lingkungan, tangguh, adil, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Dengan mengambil contoh kasus dari masyarakat adat di berbagai belah dunia, kajian ini menekankan pentingnya mengakui beragam jenis pengetahuan. Riset ini juga mendorong keterlibatan nyata warga lokal dalam merancang hingga menjalankan program kesehatan dan gizi.
Selain itu, penggunaan bahasa daerah dan bahasa adat juga terbukti memperbaiki cara berkomunikasi, membuat program terasa lebih dekat dengan budaya warga, serta merangkul semua pihak dalam penelitian maupun promosi kesehatan.
Para peneliti memberikan contoh nyata, seperti memasukkan sudut pandang suku adat Maya K’iche’ ke dalam Pedoman Pangan Guatemala, serta merancang aplikasi kesehatan bersama mitra suku M?ori dan Pasifika yang menggunakan bahasa, cerita, dan tampilan visual sesuai budaya mereka.
Sebaliknya, kajian ini mencatat bahwa program kesehatan dan gizi yang ada selama ini terlalu fokus pada teori teknis dan medis modern. Cara ini sering mengabaikan budaya setempat dan menyia-nyiakan keahlian masyarakat adat, sehingga warga jadi enggan terlibat dan programnya pun kurang berhasil.
Baca juga: Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi
Meskipun perbedaan bahasa dan ketiadaan istilah medis modern bisa menjadi hambatan, penggunaan jasa penerjemah dan kegiatan kesehatan yang dipimpin langsung oleh warga bisa membantu menjembatani perbedaan tersebut. Penelitian ini menekankan pentingnya menyatukan pandangan kesehatan tradisional dan medis modern melalui kerja sama yang erat.
Metode komunikasi seperti bercerita, diskusi melingkar, lokakarya, peragaan memasak, belajar bersama teman sebaya, film pendek, dan aplikasi ponsel terbukti mampu meningkatkan keterlibatan warga serta mendukung keberhasilan program kesehatan dan gizi.
"Menghargai dan menggunakan kembali pengetahuan, nilai, serta tradisi masyarakat adat untuk mengurusi kesehatan dan gizi berarti harus melibatkan hubungan antar generasi dan masyarakat luas. Ini artinya, semua orang mulai dari tetua adat, penyembuh tradisional, pendidik, petani, hingga penyedia layanan, pembuat kebijakan, dan akademisi harus duduk bersama untuk membahas masalah dan menemukan solusinya," tambah Rao.
Para penulis menyimpulkan bahwa memperkuat pemahaman tentang pangan melalui kerja sama, pendekatan yang sesuai budaya, serta dipimpin langsung oleh masyarakat, memberikan peluang besar untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan, sekaligus mendukung tujuan lingkungan dan sosial yang lebih luas.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya