Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Sistem Akuntansi Pelaporan Emisi Perusahaan Tak Konsisten

Kompas.com, 27 Agustus 2026, 15:01 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Secara teori, sebuah perusahaan bisa terlihat memangkas setengah dari jejak karbon di rantai pasokannya hanya dengan mengubah cara menghitung emisi, menurut sebuah penelitian baru.

Melansir Eco Business, Senin (24/8/2026) para peneliti menemukan bahwa perbedaan dalam metode akuntansi yang diakui dapat mengubah cara perusahaan mengolah angka-angka iklim mereka. Hal ini membuat masyarakat sulit membedakan mana pengurangan emisi yang nyata dan mana yang hanya hasil perbedaan cara menghitung.

"Dalam sistem yang berlaku saat ini, sangat mungkin bagi sebuah perusahaan untuk terlihat sebagai pelopor iklim atau justru menjadi perusak lingkungan, hanya bergantung pada angka mana yang mereka pilih," kata penulis utama Ramana Gudipudi, dosen tamu di European School of Management and Technology, Jerman.

Analisis yang diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability ini meneliti 401 perusahaan Eropa.

Hasilnya menunjukkan bahwa 62,5 persen dari perubahan angka emisi rantai pasokan mereka dari tahun ke tahun tidak dapat dijelaskan oleh perubahan bisnis, industri, maupun tingkat emisi yang sebenarnya. Sebaliknya, perhitungan emisi langsung perusahaan hanya bervariasi sedikit di atas 5 persen.

Baca juga: Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai

Gudipudi mengatakan bahwa perusahaan sering kali hanya mengumumkan angka akhir tanpa membagikan bagaimana cara mereka mendapatkan angka tersebut. Kurangnya transparansi, ditambah banyaknya pilihan rumus dan data pembanding, membuat tindakan nyata dalam mengurangi emisi menjadi samar dan sulit dipastikan.

"Kita benar-benar tidak tahu apakah ada pengurangan emisi yang sungguh-sungguh terjadi atau tidak. Memang ada perusahaan yang benar-benar melakukan hal baik, saya tidak bilang tidak ada. Namun untuk saat ini, kita tidak bisa memastikannya," paparnya.

Untuk membuktikan betapa tidak konsistennya laporan emisi karbon, para peneliti membuat eksperimen menggunakan simulasi perusahaan makanan dan minuman. Perusahaan ini diberikan daftar belanjaan tetap dengan jumlah ayam, susu, telur, dan gandum yang sama persis.

Para peneliti kemudian menghitung jejak karbon dari daftar belanjaan yang sama tersebut menggunakan empat basis data ilmiah berbeda yang paling sering dipakai di industri.

Hasilnya, basis data A mencatat jejak karbon sebesar 1,7 juta ton metrik, sementara basis data D mencatat 3,5 juta ton metrik padahal tidak ada perbedaan bahan maupun rantai pasokan sama sekali di antara keduanya.

Baca juga: Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon

Secara teori, sebuah perusahaan bisa saja memakai basis data A pada tahun pertama, lalu berganti menggunakan basis data D pada tahun berikutnya.

Trik ini membuat mereka seolah-olah berhasil memangkas emisi lebih dari 50 persen, padahal masyarakat tidak tahu bahwa perubahan angka tersebut berasal dari pergantian basis data, bukan karena pengurangan emisi yang sebenarnya.

"Jika metode akuntansi tidak diatur dengan lebih baik, aksi nyata bisa tertutup oleh "kebisingan" data pembukuan," kata Gudipudi.

Untuk mengatasi kebingungan ini, para penulis studi mengusulkan kerangka kerja baru yang menetapkan aturan universal.

Aturan ini mengharuskan setiap perusahaan dalam satu industri mengukur jejak karbon dengan cara yang sama, serta memakai alat bantu matematika untuk memastikan apakah emisi benar-benar turun karena tindakan nyata di lapangan atau sekadar trik akuntansi yang cerdik.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi: Sistem Akuntansi Pelaporan Emisi Perusahaan Tak Konsisten
Studi: Sistem Akuntansi Pelaporan Emisi Perusahaan Tak Konsisten
Pemerintah
BRIN Sebut Punya Dasar Ilmiah Pemanfaatan Tepung Singkong untuk Pemadaman Karhutla
BRIN Sebut Punya Dasar Ilmiah Pemanfaatan Tepung Singkong untuk Pemadaman Karhutla
LSM/Figur
Studi: Penggunaan Media Sosial Internal Kantor Bisa Tekan 'Turnover' Karyawan
Studi: Penggunaan Media Sosial Internal Kantor Bisa Tekan "Turnover" Karyawan
LSM/Figur
IPB Kembangkan Sorgum Varietas Unggul, Potensi Produksi 5,79 Ton Per Hektare
IPB Kembangkan Sorgum Varietas Unggul, Potensi Produksi 5,79 Ton Per Hektare
Pemerintah
Butuh Pendanaan untuk Proyek Hijau? PLN SustainAction 2026 Siap Danai Inovator Keberlanjutan
Butuh Pendanaan untuk Proyek Hijau? PLN SustainAction 2026 Siap Danai Inovator Keberlanjutan
BUMN
Gubernur Pramono: RDF Rorotan Sudah Tak Diprotes Warga
Gubernur Pramono: RDF Rorotan Sudah Tak Diprotes Warga
Pemerintah
Karhutla dan El Niño Sebabkan Penurunan Produksi Sawit, Program B50 Perlu Ditinjau Ulang
Karhutla dan El Niño Sebabkan Penurunan Produksi Sawit, Program B50 Perlu Ditinjau Ulang
LSM/Figur
J&T Express Olah 146 Kg Seragam Bekas Jadi Produk Baru, Tekan Emisi Karbon
J&T Express Olah 146 Kg Seragam Bekas Jadi Produk Baru, Tekan Emisi Karbon
Swasta
Kelestarian Hutan Tropis Bergantung pada Aktivitas Mamalia Besar
Kelestarian Hutan Tropis Bergantung pada Aktivitas Mamalia Besar
Pemerintah
Ekonomi Hijau Dunia Cetak Rekor Rp 176 Kuadriliun pada 2025
Ekonomi Hijau Dunia Cetak Rekor Rp 176 Kuadriliun pada 2025
Pemerintah
Pertamina Eco RunFest 2026 Hadirkan 7 Inisiatif Keberlanjutan, dari Daur Ulang hingga Pengelolaan Sampah
Pertamina Eco RunFest 2026 Hadirkan 7 Inisiatif Keberlanjutan, dari Daur Ulang hingga Pengelolaan Sampah
BUMN
Perusahaan, Regulator, dan Stakeholder Membentuk Arah Pelaporan Keberlanjutan
Perusahaan, Regulator, dan Stakeholder Membentuk Arah Pelaporan Keberlanjutan
Pemerintah
Jasa Ekosistem Hutan Belum Dihitung, Pakar Dorong Valuasi dalam Tata Ruang
Jasa Ekosistem Hutan Belum Dihitung, Pakar Dorong Valuasi dalam Tata Ruang
Pemerintah
Indonesia Siapkan RPP Pengelolaan Sumber Daya Genetik, Kehancuran Ekonomi Jadi Konsekuensi Kerusakan Alam
Indonesia Siapkan RPP Pengelolaan Sumber Daya Genetik, Kehancuran Ekonomi Jadi Konsekuensi Kerusakan Alam
Pemerintah
Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun
Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau