Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal

Kompas.com, 6 Agustus 2026, 16:43 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas mendorong pemerintah mengembangkan skema pembiayaan yang lebih inovatif untuk menghadapi dampak fenomena El Niño.

Langkah tersebut dinilai penting karena keterbatasan ruang fiskal membuat penanganan krisis iklim tidak lagi dapat mengandalkan anggaran pemerintah semata.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan efisiensi anggaran yang tengah dijalankan pemerintah harus diimbangi dengan perluasan sumber pembiayaan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Baca juga: Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino

"Dalam menjawab ruang fiskal yang menuntut efisiensi, kita juga harus bertindak inovatif," ujar Rachmat dalam Dialog Nasional "Memperkuat Respons Lintas Sektor dalam Menghadapi Dampak El Niño Kuat", Selasa (4/8/2026).

Menurut Rachmat, pemerintah perlu mengoptimalkan berbagai instrumen pendanaan yang telah tersedia. Salah satunya melalui Pooling Fund Kebencanaan (PFK) yang dirancang untuk memastikan ketersediaan dana tanggap bencana secara cepat tanpa mengganggu anggaran rutin kementerian dan lembaga.

Selain itu, pemerintah juga berupaya memperluas akses terhadap berbagai skema pembiayaan iklim internasional, seperti Adaptation Fund dan Fund for Responding to Loss and Damage (FRLD).

FRLD merupakan mekanisme pendanaan internasional yang ditujukan untuk membantu negara berkembang menangani kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim. Menurut Rachmat, instrumen tersebut relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang rentan terhadap dampak krisis iklim.

Di luar pendanaan pemerintah, Rachmat juga mengajak sektor swasta berperan lebih aktif dalam pembiayaan adaptasi iklim. Menurut dia, investasi untuk meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi stabilitas ekonomi nasional.

Ia menilai kepastian pendanaan pada sektor pangan, energi, dan sumber daya air menjadi fondasi penting agar pembangunan menuju Indonesia Emas 2045 tetap berjalan sesuai rencana.

"Persoalan iklim adalah persoalan yang bisa kita antisipasi, bisa kita mitigasi, dan bisa kita tanggulangi. Karena itu kita harus memahami ilmu pengetahuan terkini serta memperkuat kerja sama antarkementerian dan lembaga," kata Rachmat.

El Niño tidak didanai melalui skema khusus

Sementara itu, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo Adypurnama Teguh Sambodo mengatakan pemerintah tidak menyiapkan skema pembiayaan khusus untuk El Niño.

Menurut dia, pendanaan penanganan El Niño diintegrasikan ke dalam kerangka pembiayaan perubahan iklim yang telah disusun pemerintah karena fenomena tersebut bersifat berulang.

Pendanaan tersebut diarahkan untuk mendukung berbagai program adaptasi yang telah masuk dalam National Adaptation Plan (NAP), termasuk penguatan ekosistem melalui Biodiversity Strategy and Action Plan.

"Selama ini memang pembiayaan untuk iklim, terutama El Niño, tidak ada yang secara khusus karena El Niño itu sifatnya siklikal," ujar Teguh.

Baca juga: BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau

Ia menilai kapasitas pendanaan pemerintah saat ini sebenarnya sudah memadai. Tantangan utama justru terletak pada ketepatan sasaran penggunaan anggaran agar mampu menjawab kebutuhan paling mendesak di lapangan.

"Tinggal bagaimana kita memastikan penggunaan anggarannya tepat sesuai kebutuhan penanganan El Niño. Hal ini juga sudah dibahas dalam Rakornas," katanya.

Fokus pada pangan, energi, dan air

Bappenas menetapkan tiga sektor prioritas dalam strategi pembiayaan mitigasi El Niño, yakni ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketersediaan sumber daya air.

Dalam implementasinya, pemerintah menerapkan pendekatan evidence-based intervention, yakni penyaluran anggaran berdasarkan data prakiraan dampak (impact-based forecasting) yang disusun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Melalui pendekatan tersebut, intervensi pemerintah, seperti penyediaan pompa air bagi petani, diharapkan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.

"Kementerian Pertanian sendiri telah mengajukan penambahan pompa air yang nantinya dapat diberikan kepada kelompok-kelompok petani agar kebutuhan air selama curah hujan rendah tetap dapat terpenuhi," ujar Teguh.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
BUMN
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Pemerintah
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Pemerintah
Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai
Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai
Pemerintah
Generasi Baru Solar PV Dinilai Lebih Efisien dan Cocok di Iklim Tropis
Generasi Baru Solar PV Dinilai Lebih Efisien dan Cocok di Iklim Tropis
LSM/Figur
Tata Kelola Fiskal Pertambangan Dinilai Cukup Kuat, Transparansi Pajak Masih Jadi PR
Tata Kelola Fiskal Pertambangan Dinilai Cukup Kuat, Transparansi Pajak Masih Jadi PR
LSM/Figur
Tata Kelola Pertambangan Dinilai Masih Rapuh, Berisiko Hambat Daya Saing
Tata Kelola Pertambangan Dinilai Masih Rapuh, Berisiko Hambat Daya Saing
LSM/Figur
Pengaruh Sosial Bisa Jadi Kunci Menghadapi Perubahan Iklim
Pengaruh Sosial Bisa Jadi Kunci Menghadapi Perubahan Iklim
Pemerintah
Lautan Luas Pasang PLTS di Delapan Lokasi untuk Pangkas Karbon
Lautan Luas Pasang PLTS di Delapan Lokasi untuk Pangkas Karbon
Swasta
Bank Dunia Sebut AI Bisa Dongkrak Produktivitas di Negara Berkembang
Bank Dunia Sebut AI Bisa Dongkrak Produktivitas di Negara Berkembang
Pemerintah
Laporan Keberlanjutan Dinilai Masih Rentan Jadi Self-Claim, Verifikasi Independen Minim
Laporan Keberlanjutan Dinilai Masih Rentan Jadi Self-Claim, Verifikasi Independen Minim
Swasta
Pemerintah China Investasi Rp 5,71 Triliun untuk Cegah Bencana Sektor Pertanian
Pemerintah China Investasi Rp 5,71 Triliun untuk Cegah Bencana Sektor Pertanian
Pemerintah
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
LSM/Figur
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat 'Hitung Cepat'
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat "Hitung Cepat"
Pemerintah
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau