KOMPAS.com - Sebuah studi terbaru mengungkapkan garam laut yang dijual di berbagai pasar di Pulau Lombok telah tercemar oleh mikroplastik.
Mikroplastik adalah serpihan plastik sangat kecil yang berasal dari hancurnya sampah plastik besar. Para ilmuwan telah menemukan mikroplastik di hampir semua tempat yang mereka teliti, termasuk di dalam makanan laut dan garam dapur yang memicu kekhawatiran akan dampaknya bagi kesehatan manusia.
Melansir Eco Business, Kamis (13/8/2026) sebagian besar sampah plastik yang berasal dari daratan pada akhirnya terbuang ke laut dan hancur menjadi mikroplastik.
Karena garam laut dibuat dengan cara menguapkan air laut, garam ini sangat mudah tercemar jika air yang digunakan sejak awal sudah mengandung butiran mikroplastik.
Para ilmuwan sendiri memperkirakan ada jutaan ton sampah plastik di lautan, yang menjadikannya sebagai bentuk pencemaran laut yang paling parah saat ini.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Anna Ida Sunaryo Purwiyanto dari Universitas Sriwijaya ini mengumpulkan 20 sampel garam dari para penjual di 10 pasar yang tersebar di Pulau Lombok. Mereka mengekstrak partikel yang berpotensi sebagai mikroplastik dari sampel tersebut dan mengidentifikasinya menggunakan mikroskop stereo.
Baca juga: Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Setiap sampel garam terbukti mengandung mikroplastik. Hal ini menunjukkan adanya pencemaran yang merata di seluruh pasar yang diteliti, catat studi tersebut.
Para peneliti menemukan sedikit perbedaan tingkat pencemaran mikroplastik di beberapa pasar, begitu pula antara garam laut kasar dan garam halus. Namun, hasilnya secara konsisten menunjukkan bahwa bahan baku garam tersebut yaitu air laut di sekitar Pulau Lombok memang telah tercemar mikroplastik.
Para peneliti mencatat bahwa garam laut kasar memiliki kandungan mikroplastik yang lebih tinggi daripada garam halus. Kemungkinan besar hal ini disebabkan karena garam halus telah melalui proses pencucian dan penyaringan yang ikut membuang sebagian partikel mikroplastik.
Mereka menyimpulkan bahwa proses pencucian dan penyaringan tambahan pada garam dapat mengurangi tingkat pencemaran mikroplastik secara lebih maksimal.
“Dari sudut pandang aturan, belum adanya pedoman standar untuk mikroplastik pada produk garam menjadi hambatan utama dalam mengurangi pencemaran mikroplastik],” catat studi tersebut.
Baca juga: Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Memasukkan pemantauan mikroplastik ke dalam standar nasional untuk keamanan pangan dan kualitas garam akan memberikan acuan yang lebih jelas untuk penilaian dan pengawasan.
Tamara Galloway, peneliti mikroplastik dari Universitas Exeter di Inggris yang tidak terlibat dalam penelitian ini menyebut keberadaan mikroplastik pada garam laut sebenarnya sudah diketahui dan dilaporkan sejak beberapa tahun lalu. Temuan dari Pulau Lombok ini makin memperkuat hasil penelitian-penelitian sebelumnya.
“Mengingat massa plastik lebih ringan daripada air laut, kecenderungan plastik untuk mengapung di dekat permukaan sangat mungkin menyebabkan penumpukan di titik-titik lokasi tertentu,” ujar Galloway.
“Risiko bagi kesehatan manusia akibat menelan mikroplastik dalam garam laut sebenarnya sangat kecil, terutama jika dibandingkan dengan banyaknya sumber mikroplastik dan zat berbahaya lainnya yang masuk lewat makanan sehari-hari serta lingkungan kita,” tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya