Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Tegaskan Pentingnya Peran Antarktika Bagi Iklim Global

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 09:54 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Antarktika memang sangat jauh dari pemukiman manusia, namun benua ini punya peran penting bagi iklim global.

Antartika dan lautan di sekelilingnya bertindak sebagai "pengendali" sistem iklim dunia. Wilayah ini memantulkan sinar matahari, menyerap panas dan karbon ke dalam dasar laut, serta menyimpan cukup es yang sanggup mengubah seluruh garis pantai di bumi jika mencair.

Sayangnya, beberapa pengendali iklim ini mulai bergeser.

Melansir Earth, Selasa (18/8/2026) penelitian dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa Antarktika tidak sekadar mengalami pemanasan, melainkan mulai berubah cara kerjanya. Para ilmuwan kini menggambarkan bahwa Antarktika telah berubah kondisi dan lapisan esnya bereaksi secara terpisah-pisah, bukan lagi sebagai satu bongkahan utuh.

Permukaan cerah bantu dinginkan Bumi

Es laut menjalankan peran paling sederhana dalam sistem ini. Permukaannya yang putih dan cerah memantulkan kembali sinar matahari ke luar angkasa sebelum diserap oleh laut di bawahnya. Sebaliknya, permukaan air laut yang gelap akan menyerap energi matahari dan menghangatkan udara di atasnya.

Baca juga: Pencairan Es Antartika Ubah Sirkulasi Laut dan Pengaturan Iklim Global

Perubahan es setiap musim sangatlah besar. Sekitar 15 juta kilometer persegi es terbentuk lalu mencair di sekitar Antarktika setiap tahunnya, menjadi salah satu perubahan alam terbesar yang rutin terjadi di permukaan bumi.

Namun, pembentukan es tersebut kini berada di bawah rata-rata. Pada 21 Februari 2023, es laut Antarktika menyusut hingga menyisa 1,79 juta kilometer persegi.

National Snow and Ice Data Center mencatat angka tersebut sebagai yang terendah sejak pemantauan satelit dimulai pada tahun 1979. Pembentukan es di musim dingin pada September tahun itu juga mencetak rekor terendah.

Bahkan, empat rekor es tersedikit di musim panas terjadi sejak tahun 2022. Sejak saat itu, para peneliti terus berdiskusi tentang apa arti penurunan drastis ini bagi iklim dunia.

Sebuah tim peneliti internasional menemukan penyebabnya pada bulan Mei 2026. Angin dari arah barat yang semakin kuat, akibat emisi gas rumah kaca dan lubang ozon menarik air laut yang hangat dan asin naik ke permukaan. Percampuran air ini melepaskan panas, dan suhu hangat di permukaan laut membuat es baru lebih sulit terbentuk.

"Sistemnya berubah total," ujar Dr. Aditya Narayanan dari University of Southampton, pemimpin penelitian tersebut.

Normalnya, lapisan air di Antarktika berfungsi seperti "tutup". Air yang dingin dan lebih tawar berada di atas air yang lebih hangat dan asin, sehingga menahan panas tetap berada di dasar laut.

Namun, tim menemukan bahwa "tutup" pelindung ini melemah karena air permukaan menjadi lebih asin. Akibatnya, arus air dalam yang hangat bisa naik dan mencairkan es dari bawah.

Matthew England, ahli laut dari UNSW Sydney yang juga terlibat dalam penelitian ini, menjelaskan apa arti temuan tersebut.

"Ini bukan sekadar masalah suhu udara yang memanas," ungkap England.

Baca juga: Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir

Penelitian ini juga membagi wilayah benua tersebut menjadi dua karena kondisinya berbeda. Di sekitar Antarktika Timur, es mencair terutama karena naiknya panas dari dasar lautan. Namun, di Antarktika Barat, yang terjadi justru sebaliknya.

Awan tebal yang membawa udara hangat dari wilayah subtropis memerangkap panas di lautan, sehingga mencairkan es dari atas. Dampak ini mencapai puncaknya pada musim panas tahun 2016 dan 2019.

Angin, awan, es laut, dan arus lautan saling memengaruhi dan memperkuat satu sama lain. Keterkaitan inilah yang menjelaskan mengapa perubahan es di Antarktika terjadi sangat tiba-tiba, bukan perlahan-lahan.

Penyerapan panas dan karbon mulai terhenti

Es laut Antarktika tidak hanya berfungsi memantulkan cahaya. Saat es terbentuk, ia meninggalkan garam di dalam air di bawahnya. Air asin yang sangat dingin dan berat ini kemudian tenggelam ke dasar laut.

Proses tenggelamnya air ini menggerakkan sirkulasi arus laut global, seperti ban berjalan raksasa yang mengalirkan air, panas, dan karbon di seluruh samudra bumi.

Sekitar 40 persen gas karbon dioksida yang diserap laut dari emisi manusia masuk melalui kawasan selatan bumi ini, padahal wilayahnya kurang dari sepertiga luas permukaan laut dunia.

Peran ini sangat penting. Laut secara keseluruhan telah menyerap sekitar seperempat dari seluruh emisi yang dihasilkan manusia, dan jika Samudra Selatan melemah, lebih banyak karbon yang akan terlepas kembali ke udara. Berbagai studi telah menunjukkan bahwa pembersih karbon alami bumi kini mulai kewalahan.

Semakin sedikit es laut yang terbentuk, semakin sedikit air asin yang dihasilkan, dan semakin lambat pula proses tenggelamnya air tersebut.

Pantai yang jauh merasakan dampaknya

Burung pelikan atau penguin kaisar membutuhkan es tebal yang stabil dari bulan April hingga Desember untuk membesarkan anak-anak mereka. Penurunan jumlah es yang parah pada tahun 2022 hingga 2024 menyebabkan anak-anak penguin tenggelam sebelum sempat menumbuhkan bulu kedap air.

Baca juga: PBB Sebut Kerja Sama Iklim Global Terancam, Ajak Negara untuk Bersatu

Udang krill, paus, dan industri perikanan juga sangat bergantung pada area pinggiran es ini. Bahkan, satu bongkahan es raksasa yang kandas saja bisa mengubah pola air laut di sekitarnya, seperti yang ditemukan para peneliti saat memantau bongkahan es raksasa A-68A.

Namun, dampak global yang dirasakan manusia mengalir melalui lautan, bukan lewat satwa liar. Lemahnya sirkulasi arus laut membuat pembagian panas menjadi tidak merata di seluruh samudra.

Air laut yang hangat menjangkau lapisan es di tepi pantai dan menghancurkan penahan alami yang menahan laju gletser menuju laut. Akibatnya, permukaan air laut meningkat di garis-garis pantai yang letaknya berjarak ribuan mil dari es yang mencair tersebut.

Apakah perubahan ini akan berlanjut masih menjadi pertanyaan. Es laut Antarktika memang sempat pulih mendekati rata-rata pada musim panas tahun 2026. Namun, para ilmuwan yang melihat pemulihan tersebut sangat berhati-hati dan belum berani menyimpulkan bahwa kondisi telah kembali normal seperti dulu.

Model komputer memang berhasil memprediksi penurunan es, tetapi gagal memperkirakan waktu, kecepatan, dan perbedaan kondisi per wilayahnya, membuat para ahli kini harus bekerja dengan sistem prediksi yang pernah meleset sebelumnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau