Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Perubahan Iklim, 560 Juta Anak Dunia Terpapar Panas Ekstrem Tambahan

Kompas.com, 27 Agustus 2026, 21:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Penelitian baru dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) menunjukkan bahwa di anak-anak di seluruh dunia menghadapi bahaya tambahan setidaknya satu bulan cuaca panas  akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

Melansir Phys, Rabu (26/8/2026) tingkat paparan pada anak-anak ini jauh melampaui kelompok usia lainnya. Angka ini hampir tiga kali lipat dibanding kelompok lansia usia 60–69 tahun, di mana ada 190 juta orang (30 persen) yang mengalami ancaman kesehatan tambahan ini.

Bahkan jika suhu bumi naik 1,5 derajat C hingga 2 derajat C jumlah anak usia 0–9 tahun yang terkena dampak tambahan sebulan panas berbahaya diperkirakan melonjak masing-masing menjadi 620 juta anak (49 persen) dan 650 juta anak (59 persen).

Baca juga: Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi

Artinya, anak-anak kini menanggung beban yang paling berat akibat cuaca panas lembap yang berbahaya dari perubahan iklim, dan paparan ini diperkirakan akan makin memburuk seiring meningkatnya pemanasan global.

Penelitian ini sendiri merupakan analisis pertama yang mengukur dampak panas ekstrem akibat perubahan iklim terhadap berbagai kelompok usia di seluruh dunia, baik saat ini maupun di masa depan.

Para peneliti menggabungkan data penduduk dengan model iklim canggih untuk melihat peran pemanasan global dalam cuaca ekstrem.

Hasil studi menegaskan bahwa risiko kesehatan akibat perubahan iklim sudah terjadi sekarang dan tidak merata, baik antar generasi maupun antarwilayah.

Skenario masa depan

Peningkatan panas lembap terparah akibat pemanasan global terjadi di daerah tropis dan negara-negara miskin, tempat di mana mayoritas penduduknya berusia muda sehingga berdampak ke lebih banyak anak-anak.

Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Barat menjadi wilayah dengan jumlah anak terbanyak yang terancam panas berbahaya saat ini.

Sementara skenario masa depan menunjukkan anak-anak akan tetap menjadi kelompok yang paling dirugikan dibandingkan kelompok usia lainnya, terlepas dari makin banyaknya jumlah penduduk lansia di dunia.

Pada skenario kenaikan suhu 1,5 derajat C, diperkirakan 620 juta anak (49 persen) usia 0–9 tahun akan mengalami tambahan setidaknya satu bulan cuaca panas ekstrem setiap tahunnya, dan 390 juta anak (31 persen) akan mengalami total 5 bulan cuaca panas ekstrem.

Pada skenario kenaikan suhu 2 derajat C, diperkirakan 650 million anak (59 persen) usia 0–9 tahun akan mengalami tambahan setidaknya satu bulan cuaca panas ekstrem setiap tahunnya, dan 420 juta anak (37 persen) akan mengalami total 5 bulan cuaca panas ekstrem.

Panas yang berlebihan dapat mengganggu cara kerja tubuh manusia, memperparah penyakit yang sudah ada, dan menyebabkan masalah kesehatan serius seperti serangan panas, dehidrasi, hingga kerusakan organ.

Baca juga: Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan

Gelombang panas yang membahayakan ini makin sering terjadi dan makin parah akibat perubahan iklim, yang utamanya dipicu oleh pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak, batu bara, dan gas.

Studi ini berfokus pada panas yang lembap, yang jauh lebih berbahaya daripada panas yang kering. Panas lembap menghambat kemampuan tubuh untuk mengeluarkan keringat dan mendinginkan diri, sehingga memicu stres akibat panas pada tingkat yang berbahaya.

Anak-anak sangat rentan terhadap panas ekstrem karena tubuh mereka memanas lebih cepat dibanding orang dewasa, belum bisa berkeringat secara efektif, dan masih bergantung pada pengasuhan orang dewasa.

Panas berlebihan dapat menimbulkan risiko kesehatan yang parah pada anak, termasuk dehidrasi dan serangan panas yang berbahaya, serta mengganggu kemampuan belajar dan perkembangan otak mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transaksi Langkah Membumi Naik Dua Kali Lipat, Minat Produk Ramah Lingkungan Menguat
Transaksi Langkah Membumi Naik Dua Kali Lipat, Minat Produk Ramah Lingkungan Menguat
Swasta
AI Paling Efektif Bantu Pekerja Jika Dipadukan dengan Pengalaman
AI Paling Efektif Bantu Pekerja Jika Dipadukan dengan Pengalaman
Pemerintah
TPST Bantargebang Dibayangi Risiko Kebakaran akibat Gas Metana
TPST Bantargebang Dibayangi Risiko Kebakaran akibat Gas Metana
Pemerintah
Studi: Banyak Kantor Enggan Terapkan Makan Siang Ramah Lingkungan
Studi: Banyak Kantor Enggan Terapkan Makan Siang Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dampak Perubahan Iklim, 560 Juta Anak Dunia Terpapar Panas Ekstrem Tambahan
Dampak Perubahan Iklim, 560 Juta Anak Dunia Terpapar Panas Ekstrem Tambahan
Pemerintah
Perluas Dampak DEB, Pertamina Targetkan 332 Program Berjalan hingga Akhir 2026
Perluas Dampak DEB, Pertamina Targetkan 332 Program Berjalan hingga Akhir 2026
BUMN
Studi: Sistem Akuntansi Pelaporan Emisi Perusahaan Tak Konsisten
Studi: Sistem Akuntansi Pelaporan Emisi Perusahaan Tak Konsisten
Pemerintah
BRIN Sebut Punya Dasar Ilmiah Pemanfaatan Tepung Singkong untuk Pemadaman Karhutla
BRIN Sebut Punya Dasar Ilmiah Pemanfaatan Tepung Singkong untuk Pemadaman Karhutla
LSM/Figur
Studi: Penggunaan Media Sosial Internal Kantor Bisa Tekan 'Turnover' Karyawan
Studi: Penggunaan Media Sosial Internal Kantor Bisa Tekan "Turnover" Karyawan
LSM/Figur
IPB Kembangkan Sorgum Varietas Unggul, Potensi Produksi 5,79 Ton Per Hektare
IPB Kembangkan Sorgum Varietas Unggul, Potensi Produksi 5,79 Ton Per Hektare
Pemerintah
Butuh Pendanaan untuk Proyek Hijau? PLN SustainAction 2026 Siap Danai Inovator Keberlanjutan
Butuh Pendanaan untuk Proyek Hijau? PLN SustainAction 2026 Siap Danai Inovator Keberlanjutan
BUMN
Gubernur Pramono: RDF Rorotan Sudah Tak Diprotes Warga
Gubernur Pramono: RDF Rorotan Sudah Tak Diprotes Warga
Pemerintah
Karhutla dan El Niño Sebabkan Penurunan Produksi Sawit, Program B50 Perlu Ditinjau Ulang
Karhutla dan El Niño Sebabkan Penurunan Produksi Sawit, Program B50 Perlu Ditinjau Ulang
LSM/Figur
J&T Express Olah 146 Kg Seragam Bekas Jadi Produk Baru, Tekan Emisi Karbon
J&T Express Olah 146 Kg Seragam Bekas Jadi Produk Baru, Tekan Emisi Karbon
Swasta
Kelestarian Hutan Tropis Bergantung pada Aktivitas Mamalia Besar
Kelestarian Hutan Tropis Bergantung pada Aktivitas Mamalia Besar
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau