KUPANG, KOMPAS.com - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) menanam 875 bibit pohon di sejumlah kawasan konservasi di NTT.
Aksi penanaman serentak itu digelar untuk menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026.
Kegiatan mengusung tema "Konservasi Alam: Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia" dan dipusatkan di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Teluk Kupang, Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Senin (10/8/2026).
Baca juga: Pemerintah Siapkan Peta Jalan Pengelolaan Mangrove Nasional hingga 2055
Kepala BBKSDA NTT Adi Nurul Hadi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan penanaman serentak yang dikoordinasikan Kementerian Kehutanan dari tingkat pusat hingga daerah.
"Hari ini kita melaksanakan penanaman serentak, sebetulnya dikoordinir dari Kementerian Kehutanan dari pusat. Pak Menteri beserta beberapa kepala UPT melaksanakan penanaman di Taman Wisata Alam Muara Angke di Jakarta. Dan kita di sini juga melaksanakan penanaman," ujar Adi.
Menurut Adi, penanaman dilakukan di sejumlah titik wilayah kerja BBKSDA NTT dengan jenis dan jumlah bibit disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kawasan.
Di TWA Teluk Kupang, sebanyak 100 bibit mangrove jenis Rhizophora ditanam.
Sementara di Warloka, Kabupaten Manggarai Barat, BBKSDA NTT menyiapkan 600 bibit Multi-Purpose Tree Species (MPTS).
Adapun di TWA Ranamese, sebanyak 175 bibit MPTS ditanam, di antaranya jenis nangka dan pinang.
Adi menjelaskan, TWA Teluk Kupang dipilih sebagai salah satu lokasi penanaman karena masih terdapat areal mangrove yang terbuka dan membutuhkan rehabilitasi.
"Di sini memang masih ada sebagian yang terbuka di mangrovenya, di Tanah Merah khususnya. Kemudian tempat lain juga menjadi areal-areal kritis yang menjadi target kita," kata Adi.
Menurut dia, penanaman tidak hanya ditujukan untuk menghijaukan kembali kawasan yang mengalami kerusakan, tetapi juga memulihkan fungsi ekologis kawasan konservasi.
Aksi penanaman tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, aparat, masyarakat, dan berbagai pihak dalam menjaga kawasan konservasi.
BBKSDA NTT melibatkan sejumlah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kehutanan, antara lain Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH), Balai Perhutanan Sosial, BP2SDM, dan Balai Penegakan Hukum (Gakkum).
Dari unsur pemerintah daerah dan aparat keamanan, kegiatan tersebut turut dihadiri Camat Kupang Tengah serta Kapolsek setempat.
Baca juga: Hutan Mangrove di Lampung Menyusut, Hanya Tersisa di 6 Kabupaten
Adi mengatakan, kolaborasi diperlukan karena keberhasilan penanaman tidak cukup hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam.
"Memilih lokasi ini selain karena mangrove di TWA Teluk Kupang, juga tempat lain yang menjadi areal-areal kritis. Dan memang di dalam kegiatan penanaman ini tentunya selain penanaman, kita juga harus berupaya bagaimana memastikan tanaman itu tetap tumbuh, dengan kegiatan perawatan dan pemeliharaan," jelasnya.
BBKSDA NTT berjanji aksi penanaman tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Menurut Adi, keberhasilan rehabilitasi kawasan konservasi justru sangat ditentukan oleh perawatan, pemeliharaan, dan monitoring setelah bibit ditanam.
Karena itu, masyarakat yang selama ini berinteraksi langsung dengan kawasan konservasi dilibatkan dalam proses pemeliharaan.
Petugas BBKSDA NTT akan melakukan pembinaan dan monitoring secara rutin bersama masyarakat untuk memastikan tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
"Yang paling banyak berinteraksi dengan kawasan itu kan masyarakat. Tentunya petugas kita melakukan pembinaan dan monitoring secara rutin kepada masyarakat untuk tetap melakukan kegiatan monitoring dan perawatan," ujarnya.
Selain pemantauan, evaluasi terhadap pertumbuhan tanaman juga dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan penanaman.
"Termasuk kegiatan evaluasi. Di monitoring tadi kita lihat pertumbuhannya. Tentunya seremonial penting, tapi ada hal yang lebih penting adalah perawatan terhadap tanaman itu sendiri. Itu yang menjadi target dari kegiatan penanaman ini," tegas Adi.
Adi berharap aksi penanaman tersebut dapat membantu memulihkan kawasan-kawasan kritis sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem alam.
"Pertama tentunya kita mengembalikan areal-areal yang kritis bisa menjadi hijau kembali. Kemudian yang kedua, mudah-mudahan ini bisa menjadi media kolaborasi antar pihak, menyampaikan bahwa penting untuk menjaga keberlangsungan ekosistem sumber daya alam, khususnya di ekosistem mangrove," katanya.
TWA Teluk Kupang memiliki nilai penting bagi ekosistem pesisir dan keanekaragaman hayati di Pulau Timor.
Ekosistem mangrove di kawasan tersebut berfungsi sebagai pelindung wilayah pesisir sekaligus habitat berbagai jenis satwa dan kawasan persinggahan burung-burung migran.
Karena itu, rehabilitasi mangrove dinilai tidak hanya berkaitan dengan penanaman pohon, tetapi juga upaya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya.
"Melalui kegiatan penanaman tersebut, kami berharap rehabilitasi kawasan konservasi dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak, terutama masyarakat yang berada di sekitar kawasan," pungkas Adi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya