KOMPAS.com - Riset dari lembaga kajian energi Ember menemukan bahwa produksi energi surya di Eropa melonjak 17 persen selama gelombang panas pada bulan Juni dan Juli 2026.
Tambahan energi matahari ini membantu memenuhi lonjakan kebutuhan listrik akibat penggunaan pendingin ruangan (AC) yang meningkat drastis saat cuaca panas.
Melansir Edie, Jumat (14/8/2026) kenaikan produksi ini antara lain terjadi di Italia (28 persen), Hungaria (23 persen), Prancis (14 persen), dan Spanyol (13 persen) dibandingkan hari-hari sebelum gelombang panas. Kebutuhan puncak listrik juga naik hingga 17 persen di Hungaria, 14 persen di Italia, dan 11 persen di Spanyol.
Keunggulan energi surya saat gelombang panas terletak pada dua hal yakni jumlah daya yang dihasilkan bertambah dan waktunya sangat tepat, yaitu saat puncak penggunaan AC.
Ember mencatat bahwa selama gelombang panas, panel surya atap rumah di Inggris mampu menghasilkan listrik yang cukup untuk menyalakan AC rumah selama lima jam.
Baca juga: Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental
Rumah tangga yang memiliki panel surya dan baterai penyimpan listrik berhasil menghasilkan energi yang cukup untuk kebutuhan rumah mereka sendiri, sekaligus menjual kelebihan listriknya ke jaringan nasional lewat program Smart Export Guarantee (SEG) saat gelombang panas di Inggris akhir Juni lalu.
Lewat program SEG ini, warga mendapat bayaran sekitar 12 p (sekitar Rp2.886) per kilowatt-jam (kWh) dari listrik yang dijual kembali.
Lembaga Uswitch menemukan bahwa rata-rata satu rumah menghasilkan 15,2 kWh listrik per hari selama gelombang panas. Kebanyakan rumah memakai sekitar 10 kWh untuk kebutuhan sendiri, yang artinya mereka berhasil menghemat tagihan listrik rata-rata 2,49 poundsterling (sekitar Rp60.082 ) per hari.
Secara keseluruhan, rata-rata ada 5 kWh listrik yang dijual ke jaringan nasional setiap harinya, menghasilkan tambahan penghematan sebesar 55p (sekitar Rp13.263 ). Selama tujuh hari gelombang panas, total penghematan yang didapat mencapai (sekitar Rp 506.728).
Panel surya menjadi satu-satunya sumber listrik utama yang kinerjanya justru meningkat saat gelombang panas. Pasokan listrik dari pembangkit tenaga nuklir, gas, dan batu bara di Uni Eropa malah terganggu.
Produksi nuklir di Prancis, Rumania, Swiss, dan Hungaria terpaksa dikurangi karena surutnya air di sungai-sungai seperti Sungai Danube, sehingga kekurangan air untuk mendinginkan mesin pembangkit.
Di Inggris, lima pembangkit listrik tenaga gas harus memangkas dayanya hingga 2,5 gigawatt (GW) pada bulan Juni akibat cuaca panas.
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) juga berdampak buruk. Peringatan kekeringan di Eropa Tengah, Timur, dan Barat menyebabkan tujuh dari delapan negara produsen PLTA terbesar di Uni Eropa mencatat produksi di bawah rata-rata 5 tahun terakhir.
Sementara itu harga energi harian rata-rata selama gelombang panas melonjak sekitar 119 persen di Hungaria, 44 persen di Prancis, 13 persen di Italia, dan 7 persen di Spanyol dibandingkan hari-hari biasa. Harga listrik juga sempat melonjak drastis pada awal sore hingga malam hari di beberapa negara.
Baca juga: Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Panas ekstrem berdampak pada semua jenis pembangkit listrik dan berpotensi membatasi pasokan energi. Karena peralatan jaringan listrik memiliki batas suhu, gelombang panas dapat menyebabkan kabel udara menyalurkan lebih sedikit listrik atau membuat trafo mengalami panas berlebih .
Melihat temuan ini, Ember menyatakan bahwa sistem tenaga listrik sangat membutuhkan fleksibilitas yang lebih besar, baik dari penyimpanan baterai, pengaturan penggunaan listrik, maupun peningkatan interkoneksi jaringan antar-negara dan wilayah.
Ember mencatat bahwa penyimpanan baterai juga dapat memperkuat ketahanan energi Uni Eropa selama gelombang panas. Baterai tambahan bisa menyimpan energi surya berbiaya murah untuk digunakan pada malam hari, sehingga cocok dengan kebutuhan pendingin ruangan dan mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
“Lonjakan produksi energi surya membantu menstabilkan jaringan listrik saat sumber energi lain kesulitan beroperasi. Panel surya sudah bekerja keras selama gelombang panas, tetapi tantangan sebenarnya dimulai setelah matahari terbenam. Di malam hari, saat kebutuhan pendingin ruangan masih tinggi, jaringan listrik paling rentan bergantung pada listrik berbahan bakar gas yang mahal,” ungkap Chris Rosslowe, analis energi senior Ember.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya