Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gubernur Pramono: RDF Rorotan Sudah Tak Diprotes Warga

Kompas.com, 27 Agustus 2026, 11:33 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Fasilitas pengelolaan sampah untuk diubah menjadi bahan bakar alternatif, refuse derived fuel (RDF) Plant Rorotan, Jakarta Utara, disebut sekarang sudah jarang diprotes masyarakat sekitar atas polusi bau yang menyengat.

‎Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengenang masa awal beroperasinya RDF Plant Rorotan, ketika masyarakat sekitar sering melontarkan protes akibat aroma tidak sedap yang dihasilkan dari aktivitas pengolahan sampah. Namun, melalui berbagai perbaikan, keluhan tersebut kini hampir tidak terdengar lagi.

‎"Kalau teman-teman yang mengikuti ketika kunjungan saya berkali-kali ke tempat ini, pada waktu itu masyarakat begitu sampai di sini pasti protes karena apa, baunya yang kemudian mengganggu masyarakat yang ada di lokasi terdampak. Tapi sekarang praktis hampir tidak pernah ada protes tentang bau dan juga komplain tentang kenaikan emisinya," ujar Pramono di RDF Plant Rorotan, Jakarta Utara, baru-baru ini.

Baca juga: Hutan Kota Rorotan Jadi Tameng Jakarta Utara dari Polusi dan Gelombang Panas

Fasilitas RDF Plant Rorotan dirancang dengan kapasitas besar, yaitu antara 2.200 hingga 2.400 ton sampah per hari. Untuk menampung volume tersebut, fasilitas RDF Plant Rorotan dilengkapi dengan tiga lini produksi utama.

‎Saat ini, proses pengolahan mulai menunjukkan tren positif, di mana satu lini produksi telah beroperasi secara penuh, dengan kapasitas 800 ton per hari. Sementara itu, lini kedua dan ketiga tengah dalam tahap persiapan untuk diaktifkan sepenuhnya.

‎Meski sistem pengolahan di dalam pabrik sudah berjalan baik, tantangan terberatnya justru muncul dari faktor eksternal yang erat kaitannya dengan akses transportasi. Pramono mengakui bahwa hambatan utama untuk mengoperasikan tiga lini produksi secara bersamaan adalah kelancaran pengiriman sampah menuju ke lokasi.

Belum Optimal

‎Saat ini, jika pasokan sampah yang dikirim ke fasilitas RDF Plant Rorotan masih di angka 1.000 ton, maka hanya satu hingga dua lini produksi saja yang dioptimalkan.

‎"Kalau transportasinya itu tidak ada hambatan, karena problemnya di sini sekarang bukan RDF Rorotan sendiri, tetapi transportasi hilirnya. Membutuhkan transportasi khusus kalau memang bisa sampah di sini setiap harinya bisa 2.000 (ton), maka tiga line itu akan kami operasikan secara bersama-sama. Kalau masih 1.000 (ton) pengiriman sampahnya, maka satu line sekarang line yang pertama ini rata-rata 800 (ton), kami baru gunakan line yang kedua untuk produksi antara 200 (ton) sampai 400 (ton)," tutur Pramono.

‎Kondisi jalan yang sempit dan kurang memadai menuju fasilitas menjadi kendala utama bagi kendaraan pengangkut. Ini berdampak terhadap efisiensi waktu distribusi sampah dari sumber menuju ke fasilitas RDF Plant Rorotan.

‎‎Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Bina Marga akan segera membangun jalan khusus untuk akses truk sampah. Pramono mengonfirmasi bahwa proses pembebasan lahan untuk jalur tersebut telah rampung dilakukan.

‎"Saya sudah meminta kepada Dinas Bina Marga untuk menyelesaikan hal ini. Pembebasan lahan sudah dilakukan, kami segera untuk membangun jalan khusus untuk sarana transportasi menggunakan truk compactor yang menuju dari TPS 3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) ke tempat ini (RDF Plant Rorotan)," ucapnya.

Baca juga: TPA Cipayung Bakal Punya RDF Plant, Pemkot Depok Targetkan Olah 1.000 Ton Sampah per Hari

‎Selain itu, Pramono menginstruksikan seluruh armada pengangkut sampah menuju Rorotan wajib menggunakan truk jenis compactor. Truk ini dirancang tertutup rapat, sehingga tidak membuang air cairan sampah atau air lindi ke jalanan dan tidak menebarkan bau selama perjalanan.

‎"Jadi sangat bergantung transportasinya dan untuk itu saya sudah menginstruksikan semua truk sementara ini harus pakai yang compactor, yang tidak ada pembuangan air lindinya, tidak berbau. Problemnya adalah memang secara jujur kami akui adalah sarananya transportasi," ujar Pramono.

‎Sumber bau di sekitar RDF Plant Rorotan‎

‎Ada berbagai sumber bau di sekitar di RDF Rorotan. Di antaranya, potensi bau sampah, potensi bau produk RDF, potensi bau residu, dan potensi bau instalasi pengelolaan air limbah (air lindi).

‎"Kalau lindi baunya itu berbeda dengan dari residu. Produk RDF agak berbau asam, bukan bau sampah," ujar Kepala Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Agung Pujo Winarko di kantor Kompas.com, Selasa (3/2/2026).

‎Pemprov DKI Jakarta mempunyai alat pemantau bau di lapangan untuk menentukan dari mana sumbernya. Setiap menerima pengaduan dari warga sekitar fasilitas RDF Rorotan, Pemprov DKI Jakarta menerjunkan tim untuk mendeteksi dari mana sumbernya.

‎Bau di sekitar fasilitas RDF juga berpotensi berasal dari penumpukan sedimentasi di banjir kanal timur (BKT), pembuangan sampah ilegal, atau saluran mampat di sekitarnya. "Kadang-kadang kami pun bingung kalau ada bau. Ini baunya dari mana? Tidak ada operasi (di fasilitas RDF), tapi kok bau," tutur Agung.

‎Lalu, sumber bau dari bunker, mesin compacting dehydrator untuk mengurangi kadar air (bau air lindi), mesin press, mesin pencacah sampah, gudang produk RDF, dan gudang residu.

‎Ini diperparah dengan adanya angin yang lumayan kencang sehingga bisa "membawa" bau meluas ke area lain.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PBB Peringatkan Kerugian Akibat Kerusakan Lahan Jauh Melampaui Biaya Restorasi
PBB Peringatkan Kerugian Akibat Kerusakan Lahan Jauh Melampaui Biaya Restorasi
Pemerintah
Transaksi Langkah Membumi Naik Dua Kali Lipat, Minat Produk Ramah Lingkungan Menguat
Transaksi Langkah Membumi Naik Dua Kali Lipat, Minat Produk Ramah Lingkungan Menguat
Swasta
AI Paling Efektif Bantu Pekerja Jika Dipadukan dengan Pengalaman
AI Paling Efektif Bantu Pekerja Jika Dipadukan dengan Pengalaman
Pemerintah
TPST Bantargebang Dibayangi Risiko Kebakaran akibat Gas Metana
TPST Bantargebang Dibayangi Risiko Kebakaran akibat Gas Metana
Pemerintah
Studi: Banyak Kantor Enggan Terapkan Makan Siang Ramah Lingkungan
Studi: Banyak Kantor Enggan Terapkan Makan Siang Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dampak Perubahan Iklim, 560 Juta Anak Dunia Terpapar Panas Ekstrem Tambahan
Dampak Perubahan Iklim, 560 Juta Anak Dunia Terpapar Panas Ekstrem Tambahan
Pemerintah
Perluas Dampak DEB, Pertamina Targetkan 332 Program Berjalan hingga Akhir 2026
Perluas Dampak DEB, Pertamina Targetkan 332 Program Berjalan hingga Akhir 2026
BUMN
Studi: Sistem Akuntansi Pelaporan Emisi Perusahaan Tak Konsisten
Studi: Sistem Akuntansi Pelaporan Emisi Perusahaan Tak Konsisten
Pemerintah
BRIN Sebut Punya Dasar Ilmiah Pemanfaatan Tepung Singkong untuk Pemadaman Karhutla
BRIN Sebut Punya Dasar Ilmiah Pemanfaatan Tepung Singkong untuk Pemadaman Karhutla
LSM/Figur
Studi: Penggunaan Media Sosial Internal Kantor Bisa Tekan 'Turnover' Karyawan
Studi: Penggunaan Media Sosial Internal Kantor Bisa Tekan "Turnover" Karyawan
LSM/Figur
IPB Kembangkan Sorgum Varietas Unggul, Potensi Produksi 5,79 Ton Per Hektare
IPB Kembangkan Sorgum Varietas Unggul, Potensi Produksi 5,79 Ton Per Hektare
Pemerintah
Butuh Pendanaan untuk Proyek Hijau? PLN SustainAction 2026 Siap Danai Inovator Keberlanjutan
Butuh Pendanaan untuk Proyek Hijau? PLN SustainAction 2026 Siap Danai Inovator Keberlanjutan
BUMN
Gubernur Pramono: RDF Rorotan Sudah Tak Diprotes Warga
Gubernur Pramono: RDF Rorotan Sudah Tak Diprotes Warga
Pemerintah
Karhutla dan El Niño Sebabkan Penurunan Produksi Sawit, Program B50 Perlu Ditinjau Ulang
Karhutla dan El Niño Sebabkan Penurunan Produksi Sawit, Program B50 Perlu Ditinjau Ulang
LSM/Figur
J&T Express Olah 146 Kg Seragam Bekas Jadi Produk Baru, Tekan Emisi Karbon
J&T Express Olah 146 Kg Seragam Bekas Jadi Produk Baru, Tekan Emisi Karbon
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau