KOMPAS.com - Penelitian baru dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) menunjukkan bahwa di anak-anak di seluruh dunia menghadapi bahaya tambahan setidaknya satu bulan cuaca panas akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.
Melansir Phys, Rabu (26/8/2026) tingkat paparan pada anak-anak ini jauh melampaui kelompok usia lainnya. Angka ini hampir tiga kali lipat dibanding kelompok lansia usia 60–69 tahun, di mana ada 190 juta orang (30 persen) yang mengalami ancaman kesehatan tambahan ini.
Bahkan jika suhu bumi naik 1,5 derajat C hingga 2 derajat C jumlah anak usia 0–9 tahun yang terkena dampak tambahan sebulan panas berbahaya diperkirakan melonjak masing-masing menjadi 620 juta anak (49 persen) dan 650 juta anak (59 persen).
Baca juga: Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi
Artinya, anak-anak kini menanggung beban yang paling berat akibat cuaca panas lembap yang berbahaya dari perubahan iklim, dan paparan ini diperkirakan akan makin memburuk seiring meningkatnya pemanasan global.
Penelitian ini sendiri merupakan analisis pertama yang mengukur dampak panas ekstrem akibat perubahan iklim terhadap berbagai kelompok usia di seluruh dunia, baik saat ini maupun di masa depan.
Para peneliti menggabungkan data penduduk dengan model iklim canggih untuk melihat peran pemanasan global dalam cuaca ekstrem.
Hasil studi menegaskan bahwa risiko kesehatan akibat perubahan iklim sudah terjadi sekarang dan tidak merata, baik antar generasi maupun antarwilayah.
Peningkatan panas lembap terparah akibat pemanasan global terjadi di daerah tropis dan negara-negara miskin, tempat di mana mayoritas penduduknya berusia muda sehingga berdampak ke lebih banyak anak-anak.
Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Barat menjadi wilayah dengan jumlah anak terbanyak yang terancam panas berbahaya saat ini.
Sementara skenario masa depan menunjukkan anak-anak akan tetap menjadi kelompok yang paling dirugikan dibandingkan kelompok usia lainnya, terlepas dari makin banyaknya jumlah penduduk lansia di dunia.
Pada skenario kenaikan suhu 1,5 derajat C, diperkirakan 620 juta anak (49 persen) usia 0–9 tahun akan mengalami tambahan setidaknya satu bulan cuaca panas ekstrem setiap tahunnya, dan 390 juta anak (31 persen) akan mengalami total 5 bulan cuaca panas ekstrem.
Pada skenario kenaikan suhu 2 derajat C, diperkirakan 650 million anak (59 persen) usia 0–9 tahun akan mengalami tambahan setidaknya satu bulan cuaca panas ekstrem setiap tahunnya, dan 420 juta anak (37 persen) akan mengalami total 5 bulan cuaca panas ekstrem.
Panas yang berlebihan dapat mengganggu cara kerja tubuh manusia, memperparah penyakit yang sudah ada, dan menyebabkan masalah kesehatan serius seperti serangan panas, dehidrasi, hingga kerusakan organ.
Baca juga: Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Gelombang panas yang membahayakan ini makin sering terjadi dan makin parah akibat perubahan iklim, yang utamanya dipicu oleh pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak, batu bara, dan gas.
Studi ini berfokus pada panas yang lembap, yang jauh lebih berbahaya daripada panas yang kering. Panas lembap menghambat kemampuan tubuh untuk mengeluarkan keringat dan mendinginkan diri, sehingga memicu stres akibat panas pada tingkat yang berbahaya.
Anak-anak sangat rentan terhadap panas ekstrem karena tubuh mereka memanas lebih cepat dibanding orang dewasa, belum bisa berkeringat secara efektif, dan masih bergantung pada pengasuhan orang dewasa.
Panas berlebihan dapat menimbulkan risiko kesehatan yang parah pada anak, termasuk dehidrasi dan serangan panas yang berbahaya, serta mengganggu kemampuan belajar dan perkembangan otak mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya