Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Deloitte Ungkap Mayoritas Dewan Direksi Belum Punya Aturan Penggunaan AI

Kompas.com, 30 Juli 2026, 19:41 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Survei lembaga konsultan Deloitte menemukan bahwa 50 persen dewan direksi perusahaan belum memiliki aturan dan panduan mengenai penggunaan kecerdasan buatan (AI).

Kondisi ini dapat membahayakan perusahaan, baik dari segi tuntutan hukum maupun risiko kebocoran data rahasia.

Melansir ESG Dive, Selasa (28/7/2026) Deloitte juga mencatat bahwa 47 persen dewan direksi tidak memfasilitasi penggunaan AI dalam pekerjaan mereka, sementara 25 persen belum memiliki standar resmi tetapi tetap mengizinkan penggunaan teknologi tersebut.

Berdasarkan survei terhadap sekretaris perusahaan, tim hukum internal, dan para profesional tata kelola lainnya, hanya 8 persen dewan direksi yang benar-benar menggunakan alat AI resmi dari perusahaan untuk mendukung proses kerja dewan.

"Penggunaan AI di tingkat dewan direksi masih berada pada tahap awal dan belum merata," kata Deloitte.

Baca juga: Siapa Paling Pencemar? Alat Ini Beri Peringkat Emisi dari Pusat Data AI

Panduan AI harus terus dikembangkan

Perusahaan konsultan ini juga menambahkan bahwa kebijakan, panduan, dan tata kelolanya masih terus dikembangkan. Ketika aturan itu ada, fokus utamanya biasanya pada masalah keamanan, kerahasiaan data, batasan penggunaan, pertimbangan hukum, serta pencatatan dokumen.

Kejadian baru-baru ini, di mana dua sistem AI milik OpenAI 'lepas kendali' saat menjalani pengujian makin mempertegas betapa pentingnya memasang batas pengaman pada teknologi ini.

OpenAI menyatakan pada 21 Juli bahwa sistem AI mereka sempat melakukan tindakan di luar kendali selama tes keamanan siber. AI tersebut meretas internet dan membobol perangkat lunak milik Hugging Face, sebuah penyedia platform AI open-source.

Insiden tersebut memperjelas salah satu tantangan terbesar dalam membuat dan meluncurkan AI, yang kerap membingungkan para pembuat maupun penggunanya.

"Menjalankan sistem AI dan mengaturnya dengan benar adalah dua hal yang harus berjalan seimbang. Namun saat ini, keduanya bergerak dengan kecepatan yang sangat berbeda," kata Hugo Sarrazin, CEO Avalara.

"Sebuah tim bisa saja memasang sistem AI untuk urusan keuangan hanya dalam hitungan minggu. Tetapi untuk mengatur dan mengawasinya butuh waktu yang jauh lebih lama, karena hal itu memerlukan perubahan besar di dalam organisasi," paparnya lagi.

Tim keuangan, tim hukum, dan tim teknologi informasi sendiri membutuhkan waktu untuk bekerja sama merombak aturan pengawasan terkait penggunaan AI oleh karyawan.

Di sisi lain, dewan direksi, CEO, dan para investor juga membaca berita yang sama seperti orang lain. Mereka ingin tahu hasil nyata apa yang sudah didapatkan perusahaan dari penggunaan AI saat ini juga.

Bahkan, survei dari Avalara menemukan bahwa 92 persen direktur keuangan (CFO) dan pimpinan keuangan merasa tertekan untuk membuktikan bahwa investasi perusahaan pada AI memberikan hasil yang sepadan.

Sementara itu, hanya 7 persen yang mengaku bahwa perusahaan mereka lebih mementingkan aturan pengawasan AI ketimbang kecepatan penggunaannya.

Baca juga: Perkembangan AI Ancam Target Energi Bersih Perusahaan Raksasa Teknologi

Pemahaman tentang AI

Lebih lanjut, sebagian besar dewan direksi perusahaan berusaha meningkatkan pemahaman mereka tentang AI. Sebanyak 77 persen responden dalam survei Deloitte menyatakan telah menggelar sesi pelatihan atau pengarahan untuk para direktur selama enam bulan terakhir.

Hanya 10 persen yang mengaku dewan direksi mereka belum mengambil langkah apa pun untuk memperdalam pengetahuan tentang AI.

Meskipun demikian, Deloitte mencatat bahwa meski penggunaan AI sudah umum di kalangan karyawan dan operasional utama, penggunaannya di tingkat dewan direksi masih tergolong baru, belum merata, dan masih berkembang.

"Ke depannya, sangat penting untuk melihat bagaimana dewan direksi membentuk aturan main dalam memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi dan membantu pengambilan keputusan tanpa menghilangkan pemikiran kritis, kewaspadaan, serta rasa tanggung jawab yang menjadi inti dari tata kelola perusahaan yang baik," ungkap Deloitte.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau