KOMPAS.com – Di Nagari Talao Sungai Kunyit, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, sebanyak 60 anak sekolah dasar (SD) mengisi waktu luang dengan cara berlatih sepak bola bersama di Sekolah Sepak Bola (SSB) Kolonal.
Setahun berjalan, SSB Kolonal menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan minat dan bakat sepak bola sekaligus menjalani aktivitas yang lebih sehat.
Program tersebut merupakan bagian dari corporate social responsibility (CSR) PT Kencana Sawit Indonesia (KSI), Wilmar Group.
Mayoritas anggota SSB Kolonal berusia 11 hingga 12 tahun. Mereka mengikuti latihan sebanyak tiga kali dalam sepekan, masing-masing sekitar dua jam, tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Anak-anak hanya perlu menyediakan seragam latihan, sementara sejumlah perlengkapan seperti bola berasal dari sumbangan para karyawan perusahaan.
Anak-anak SSB Kolonal berlatih menggiring bola dalam sesi latihan rutin yang digelar tiga kali sepekan.Di balik kegiatan tersebut, ada Yasril Awan, karyawan PT KSI yang sehari-hari bekerja sebagai civil engineer. Ia merupakan penggagas SSB Kolonal sekaligus pelatih (coach) bagi anak-anak.
Menurut Yasril, ide mendirikan SSB berangkat dari keinginan menyediakan aktivitas positif bagi anak-anak di sekitar wilayah operasional perusahaan.
“Sepak bola bukan hanya tentang bermain dan berkompetisi, tetapi juga mengajarkan kedisiplinan, kerja sama, sportivitas, dan pola hidup sehat,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Jumat (28/8/2026).
Anak-anak SSB Kolonal melakukan peregangan sebelum memulai sesi latihan sepak bola.Selain rutin berlatih, anak-anak SSB Kolonal juga mulai mengikuti sejumlah turnamen sepak bola tingkat Kabupaten Solok Selatan.
Mereka pun menyimpan mimpi yang lebih besar, yakni membawa nama Solok Selatan hingga Sumatera Barat dan nasional dalam kompetisi sepak bola usia dini.
Yasril berharap, SSB Kolonal dapat melahirkan bibit-bibit pesepak bola yang bisa berprestasi.
“Hal paling penting adalah anak-anak mendapatkan pengalaman, belajar bekerja sama, dan tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan disiplin,” ujarnya.
Bagi Yasril, eksistensi SSB Kolonal bukan hanya tentang mencetak pemain sepak bola, melaikan menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar, berinteraksi, dan mengembangkan potensi mereka sejak dini.
“Harapannya, aktivitas tersebut tidak hanya mengasah talenta anak-anak, tetapi juga membantu menyiapkan mereka menjadi generasi masa depan yang unggul,” ujarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya