KOMPAS.com - Antarktika memang sangat jauh dari pemukiman manusia, namun benua ini punya peran penting bagi iklim global.
Antartika dan lautan di sekelilingnya bertindak sebagai "pengendali" sistem iklim dunia. Wilayah ini memantulkan sinar matahari, menyerap panas dan karbon ke dalam dasar laut, serta menyimpan cukup es yang sanggup mengubah seluruh garis pantai di bumi jika mencair.
Sayangnya, beberapa pengendali iklim ini mulai bergeser.
Melansir Earth, Selasa (18/8/2026) penelitian dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa Antarktika tidak sekadar mengalami pemanasan, melainkan mulai berubah cara kerjanya. Para ilmuwan kini menggambarkan bahwa Antarktika telah berubah kondisi dan lapisan esnya bereaksi secara terpisah-pisah, bukan lagi sebagai satu bongkahan utuh.
Es laut menjalankan peran paling sederhana dalam sistem ini. Permukaannya yang putih dan cerah memantulkan kembali sinar matahari ke luar angkasa sebelum diserap oleh laut di bawahnya. Sebaliknya, permukaan air laut yang gelap akan menyerap energi matahari dan menghangatkan udara di atasnya.
Baca juga: Pencairan Es Antartika Ubah Sirkulasi Laut dan Pengaturan Iklim Global
Perubahan es setiap musim sangatlah besar. Sekitar 15 juta kilometer persegi es terbentuk lalu mencair di sekitar Antarktika setiap tahunnya, menjadi salah satu perubahan alam terbesar yang rutin terjadi di permukaan bumi.
Namun, pembentukan es tersebut kini berada di bawah rata-rata. Pada 21 Februari 2023, es laut Antarktika menyusut hingga menyisa 1,79 juta kilometer persegi.
National Snow and Ice Data Center mencatat angka tersebut sebagai yang terendah sejak pemantauan satelit dimulai pada tahun 1979. Pembentukan es di musim dingin pada September tahun itu juga mencetak rekor terendah.
Bahkan, empat rekor es tersedikit di musim panas terjadi sejak tahun 2022. Sejak saat itu, para peneliti terus berdiskusi tentang apa arti penurunan drastis ini bagi iklim dunia.
Sebuah tim peneliti internasional menemukan penyebabnya pada bulan Mei 2026. Angin dari arah barat yang semakin kuat, akibat emisi gas rumah kaca dan lubang ozon menarik air laut yang hangat dan asin naik ke permukaan. Percampuran air ini melepaskan panas, dan suhu hangat di permukaan laut membuat es baru lebih sulit terbentuk.
"Sistemnya berubah total," ujar Dr. Aditya Narayanan dari University of Southampton, pemimpin penelitian tersebut.
Normalnya, lapisan air di Antarktika berfungsi seperti "tutup". Air yang dingin dan lebih tawar berada di atas air yang lebih hangat dan asin, sehingga menahan panas tetap berada di dasar laut.
Namun, tim menemukan bahwa "tutup" pelindung ini melemah karena air permukaan menjadi lebih asin. Akibatnya, arus air dalam yang hangat bisa naik dan mencairkan es dari bawah.
Matthew England, ahli laut dari UNSW Sydney yang juga terlibat dalam penelitian ini, menjelaskan apa arti temuan tersebut.
"Ini bukan sekadar masalah suhu udara yang memanas," ungkap England.
Baca juga: Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Penelitian ini juga membagi wilayah benua tersebut menjadi dua karena kondisinya berbeda. Di sekitar Antarktika Timur, es mencair terutama karena naiknya panas dari dasar lautan. Namun, di Antarktika Barat, yang terjadi justru sebaliknya.
Awan tebal yang membawa udara hangat dari wilayah subtropis memerangkap panas di lautan, sehingga mencairkan es dari atas. Dampak ini mencapai puncaknya pada musim panas tahun 2016 dan 2019.
Angin, awan, es laut, dan arus lautan saling memengaruhi dan memperkuat satu sama lain. Keterkaitan inilah yang menjelaskan mengapa perubahan es di Antarktika terjadi sangat tiba-tiba, bukan perlahan-lahan.
Es laut Antarktika tidak hanya berfungsi memantulkan cahaya. Saat es terbentuk, ia meninggalkan garam di dalam air di bawahnya. Air asin yang sangat dingin dan berat ini kemudian tenggelam ke dasar laut.
Proses tenggelamnya air ini menggerakkan sirkulasi arus laut global, seperti ban berjalan raksasa yang mengalirkan air, panas, dan karbon di seluruh samudra bumi.
Sekitar 40 persen gas karbon dioksida yang diserap laut dari emisi manusia masuk melalui kawasan selatan bumi ini, padahal wilayahnya kurang dari sepertiga luas permukaan laut dunia.
Peran ini sangat penting. Laut secara keseluruhan telah menyerap sekitar seperempat dari seluruh emisi yang dihasilkan manusia, dan jika Samudra Selatan melemah, lebih banyak karbon yang akan terlepas kembali ke udara. Berbagai studi telah menunjukkan bahwa pembersih karbon alami bumi kini mulai kewalahan.
Semakin sedikit es laut yang terbentuk, semakin sedikit air asin yang dihasilkan, dan semakin lambat pula proses tenggelamnya air tersebut.
Burung pelikan atau penguin kaisar membutuhkan es tebal yang stabil dari bulan April hingga Desember untuk membesarkan anak-anak mereka. Penurunan jumlah es yang parah pada tahun 2022 hingga 2024 menyebabkan anak-anak penguin tenggelam sebelum sempat menumbuhkan bulu kedap air.
Baca juga: PBB Sebut Kerja Sama Iklim Global Terancam, Ajak Negara untuk Bersatu
Udang krill, paus, dan industri perikanan juga sangat bergantung pada area pinggiran es ini. Bahkan, satu bongkahan es raksasa yang kandas saja bisa mengubah pola air laut di sekitarnya, seperti yang ditemukan para peneliti saat memantau bongkahan es raksasa A-68A.
Namun, dampak global yang dirasakan manusia mengalir melalui lautan, bukan lewat satwa liar. Lemahnya sirkulasi arus laut membuat pembagian panas menjadi tidak merata di seluruh samudra.
Air laut yang hangat menjangkau lapisan es di tepi pantai dan menghancurkan penahan alami yang menahan laju gletser menuju laut. Akibatnya, permukaan air laut meningkat di garis-garis pantai yang letaknya berjarak ribuan mil dari es yang mencair tersebut.
Apakah perubahan ini akan berlanjut masih menjadi pertanyaan. Es laut Antarktika memang sempat pulih mendekati rata-rata pada musim panas tahun 2026. Namun, para ilmuwan yang melihat pemulihan tersebut sangat berhati-hati dan belum berani menyimpulkan bahwa kondisi telah kembali normal seperti dulu.
Model komputer memang berhasil memprediksi penurunan es, tetapi gagal memperkirakan waktu, kecepatan, dan perbedaan kondisi per wilayahnya, membuat para ahli kini harus bekerja dengan sistem prediksi yang pernah meleset sebelumnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya