Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi

Kompas.com, 14 Agustus 2026, 11:17 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil analisis data Cek Kesehatan Gratis (CKG) selama satu tahun menunjukkan anemia tidak hanya banyak dialami remaja putri, tetapi juga remaja putra.

Berdasarkan analisis CKG terhadap 23,5 juta anak selama periode Februari 2025 hingga Februari 2026, prevalensi anemia pada remaja putra kelas 7 SMP mencapai 25,1 persen. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan prevalensi anemia pada remaja putri yang mencapai 27,8 persen.

Data tersebut berasal dari 1,7 juta anak kelas 7 SMP yang mengikuti CKG.

Direktur Reconstra, Iwan Ariawan mengatakan, temuan tersebut menunjukkan perlunya evaluasi terhadap pendekatan penanganan anemia pada remaja yang selama ini lebih banyak menyasar remaja putri.

Baca juga: Ironi Stunting, Keracunan Massal, dan Jeritan Kemanusiaan di Jayapura

"Karena diperiksa keduanya, baik laki dan perempuan, masalah anemia ini bukan hanya perempuan. Ini di laki-laki juga ternyata sama gitu ya. Nah ini yang nanti kita bahas di diskusi, mesti gimana karena program kita selama ini kan TTD (tablet tambah darah) remaja putri gitu ya yang laki enggak dapat," ujar Iwan dalam seminar Tindak Lanjut Cek Kesehatan Gratis Anak, Kamis (13/8/2026).

Anemia meningkat pada remaja putri SMA

Temuan CKG juga menunjukkan prevalensi anemia pada remaja putri meningkat ketika memasuki jenjang SMA.

Dari sekitar 1,4 juta anak kelas 10 SMA yang terdaftar dalam CKG, sebanyak 31,6 persen remaja putri mengalami anemia.

Namun, pada jenjang tersebut CKG tidak melakukan pemeriksaan dan pendataan prevalensi anemia pada remaja putra.

"Nah ini yang bisa menjadi perhatian kita kan padahal kita punya program TTD pada remaja putri, tapi anemianya masih anemia tinggi. Yang laki tidak diperiksa sih pada SMA ini," tutur Iwan.

Secara keseluruhan, data CKG menunjukkan sekitar satu dari tiga anak sekolah di Indonesia mengalami anemia.

Iwan menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena anemia tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan anak saat ini, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Anemia dapat berdampak terhadap kemampuan kognitif dan konsentrasi. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut berpotensi mengganggu kemampuan belajar dan produktivitas anak di sekolah.

Remaja perlu jadi subjek program TTD

Tingginya prevalensi anemia juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan program pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi remaja putri.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, persoalan program TTD bukan semata-mata mengenai ketersediaan obat. Remaja juga perlu dilibatkan secara aktif agar memahami alasan mereka harus mengonsumsi TTD.

Baca juga: Kemendukbangga: Program MBG Bantu Cegah Stunting pada Anak

Hal tersebut disampaikan Budi setelah berdialog dengan anggota Forum Anak dan pelajar dari berbagai daerah.

Menurut dia, pola sosialisasi yang selama ini dilakukan masih cenderung menempatkan remaja sebagai penerima program, bukan sebagai subjek yang memahami kebutuhan kesehatan mereka sendiri.

"Tugas ini buat Bu (Maria) Endang (Sumiwi, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan), banyak dari mereka yang tidak mengerti sehingga merasa jadi objek saja. Dikasih, ya dikasih gitu saja. Anak-anaknya tidak dilibatkan secara inklusif," ucap Budi.

Budi mengatakan, program TTD terutama ditujukan untuk mencegah anemia pada remaja putri. Kondisi anemia ditandai dengan kadar hemoglobin (Hb) di bawah 12 gram per desiliter (g/dL).

Menurut dia, pencegahan anemia pada remaja putri juga berkaitan dengan kesehatan generasi berikutnya ketika mereka memasuki usia reproduksi.

"Kalau anemia, nanti saat menikah dan punya anak, kemungkinan besar anaknya stunting. Dan tahu tidak apa masalah anak stunting? Bukan hanya pendek, tapi perkembangan intelektualnya jauh di bawah normal," ujar Budi.

Karena itu, Budi menilai intervensi kesehatan untuk mencegah stunting perlu dilakukan jauh sebelum kehamilan, salah satunya dengan memastikan calon ibu tidak mengalami anemia.

Ia mendorong pembentukan Posyandu Remaja serta optimalisasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) agar edukasi mengenai anemia dapat dilakukan secara lebih dekat dengan kehidupan remaja.

Baca juga: Temuan BFA: Konsumsi Ikan Tinggi, Stunting Tak Turun, Salah Kaprah Gizi Sebabnya

Dengan pendekatan tersebut, remaja putri diharapkan tidak sekadar mengonsumsi TTD karena menerima instruksi, tetapi memahami manfaatnya bagi kesehatan mereka sendiri.

"Mereka harus jadi subjek. Mereka tahu kalau nanti menikah, mereka mau anaknya pintar-pintar, tidak mau yang intelektualnya rendah. Oleh karena itu, mereka sadar sendiri tidak boleh anemia," tutur Budi.

Program TTD perlu dievaluasi

Direktur Nasional Wahana Visi Indonesia, Angelina Theodora menilai tingginya angka anemia pada remaja putra dan putri menjadi indikasi bahwa program pencegahan anemia, termasuk pemberian TTD, masih perlu diperkuat.

Menurut Angelina, cakupan pendaftaran CKG memang sudah besar. Namun, masih terdapat kesenjangan antara jumlah anak yang terdaftar dengan jumlah anak yang menjalani pemeriksaan dasar secara lengkap.

Selain itu, manfaat deteksi dini melalui CKG juga belum optimal apabila hasil pemeriksaan tidak diikuti dengan penanganan medis yang memadai.

"Penguatan tindak lanjut CKG Anak juga sejalan dengan upaya pencapaian visi Indonesia Emas 2045 serta Asta Cita ke-4 yang berfokus pada pembangunan sumber daya manusia yang sehat, berkualitas, dan produktif," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Swasta
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
Pemerintah
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Pemerintah
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Pemerintah
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau