MOROWALI, KOMPAS.com – Azmi Alatas masih ingat betul ketika kelompok tani di Morowali, Sulawesi Tengah, menerima bantuan dari sebuah perusahaan. Alih-alih memperoleh benih, pompa air, atau peralatan pertanian, mereka justru mendapatkan panci berukuran besar.
Bantuan itu akhirnya dikembalikan. Bukan karena para petani menolak program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR), melainkan mereka tidak memahami manfaatnya bagi persoalan yang selama ini mereka hadapi.
"Kami kembalikan karena kami tidak memahami apa manfaatnya bagi petani," ujar Sekretaris Gerakan Petani Indonesia Menggugat (Gapit) itu kepada Kompas.com, Selasa (16/6/2026).
Bagi Azmi, pengalaman tersebut mencerminkan tantangan pembangunan di Morowali hari ini. Di tengah pertumbuhan pesat hilirisasi nikel di sana, masyarakat memang menerima berbagai program pembangunan. Sayangnya, tidak semua program disusun berdasarkan kebutuhan yang benar-benar mereka rasakan.
Padahal, masyarakat Morowali pada dasarnya tidak mempersoalkan kehadiran industri nikel. Sebab, investasi telah membuka lapangan kerja, menggerakkan perekonomian daerah, serta menghadirkan berbagai peluang usaha baru.
Hanya saja, mereka belum punya ruang untuk menyampaikan kebutuhan dan ikut menentukan arah pembangunan di wilayah tempat mereka tinggal. Bagaimanapun, dampak perubahan yang dirasakan setiap kelompok masyarakat tidak selalu sama.
Baca juga: Di Balik Lonjakan PDRB Morowali, Seberapa Merata Manfaat Hilirisasi Nikel?
Di pesisir Bahodopi, misalnya, perubahan paling nyata dirasakan para nelayan.
Sudah lebih dari satu dekade Maja (56) meninggalkan kampung halamannya di Pulau Menui demi mencari nafkah sebagai nelayan di pesisir Bahodopi.
Saat pertama datang pada 2013, dengan hanya memancing di sekitar bibir pantai Bahodopi, ia dapat membawa pulang lebih dari 10 kg ikan kakap dalam semalam. Kini, cerita itu tinggal kenangan.
Menurut Maja, sedimentasi dan dugaan pencemaran di pesisir mengubah ekosistem laut sehingga hasil tangkapan terus menurun.
"Dulu, (dalam) satu malam itu masih bisalah kami kasih depan istri hasil penjualan ikan. Sekarang, jangankan satu kilo atau dua kilo, dapat dua ekor saja sudah alhamdulillah," ujar Maja saat ditemui Kompas.com, Rabu (17/6/2026).
Penurunan hasil tangkapan membuat Maja beralih profesi menjadi pengemudi ojek laut. Dengan perahu kayu miliknya, ia kini mengangkut penumpang ataupun barang dari kapal yang berlabuh menuju daratan.
Ketua Komunitas Nelayan Morowali Tasdik mengatakan, sebelum hilirisasi berkembang, nelayan umumnya cukup melaut sekitar tiga hingga empat mil dari bibir pantai. Kini, mereka harus berlayar lebih dari 12 mil untuk memperoleh ikan.
Perubahan itu membuat biaya operasional melaut meningkat hampir tiga kali lipat, dari sekitar Rp 50.000-Rp 75.000 menjadi Rp 150.000-Rp 200.000 untuk sekali melaut.
Itu pun harus menggunakan kapal dan mesin yang lebih besar agar mampu menjangkau wilayah tangkap baru. Bagi sebagian besar nelayan tradisional, kebutuhan tersebut sulit dipenuhi. Akibatnya, semakin banyak nelayan meninggalkan profesinya.
"Jumlah nelayan menurun sekali. Banyak yang pindah. Di KTP masih tercatat nelayan, tapi pekerjaannya bukan nelayan lagi," tutur Tasdik kepada Kompas.com, Selasa (16/6/2026).
Baca juga: Dari Bahodopi, Melihat Wajah Baru Morowali setelah Hilirisasi Nikel
Dikutip dari Rencana Kerja Pemerintah Kabupaten Morowali 2025, produksi perikanan laut di pusat hilirisasi nikel ini memang menurun. Pada 2023, jumlahnya hasil tangkapan mencapai 37.775 ton. Lalu, menurun menjadi 33.449 ton pada 2024.
Tak hanya produksi, nilai tukar nelayan juga anjlok, dari 104,4 pada 2023 menjadi 93,22 pada 2024. Angka di bawah 100 menunjukkan bahwa nelayan mengalami kerugian karena pengeluaran melaut lebih besar dari pendapatan.
Salah satu nelayan di Morowali, Maja (56), yang terdampak oleh perkembangan kawasan industri nikel hingga membuatnya beralih profesi demi menyambung hidup.Cerita hampir mirip juga dirasakan petani, meski dengan tantangan berbeda. Masih dikutip dari sumber yang sama, produktivitas padi turun dari 42.583 ton pada 2022 menjadi 26.940 ton pada 2023.
Pertanian jagung pun demikian, produktivitasnya turun dari 4.937,22 ton pada 2022 menjadi 684,7 ton pada 2023.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya